Ide : Dari Mana Aku Harus Mulai Menulis?

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan (QS Al ‘Alaq: 1)

“Aduh, lagi nggak ada ide nih! “

“Uh, buntu banget nih, kayaknya aku kena writer’s block deh, aku nggak bisa ngelanjutin tulisannya!”

Siapa yang sering mengalami hal-hal seperti di atas? Toss, kita sama! Hihi. Berbicara tentang ide, saya jadi teringat saat mengikuti sharing session di Kelas Minat Menulis Ibu Profesional. Saat itu, mak Sheila Ulfia Putri selaku narasumber, kurang lebih menyampaikan bahwa ide itu bukan dicari, melainkan kitalah yang perlu memantaskan diri agar ide datang menghampiri.

Sebelum berbicara tentang bagaimana cara memantaskan diri, coba deh kita jawab dulu, sebenarnya, siapa sih pemberi ide itu? Siapa yang bisa memberikan kita inspirasi, hingga akhirnya kita mampu menuangkannya dalam tulisan? Jawabannya, tentu saja adalah Ia, yang memiliki alam semesta ini. Allah-lah, yang memberikan kita kemampuan untuk bisa menulis. Itu sebabnya, jika salah satu tips agar bisa mendapatkan ide adalah dengan membaca, maka ingatlah selalu surat Al Alaq, bahwa kita bukan hanya disuruh membaca, melainkan, membaca dengan menyebut nama Allah yang Menciptakan. Pernah ngerasain kan (ini saya sih), meskipun kita udah baca berjilid-jilid, tapi nggak ada yang nyantol? Ya, sebab yang bisa membuat kita itu paham, bukan semata-mata usaha kita, tapi juga karena pertolongan Allah. Jadi, jangan sampai lupa hal pertama ini. Kunci segala kunci adalah minta tolong sama Allah.

Nah, setelah minta tolong, barulah kita ikat untanya, alias berusaha. Apa saja sih bentuk usaha yang bisa kita lakukan agar ide ini datang menghampiri? Salah satu cara yang tadi sudah saya bahas, adalah dengan membaca. Sebab, membaca ini memang amunisinya orang menulis. Bukan hanya membaca buku, tapi juga bisa membaca orang, situasi, alam dan segala kejadian di bumi ini. Contohnya, ketika saya menulis ini, berawal dari membaca pertanyaan “gimana sih caranya mengatasi writer’s block?” Karena pernah mengalami, saya jadi merasa perlu menulis tentang ini. Namun, saat itu saya belum mengeksekusinya, jadi masih sekedar dalam pikiran. Nah, ide-ide yang muncul seperti ini bisa ditulis dulu jika belum bisa langsung dieksekusi. Banyak para penulis yang memiliki jurnal ide, khusus untuk mencatat lintasan-lintasan yang muncul supaya tidak lupa.

Nah, setelah beberapa waktu berlalu, ternyata tema challenge di Komunitas Literasi Ibu Profesional minggu ini kok ya tentang ide, pas banget kaan.. bismillah, mungkin memang saatnya ini direalisasikan sekarang 😁 Nah, berburu tema mingguan di komunitas kayak gini juga oke banget dilakukan sebagai usaha mendapatkan ide.

Arleen A, seorang penulis buku anak, pernah melakukan hal unik dalam mencari ide. Beliau menuliskan sejumlah kata kerja acak di kertas dan sejumlah kata benda acak pada sejumlah kertas yang lain. Kemudian beliau mengambil satu kertas secara acak dari kumpulan kertas bertuliskan kata kerja dan satu kertas dari kumpulan kertas bertuliskan kata benda. Dua kata gabungan ini menjadi jalannya untuk mulai mengembangkan imajinasi dalam menulis. Misalnya, Kursi Melompat.

Para ilmuwan muslim kita, memulai ide penemuan dari Al Quran. Misalnya Ibnu Firnas, terinspirasi membuat sayap buatan (cikal bakal pesawat terbang), karena membaca surat Al Mulk 19 tentang burung.

Catatan berburu ide

Oke, demikian kiranya sedikit catatan tentang bagaimana mendapatkan ide untuk menulis. Oh ya, selalu ingat, tak ada tulisan manusia yang sempurna, maka tulisan yang baik, adalah tulisan yang selesai. Sebab terkadang watak perfeksionis kita, bisa menghalangi terselesainya sebuah tulisan, hingga sebuah ide akhirnya hanya sebatas ada pada niat dan pikiran. Bismillah, tuliskan, dan serahkan kepada Allah, memohon agar yang tersampaikan adalah sebuah kebaikan.

Be More Present in This Ramadhan

Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan Engkau melihatNya. Dan jika engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Ia selalu melihatmu. (HR Muslim)

Ramadhan tahun lalu begitu berbeda. Masjid ditutup, tiada lagi semarak tarawih maupun buka bersama. Namun, bagaimanapun ia tetaplah bulan mulia dan penuh makna. Pertanyaannya kini, apa refleksi yang kita dapatkan dari kondisi Ramadhan yang demikian?

Wadud Hasan, dalam artikelnya di ProductiveMuslim.com menjelaskan tentang sebuah konsep bernama mindful Ramadhan, di mana kita berusaha lebih menghadirkan hati dan menguatkan koneksi kepada Allah, dibandingkan hanya sekedar mengisi to do list ibadah, tanpa penghayatan. Konsep ini lebih menekankan pada kualitas ibadah, bagaimana ihsan kita. Adapun penambahan kuantitas, dilakukan secara wajar, bertahap, sehingga diharapkan akan konsisten meskipun Ramadhan telah lewat.

Mindful Ramadhan mengajak kita untuk tidak sekedar berpuasa secara fisik namun juga secara batin. Bagaimana kita melatih diri secara sadar, bahwa Allah melihat tak hanya gerak-gerik, namun juga pikiran dan batin. Sehingga, ketika ada perselisihan, kita bisa memilih untuk meninggalkan dengan mengatakan, “Aku sedang berpuasa”

Mindful Ramadhan juga mengajarkan kita untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Benar, bulan ini adalah saatnya untuk fastabiqul khoirot, tetapi bukan berarti saying yes for everything dan sekedar ngebebek ikut aktivitas ini itu dan akhirnya lelah sendiri. Petakan dengan baik setiap peran yang kita pegang, buatlah target pribadimu, jadwalkan yang memang perlu, dan all out dengan yang sudah kita rencanakan. Tak perlu lirik sana, lirik sini. Ingatlah kisah Abu Bakar yang menyedekahkan seluruh harta di jalan Allah. Beliau mengukur dengan kemampuannya sendiri, bukan sekedar untuk menyaingi. Karena jika konsepnya menyaingi, cukuplah beliau menyedekahkan setengah hartanya ditambah beberapa persen, agar bisa mengalahkan Umar Bin Khattab yang menyedekahkan setengah hartanya.

Lalu bagaimana cara untuk bisa mencapai mindful Ramadhan? Pertama, niatkan karena Allah dan mintalah pertolongan pada Allah agar kita diberikan taufik untuk bisa beribadah di bulan Ramadhan. Jangan andalkan pengalaman. Ibadah dan isti’anah selalu berjalan beriringan. Selanjutnya, cobalah berlatih untuk menghayati setiap bacaan solat kita. Kemudian, ketika sedang membaca Al Quran, perbaiki tajwidnya, tadaburilah maknanya sehingga bukan sekedar menyelesaikan target khatam. Ramadhan juga momen pendidikan keluarga. Terapkan mindful eating ketika sahur dan berbuka. Hadir utuh menyimak setiap diajak berbicara dengan anak-anak. Cobalah pula untuk merancang kegiatan spesial berbasis keluarga, untuk menambah kehangatan. Agar tak rungsing dengan urusan dapur, rencanakan menu di awal dan buat sesimpel mungkin. Ingat, waktu berbuka bukanlah sebuah pelampiasan karena lapar seharian.

Bismillah, semoga kita dimampukan untuk lebih mindful dalam menjalani Ramadhan. Aamiin.

Kreativitas Dalam Keluarga

Hidup adalah ujian. Seringkali, kita terlampau fokus melihat jawaban pada lembar kerja orang lain, tanpa menyadari bahwa setiap orang memegang lembar dengan pertanyaan yang berbeda..

Pernahkah kalian terlampau kagum pada suatu sosok yang berhasil dalam perihal keluarga, lalu berusaha meng-copy paste semua yang ada pada orang itu? Atau.. pernahkah kalian merasa begitu bingung karena banyaknya teori parenting, hingga bingung mana yang harus diikuti?

Saya pernah. Saat booming cara belajar memnaca ala montessori, saya membebek. Saya masih ingat saat awal mengenal phonic, yang ada lagunya “B untuk bebek, beh beh beh” itu, spontan langsung bilang ke suami “Eh.. kita belajar abjadnya dulu salah lho, harusnya dibilangin bunyinya, “beh gitu” bukan B” Suami dengan santainya menjawab. “Hah? Iya gitu? Lhah sekarang nyatanya tetep bisa baca kok. ” 🀣

Setelah dipikir-pikir, alangkah seringnya saya dulu (kadang sampe sekarang deng πŸ˜‚) terlalu berpikir hitam-putih dan betapa sabarnya suami saya. Seiring berjalannya waktu dan kebanyakan belajar teori, akhirnya saya tahu bahwa memang ada banyak sekali pemikiran, khilafiyah. Contohnya, metode pemberian mpasi, ada BLW, ada istilah menu tunggal, menu empat bintang, dkk. Untuk pendidikan, ada metode montessori, Charlotte Mason, Fitrah Based education, parenting nabawiyah, dkk. Sehingga, kita tidak bisa sembarangan menghakimi yang ini benar, yang ini salah, tanpa melihat dari sudut pandang masing-masing.

Jadi, sebenarnya di islam simpel ya. Sudah ada guidance-nya. Asalkan tidak melanggar syariat, ya dijalankan saja. Jadi ya nggak masalah mau BLW ataupun spoon feeding, yang terpenting kewajiban kita adalah memberikan anak makan. Bisa jadi anak kita lebih cocok BLW, tapi ada juga yang suka spoon feeding.

Jadi, belajar berbagai metode itu baik, tapi tidak serta merta harus diterapkan semua di keluarga. Sesuaikan dengan value dan kebutuhan. Dengan mengetahui ini, kita jadi bisa lebih kreatif menerapkan apa yang ada pada keluarga. Konsep ideal pada satu keluarga bisa jadi berbeda dengan keluarga lain. Semua punya prioritas masing-masing yang tak bisa disamaratakan.

Contoh yang lain, kita juga jadi tak mudah tergiur saat berseliweran postingan aneka buku/mainan untuk menstimulasi anak. Kita bisa mengcustom sendiri sesuai kebutuhan. Misalnya, saat masa Ramadhan, berseliweran buku aktivitas 30 hari. Nah, mengapa tidak kita coba untuk merancang sendiri 30 aktivitas yang disukai di keluarga kita? Saat ada aneka macam permainan sensori, mengapa kita tidak mencoba membuat sendiri?

Mencoba mengkreasikan worksheet Ramadhan

Kreasi Permainan Sensori

Jadi, kesimpulannya, jangan sampai banyaknya informasi justru membuat kita bingung dan justru nggak bergerak ya. Juga, tak perlu terlampau baper dengan rumput tetangga, tetapi fokuslah pada apa yang kita miliki. Sungguh tak menyenangkan jika hidup hanya mengejar bayang-bayang orang.

Semangat rileks dan optimis. Bismillah, setiap keluarga memiliki keunikan masing- masing. Maka, fokus bertumbuhlah tanpa terintimidasi…

High Energy Ending

Seekor kuda pacu, justru akan mengerahkan segenap kemampuannya saat akan mendekati garis finish.

High Energy Ending, adalah salah satu istilah yang sering terdengar di Ibu Profesional saat kuliah hampir mendekati ujungnya. Jika diibaratkan dengan seorang penyanyi yang sedang manggung, high energy ending adalah saat si penyanyi memutuskan untuk menutup konsernya justru ketika para penonton berteriak “Lagi, lagi, lagi”! Maka, kesan terbaik akan membekas di hati saat itu.

Sejujurnya, sulit sekali bagi saya untuk bisa mencapai HEE tersebut. Justru di saat perkuliahan hampir berakhir, saya merasakan sedikit penurunan semangat. Mungkin karena project passion sudah selesai, so what’s next? Begitu yang ada di pikiran saya. Akhirnya saya jadi berpikir ulang, apakah habit menulis hanya akan saya selesaikan sampai kuliah bunprod berakhir? Kok rasanya agak tidak rela~

Hmm, mungkin dengan menjalani selebrasi, yang sekaligus merupakan sebentuk apresiasi untuk selesainya misi kami, bisa membuat high energy ending itu muncul. Jadilah pekan ini, kami berdiskusi untuk masalah selebrasi. Kebetulan Gerha Aksara memiliki perwakilan tersendiri untuk selebrasi ini, jadi saya tak terlalu terlibat dalam hiruk pikuknya. Qadarullah Maret ini pun memang pas sibuk-sibuknya mengurus sesuatu di luar kuliah Bunpro, jadi yaa.. let it flow, ikut arus aja dulu deh πŸ˜† Saya pun memilih menjadi partisipan aktif saja di acara cluster besok 9 Maret 2021. Semoga dimudahkan.

Milih jadi tim hore lagi hihihi

Mudah-mudahan, jadi dapat perasaan HEE yaa setelah ikut selebrasi 😁 Ada yang mau ikut join? Yuk, besok jam 9 meluncur ke FP/Youtube Hexagon City! In syaa Allah kita nikmati keseruannya ya.

πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰
SELEBRASI CLUSTER SOLUTIF

9 Maret ada yang menarik di kota Virtual Hexagon City, mari kita bersama menyaksikan Selebrasi Cluster Solutif yang seru dan bertabur hadiah.

Kebayang dong, gimana hebohnya para Hexagonia yang memiliki passion di bidang Kepenulisan, Olahraga dan Seni yang tergabung dalam 9 Co-Housing, berpadu dan bekerja sama menghasilkan karya yang luar biasa dalam Project Passion yang bisa bermanfaat untuk siapa saja.

Saksikan dan jangan lewatkan keseruan kami secara LIVE serentak di FanPage dan Channel YouTube Hexagon City pada :
πŸ—“οΈ Hari. : Selasa, 9 Maret 2021
⏰ Pukul : 9.00 – 10.00 WIB

FanPage: https://www.facebook.com/103723334855364/posts/220277253199971/

YouTube:
https://www.youtube.com/watch?v=pJ4sEV5GjF0
πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰

#ClusterSolutif #SelebrasiCluster #zonaN #ZonaNewsTime #HexagonCity #Hexagonia #KelasBundaProduktifIIP #InstitutIbuProfesional #SemestaKarya #IbuProfesionalForIndonesia

Evaluasi Kinerja di Hexagon City

Troubleshooting itu untuk mencari letak kesalahan. Bukan dengan membuang semua rangkaian, tapi untuk diperbaiki jika memang ada komponen yang tak bekerja.

Tak terasa, kuliah di Bunda Produktif hampir berujung. Saatnya mengevaluasi apa saja yang sudah berjalan baik, apa yang harus di-stop dan apa yang ingin diperbarui.

Saya mengalami banyak pengalaman baru di kota ini, terutama masalah belanjaπŸ˜†. Makin terasa pentingnya membedakan kebutuhan dengan keinginan. Beli karena butuh, bukan karena sekedar ingin, supaya tidak sekedar menumpuk. Ini pun rupanya merembet pula pada pengambilan peran maupun belanja ilmu. Belajar yang benar-benar perlu, bukan sekedar karena tertarik semata.

Dari sana, saya banyak belajar untuk melepaskan. Proses menulis dalam sunyi dengan adanya target buku, membuat saya lebih mampu memilih prioritas. Saya tahu tugas saya adalah menulis, maka saya mampu menampik godaan di luar itu. Gesekan mulai muncul justru di masa promosi. Karena ini hal baru dan tugas menulis sudah selesai, mata mulai berkelana di medsosπŸ˜† Sebenarnya tidak apa-apa, asalkan dengan manajemen yang tepat. Nah, karena selama ini merasa udah lowong, tulisan sudah selesai, jadi lupa membuat jadwal dan prioritas. Akhirnya ada beberapa kelas yang tidak maksimal diikuti. Akhirnya jatuhlah pada adab yang kurang maksimal. Saya merasa seperti tertidur di kelas, lalu ada dosen yang menegur “Nak, di luar sana ada yang mati-matian ingin kuliah tapi nggak bisa. Kamu yang sudah bisa duduk di sini, mengapa tak maksimal memperhatikan?” πŸ₯Ί

Ah ya sudahlah, saya memang tak bisa promosi dan membuka jendela medsos! Sudah, sudah, saya pengen berhenti saja. Saya nggak bisa mengatasi fear of missing out ini! πŸ˜† Pernah terlintas hal ini di pikiran. Pengen melepas, tapi langsung dibuang semuanya begitu saja. Ada sepatu, dipakai buat bermain, lalu kotor, bukannya dicuci tapi pengen langsung dibuang. 😬

Ternyata bukan begitu caranya… Tapi dengan belajar. Apa yang salah? Lalu apa yang harus diperbaiki. Rupanya, caranya adalah dengan memahami peran dan prioritas. Peran kamu di bagian promosi itu apa? Oh, aku bagian nyiapin Live FB. Yauda, fokus aja di situ. Nggak perlu baper kalau memang nggak bisa posting promo setiap hari. Kalau memang saatnya duduk tenang dan belajar, ya nggak apa-apa. Untuk urusan promosi ini pun, saya jadi belajar bahwa memang menjual itu pun perlu ilmu dan jam terbang. Saya masih salut dengan para penjual online. Hebat, mereka bisa tetap fokus. Di sini makin paham dengan titik lemah saya, dan seandainya ditakdirkan jualan, sepertinya saya bakalan milih bagian produksi aja, bukan marketing πŸ˜† Karena sesama ibu, saya jadi paham kalau misal transaksi jangan berharap selesai dalam sekali chat kayak belanja di supermarket. Akan ada delay karena kesibukan pribadi. Jadi perlu adanya pemakluman dan tak perlu terserang fear of missing out. Khawatir balas chat lama,padahal emang nggak mungkin pegang HP terus. Namun, menjadi pembelajaran bahwa jam kerja itu perlu jika memang memutuskan profesional dalam berjualan. Dulu ketika sharing dengan adik kelas yang sekarang berjualan, beliau memang mengatakan perlunya jam kerja. Kalau memang bisanya malam karena siangnya bersama anak, ya ditulis saja demikian. Lagipula rezeki itu pasti kan? Kemuliaanlah yang harus dicari. Saya jadi paham juga adanya fitur whatsapp for business itu rupanya membantu jika ada pesan masuk di luar jam kerja maka akan dijawab oleh mesin.

Namun alhamdulillah berkat chaos di masa promosi dan open space itu, saya jadi semakin tahu porsi-porsi yang bisa saya ambil. Jadi tahu, bisa ikutan kelas dalam sehari itu maksimal berapa. Hexagon city menjadi miniatur untuk bisa mencegah, memilah dan mengolah #eh kok jadi lari ke zero waste πŸ˜† Di sini jadi belajar lagi tentang fokus pada kebutuhan. Membuang distraksi, memilih dengan bijak kemudian all out dengan yang sudah dipilih. Supaya terlihat jelas apa peran dan kegiatan, bisa dicatat pada satu buku saja, nggak ganti-ganti, jadi mudah dicari dan dievaluasi.

Hasil refleksi belajar

Untuk proyek di Co House, alhamdulillah semua berjalan baik. Yang perlu ditingkatkan adalah bagian editing, bagaimana agar bisa saling membedah naskah. Pembuatan ebook juga bisa dipertimbangkan agar harga lebih terjangkau. Untuk saya pribadi, perlu belajar lagi tentang serba serbi live streaming.

Refleksi Gerha Aksara

Alhamdulillah, senang bisa belajar. Semoga bisa bermanfaat juga untuk proses belajar dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.

#HexagonCity #InstitutIbuProfesional #KuliahBundaProduktif #Hexagonia #ZonaN

Berdaya, Meski Tak Sempurna : Sebuah Refleksi Belajar

Maka bertanyalah kepada orang yang mengetahui pengetahuan jika kamu tidak tahu (An Nahl:43)

Memasuki pekan ketiga Virtual Conference sekaligus babak akhir, semakin banyak tema menarik yang disajikan. Kota ini seakan menjadi miniatur kehidupan nyata, di mana banyak ilmu tersebar, sehingga kita perlu memilih mana yang prioritas. Mengasah gergaji agar semakin terampil mengenali kebutuhan diri dan berkomitmen terhadap waktu. Memang sedikit baper jika ternyata tak bisa ikut pada materi tertentu, apalagi jika yang membawakan adalah seorang teman. Namun, akhirnya saya menyadari bahwa dukungan bisa dilakukan dalam bentuk apapun, termasuk doa.

Saya masih berkelana dari satu sesi ke sesi lain, belanja ilmu tentang manajemen waktu dan manajemen emosi. Saya juga sesekali menambah ilmu terkait tema yang berkaitan dengan kemampuan-kemampuan dalam membersamai kegiatan anak. Tak lupa saya juga menyimak persiapan Ramadhan oleh mba Lowita, mengingat sebentar lagi bulan mulia ini akan tiba.

Saya senang, bisa melihat dari banyak sisi penerapan manajemen waktu dan manajemen emosi para emak. Alhamdulillah itu semua semakin memantapkan langkah dalam menjalani peran sebagai seorang ibu.

Multiperan, tapi Bukan Multitasking, inilah pelajaran pertama yang saya peroleh. Benar, peran kita setelah menikah itu semakin banyak. Sebagai istri, ibu, sekaligus anak. Belum lagi, peran di komunitas ataupun lingkungan kerja. Semuanya perlu ditunaikan sebaik-baiknya. Manajemen waktu menjadi kunci agar peran-peran ini tidak campur baur di dalam otak. Bukan multitasking yang diperlukan seseorang, tapi mengerjakan peran sesuai dengan porsi waktu yang ditetapkan dan juga skala prioritas.

Fleksibel, jangan kaku dalam menerapkan manajemen waktu. Yap, rupanya jadwal dengan meletakkan jam demi jam itu agak kurang cocok bagi saya. Senada dengan yang disampaikan Mba Ridha Handayani dalam sesi FB Live tentang “Manajemen Energi as Full Time Mom tanpa ART”, memetakan aktivitas bisa dengan memilih, mana yang bisa dikerjakan dengan anak, dan mana yang perlu dilakukan saat anak tidur. Pertanyaannya, bagaimana jika ternyata anak bangun di jam yang kita jadwalkan untuk mengerjakan sesuatu yang penting itu?

Kuncinya ternyata ada pada komunikasi! Pertanyaan tersebut, selain saya tanyakan pada mba Ridha, juga saya tanyakan pada mba Annisa Fauziah yang juga mengangkat tema manajemen waktu meski dengan redaksi kalimat yang berbeda. Jawaban yang saya peroleh rupanya pun senada dan saling melengkapi. Pertama, melihat kondisi anak. Jika tidak menangis, maka kita bisa izin untuk menyelesaikan tugas tersebut terlebih dahulu. Jika ada suami, bisa meminta bantuan beliau. Jika berkaitan dengan deadline dari pihak lain, maka perlu memberitahukan kendala di luar dugaan tersebut, jangan diam dan justru menghilang karena sungkan. Alhamdulillah, jawaban tersebut benar-benar menjadi solusi tentang apa yang selama ini saya pertanyakan, sekaligus membuka sisi yang perlu saya perbaiki, yakni seni berkomunikasi.

Jaga Kewarasan, dan Libatkan Allah. Banyaknya peran membuat kita perlu menjaga kewarasan dan yang membuat kita bisa kuat adalah bersandar pada Yang Maha Kokoh. Ada begitu banyak dinamika dalam menjalani peran di mana kenyataan seringkali tak seindah harapan. Saat kita tahu tubuh penat dan minta izin sejenak pada anak untuk beristirahat, seringkali justru penolakan yang kita dapat. Perkuat lagi sandaran kita ke Allah, agar bisa menerima dan merespon dengan baik setiap dinamika tersebut. Ikhtiar kita, dibarengi dengan tawakal dan berserah. Pada akhirnya, kembali lagi dengan merajut syukur.

Dan akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa Ibu, Engkau Tetap Perlu Belajar. Tak perlu terjebak pada stigma ibu sempurna, karena kesempurnaan memang hanyalah milik Allah (ini bener kerasa banget). Namun kita perlu terus belajar dan berlatih. Yang menjadi catatan juga buat saya adalah bahwa kita adalah hamba Allah sepenuh waktu. Jadi, bukan demi anak-anak kita mencurahkan diri kita sepenuh waktu,namun demiNya. Demi menjadi hamba yang baik. Kita menjalani peran di rumah dengan all out, karena kita akan ditanya tentang kepemimpinan kita terhadap rumah dan anak-anak. Jika demi anak-anak, akan rawan jatuh pada rasa berkorban, atau timbul jenuh dan gerutu. Tubuh memiliki hak atas kita sehingga perlu menyadari ambang batas diri, kapan perlu dibantu. Komunikasikan dan jangan pendam. Sebagai seorang istri, kita juga perlu menyediakan waktu untuk berbincang dengan suami. Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan sebuah interaksi positif dengan komunitas, tentu dalam batas yang wajar. Jadikan semua itu sebagai sarana untuk beribadah kepadaNya. Allah time (sholat dan amalan yaumiah), Me time, family time,social time dan couple time perlu diatur sesuai porsinya sehingga semua bukan saling bertentangan, tapi justru menjurus kepada satu hal : menjadi hambaNya.

Refleksi Belajar

Dengan pola seperti ini, in syaa Allah kita akan menjadi ibu berdaya, meski tak sempurna. Bagaimana respon keluarga terhadap aktivitas saya di Hexagon City? Sejatinya semua mengizinkan. Pernah ada lampu kuning yang menyatakan don’t be too much. Jangan terlalu keluar rumah dalam hal kesibukan. Ini membuat saya sempat berpikir panjang. Am I too much? Ketika saya konfirmasi ulang, alhamdulillah jawabannya tidak. Jadi saya pikir itu memang semacam wanti-wanti saja supaya tak larut dalam euforia aktualisasi diri.

Bagaimana perubahan saya sejak di Hexagon City? Hmm.. sebenarnya sulit ya menilai diri sendiri wkwk. Namun, yang jelas saya bersyukur bisa belajar banyak di sini. Langkah saya alhamdulillah lebih mantap dan kokoh. I am happier with my imperfection, sudah agak jarang baper ketika realita tak seindah harapan πŸ˜† Jadi lebih sadar rasa, tapi mencoba tak larut dan fokus pada solusi. Terus belajar dan bertanya, bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah, dan jangan lemah. Alhamdulillah. Jazakumullah khoir untuk semua pihak yang telah mendukung semua aktivitas di Hexagon City. Suami,anak, Ibu Septi, tim formula, dan semua teman-teman seperjuangan. πŸ’–

#HexagonCity #Hexagonia #KuliahBundaProduktif #InstitutIbuProfesional

Apa yang Kudapatkan di Virtual Conference?

Kita bisa menjadi jembatan kecil, ataupun jalan setapak yang mengantarkan orang-orang menuju jalan utama. Pastikan mereka nyaman melaluinya, lalu doakan agar selamat sampai di tujuan.

Jumat, tanggal 12 Februari 2021, dengan bermodal nekat dan bismillah, akhirnya saya memberanikan diri menjadi salah satu speaker di Virtual Conference Ibu Profesional. Tema yang saya angkat, seperti yang sudah saya ceritakan di jurnal sebelumnya, yakni tentang syukur. Alasan mengambil topik ini, karena beberapa pekan sebelumnya belajar tentang syukur melalui kajian wanita yang dibawakan oleh ustadz Nuzul Dzikri. Dari kajian tersebut, saya jadi tahu benang merah mengapa jurnal syukur bisa menjadi salah satu sarana untuk menjaga kewarasan diri. Ya, karena isu syukur ini rupanya sangat penting bagi perempuan. Alhamdulillah, kulgram berjalan lancar. Allah kirimkan teman-teman super baik yang menyemangati, mengawal kulgram, mengingatkan SOP, juga mendoakan, baik dari regional maupun di Gerha Aksara. Sejatinya, menyampaikan pun pada akhirnya adalah menasihati diri sendiri, murajaah apa yang sudah dipelajari, dan pelecut untuk bisa berjuang lebih baik lagi. Semoga Allah ridho.. aamiin.

Untuk teman-teman yang belum berkesempatan datang, boleh disimak slide-slide kemarin. Semoga bermanfaat.

Itulah mengapa kita lebih semangat saat bersyukur. Karena Allah Janjikan tambahan nikmat
Tak bisa libur membaca Al Fatihah, menandakan kita senantiasa perlu bersyukur
Hadits yang menohok. Tapi bukan membuat kita pesimis, melainkan sebentuk kasih sayang Rasulullah SAW agar kita lebih berhati-hati dan menyadari pentingnya isu syukur
Rasulullah SAW memberikan kita tips, untuk sering melihat ke bawah, agar kita tdk meremehkan nikmat Allah. Namun, di samping kita suka tergoda untuk justru melihat ke atas, pada prakteknya seringkali kalimat “alhamdulillah” pun kurang kita resapi shg hanya sampai di lisan saja.
Maka, hal yang bisa kita benahi untuk dapat memperbaiki rasa syukur kita adalah bagaimana cara kita dalam melihat. Data itu penting, tetapi kemampuan melihat data jauh lebih penting untuk bisa membuat data itu berguna. Cara kita melihat apa yang sudah Allah beri kepada kita akan mempengaruhi bagaimana rasa syukur kita terhadap pemberianNya
Kenapa ditulis? Karena kita mudah lupa. Saat hari penat, dengan melihat jurnal syukur yang entah kita buat di hari kapan, bisa merecall bahwa Allah Maha Baik. Maka, kali ini pun Ia juga akan membukakan jalan
Tak ada kebahagiaan yang remeh
Yg terpenting, hadirkan hati
Referensi

Alhamdulillah, yang sudah baik adalah berjalannya kulgram dengan lancar, tepat waktu dan sesuai SOP. Yang ingin ditingkatkan adalah pemanfaatan google form. Sebaiknya ada opsi feedback dari peserta supaya tahu bagaimana pendapat peserta dari sisi pelaksanaan. Opsi email juga bisa disertakan untuk memberikan copy materi, sebagai antisipasi jika ternyata grup harus segera bubar dan peserta memerlukan materi tersebut. Namun, saya berharap dengan tak adanya resume kemarin, teman-teman sudah mencatat sendiri dan bisa lebih mendapatkan manfaatnya. Aamiin

Selain sebagai speaker, saya juga menjadi partisipan, sengaja menghadiri topik-topik yang masih bersesuaian dengan mind map yakni yang terkait manajemen hati ataupun manajemen waktu. Kebetulan rekan satu co house, mba Michele membawakan materi tentang apresiasi diri. Alhamdulillah saya bisa menyimak dengan baik materi tersebut. Saya jadi tahu bedanya cinta diri dengan egois, di mana cinta diri akan berdampak meluas kepada orang lain. Mengisi teko kebahagiaan, untuk kemudian dituangkan kepada keluarga😊 Saya juga mengambil peran sebagai bumblebee ketika pengen lihat teman-teman Depok, namun waktu screen time tak mencukupi, hehe. Kekurangan menjadi bumbleebee adalah tak mendapatkan ilmu secara utuh, tetapi masih ada sepotong lintasan gagasan yang nantinya bisa dimanfaatkan atau dicari lagi saat diperlukan.

Alhamdulillah. Virtual conference yang menyenangkan. Semoga ilmu yang disampaikan dan didapatkan bisa mendatangkan kebaikan dan keridhoanNya. Aamiin.

#HexagonCity #Hexagonia #InstitutIbuProfesional #KuliahBundaProduktif #ZonaOpenSpace #VirtualConference

Open Space : Let’s Go to The Conference

Kita bisa belajar dari siapapun. Dari setiap ciptaanNya, dari setiap tempat di mana kita lewat.

Kuliah Bunda Produktif ini sungguh penuh kejutan! Bulan ini kami ditantang masuk ke dalam zona open space, di mana hexagon city membuka konferensi yang bisa dihadiri oleh siapapun. Kami bebas memilih akan menjadi bumblebee, orang yang terbang ke sana kemari untuk belanja gagasan, atau kupu-kupu yang gemar merefleksi materi yang tengah disimak, atau justru menjadi speaker yang menebar materi.

Bagi saya, jelas ini tantangan keluar zona nyaman jika memilih menjadi speakerπŸ˜† Dan bismillah saya mencoba mengambil peran itu, dengan platform telegram, yakni tetap via texting karena saya lebih nyaman berbagi dengan cara itu dibanding berbicara langsung.

Saya berencana berbagi mengenai writing for healing , bercerita tentang jurnal syukur sebagai upaya untuk menjaga kewarasan diri 😁 Kenapa memilih tema ini? Karena saya merasakan manfaatnya saat dulu mengalami mood swing parah saat hamil, dan saya juga baru sadar tentang pentingnya isu syukur bagi perempuan setelah mendengar kajian wanita yang dibawakan oleh Ust. Nuzul Dzikri. Mudah-mudahan dengan menuliskan tema ini bisa menjadi wasilah kebaikan sekaligus pengingat bagi diri.

Deg-degan? Jelas iya! Bismillah.. semoga lancar.. aamiin. Adapun sebagai partisipan, saya akan memilih peran sebagai kupu-kupu, ambil topik yang perlu, lalu merefleksikan 😁 Topik apakah itu? Nggak jauh-jauh dari upaya menjaga hati juga sepertinya πŸ˜… mudah-mudahan tak terjebak pada euforia, sehingga melalaikan ya.. Aamiin.

Oh ya, konferensi ini terbuka untuk umum. Silakan cek jadwal di sini ya dan segera meluncur ke media hexagon city sesuai tema yang diminati. Selamat belajar! Semoga bermanfaat πŸ™‚

#HexagonCity #Hexagonia #InstitutIbuProfesional #ZonaOpenSpace #KuliahBundaProduktif

Six Thinking Hats

Take time to deliberate, before an action.

Six thinking hats. Mendengar nama metode tersebut langsung membuat saya teringat sebuah buku lama, dengan sampul seorang laki-laki yang tengah duduk bersila, di atasnya terdapat topi berwarna warni. Edward de bono, tertera sebuah nama di sana.

Buku itu milik Bapak -yang membuat saya langsung mellow ingat rumah- Rasanya tak menyangka, bahwa Rabu minggu lalu justru saya mendengarkan metode pada buku itu lewat perantara bu Septi, sementara bertahun-tahun saya tak pernah membaca buku tersebut meskipun ada sedekat itu πŸ˜‚ Qadarullah wa maa sya’a fa’al.

Seorang kawan pernah menasihati agar kita selalu mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak. Saya pikir, Six thinking hats bisa menjadi salah satu jalan untuk itu. Jadi, seperti apa metodenya? Mari kita praktekkan dalam kasus project passion Gerha Aksara yang akan melakukan publishing and marketing karyanya.

Pertama, kita memakai topi biru. Di sini kita melihat tantangan dan tujuan apa yang akan kita capai? Kami menuliskan milestone kami di bulan Februari-Maret, yakni menerbitkan buku dan memasarkannya.

Setelah topi biru diletakkan, kami memakai topi putih, yakni mengumpulkan data dan fakta terkait tujuan. Di sini kami memiliki data calon penerbit, media promosi dan tim sukses.

Topi putih dilepas, beralih ke topi hijau. Kami mengumpulkan ide-ide marketing, yakni : mengumpulkan testimoni untuk buku, membagikan flyer di medsos, mengadakan Live FB dan acara untuk promosi di Hexagon City dan mempersiapkan kelas pendampingan.

Topi kuning dipakai setelah topi hijau, untuk melihat manfaat dari ide yang ada. Semua manfaat dari ide di topi hijau adalah memberikan nilai lebih terhadap buku kami, dan menaikkan peluang buku tersebut bisa tersebar di pasaran.

Semua harus seimbang. Maka, topi hitam diperlukan untuk menimbang resiko. Namun, tak lupa sertakan solusi, supaya tidak menjadikan down. Contoh resiko yang akan dihadapi antara lain, ada potensi orang akan bosan membaca sharing promo dari kami. Solusinya adalah belajar copywriting yang menarik.

Topi merah digunakan terakhir. Inilah topi intuisi, atau feeling. Apa yang kita rasakan dengan ide-ide tadi? Saya sendiri merasakan senang, sekaligus deg-degan. Kalau saya boleh mengibaratkan, rasanya seperti menghadapi suasana lebaran hehe. Karena saya introvert, ini agak sedikit berat, ketika sebelumnya kita sunyi menulis, asyik sendiri seperti saat orang-orang melakukan i’tikaf, kini saatnya keluar membaur dengan orang-orang seperti suasana lebaran. Ya, memang harus seperti itu, jika ingin menyiarkan sesuatu. Take a deep breath… Bismillah. Sudah ada lampu kuning juga dari keluarga, dengan batasan sewajarnya! Jangan sampai terjebak euforia yang akhirnya melalaikan.

Setelah topi merah diletakkan, saatnya memakai topi biru dan memilih satu aksi. Saya memilih berpartisipasi pada live FB untuk promo di Hexagon City. Ini sungguh-sungguh keluar dari zona nyaman πŸ˜‚ Ya, tapi.. memang menulis tujuannya kan supaya dibaca dan bermanfaat ya, supaya tak sekedar tergembok di buku diary. Bismillah, mudah-mudahan bermanfaat dan berkah ya… 😊 Alhamdulillah, sungguh satu hal indah dipertemukan dengan pasukan Gerha Aksara. Dari mereka, saya belajar tentang kegigihan, kesungguhan dan rasa tidak menyerah di antara segudang kesibukan. Lalu setelah nantinya berjuang habis-habisan, akan ada saatnya melepaskan. Berserah, dan menyerahkan semua urusan kepada Allah. Effort kami tak sempurna, maka semoga Allah Menyempurnakan semua ini, agar berkah.

Six thinking hats Gerha Aksara
Aksi yang akan dilaksanakan

Referensi : Materi kuliah Bunda Produktif oleh Ibu Septi Peni Wulandini, Live FB Institut Ibu Profesional pada hari Rabu, 27 Januari 2021

#HexagonCity #KuliahBundaProduktif #InstitutIbuProfesional #Hexagonia #ZonaG

Dandelion Hexagon City

Sharing is Caring..

Sebagai introver yang lebih suka ngumpet, perkara berbagi, seringkali terasa pelik sekali. Padahal, dalam diri ini, tahu sekali bahwa berbagi itu tanda peduli. Setiap kali mendapatkan ilmu nan manfaat, ingin rasanya semua orang pun mendapat. Namun, kadang ada rasa takut jika tak tepat dalam penyampaian.

Blog ini, merupakan salah satu media mencatat yang paling saya sukai, karena berpikir bahwa yang membaca ini, semoga orang yang memang membutuhkan. Mungkin dia menemukannya lewat mesin pencari, melihat judulnya, dan mudah-mudahan mendapat manfaat setelah membaca. Adapun melalui IG dan FB entah mengapa saya kurang merasa nyaman. Dua medsos itu seringkali hanya terpakai jika ada tugas ataupun ada permintaan πŸ˜…

Kini, saya dihadapkan kenyataan bahwa hexagon city, mulai membuka diri. Ini sudah bukan lagi jalan sunyi. Apalagi proyek di hexagon city nyata mewakili banyak hati. In syaa Allah akan banyak manfaat yang bisa digali.

Maka, bismillah, sesuai dengan yang sudah ditulis pada postingan minggu lalu, saya berusaha mendukung hexagon city, mencakup like dan comment proyek dari teman-teman satu cluster, yang mana dalam pekan ini adalah CH1 dan CH2 kepenulisan. Saya pun menantang diri untuk share proyek buatan CH sendiri (Gerha Aksara) dengan disertai narasi, walau awalnya ingin hanya share saja dari teman se-CH tanpa membuat narasi hehe. Alhamdulillah, milestone kami akhirnya sampai pada tahap proofreading. Mohon doanya semoga diberikan kelancaran hingga buku ini terbit, dan bisa memberikan keberkahan. πŸ˜‡

Alhamdulillah… Gerha Aksara melaju
Dukungan untuk Cluster dan Hexagon City

Saya juga berencana mengikuti beberapa pelatihan di Hexalink, yang disesuaikan dengan ilmu yang saya perlukan di ranah keluarga, antara lain pemanfaatan google sheet untuk pencatatan keuangan, self care project dengan harapan saya bisa lebih mindful, dan kids baking club sebagai media membangun bonding dengan si kecil sekaligus upgrade kemampuan memasaknya ibu *uhuk🀣

Sejatinya di Hexagon city banyak godaan ilmu yang super menarik,jadi memang perlu ketegasan memilih prioritas, sebab kata ulama, ilmu itu yang bermanfaat, bukan sekedar yang dihafal. Jadi perlu bersungguh-sungguh meluangkan waktu, supaya ilmunya bukan untuk sekedar koleksi. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bisa mengikutinya dengan baik dan bisa bermanfaat. Aamiin. Nah, untuk yang penasaran tentang apa saja passion project terutama di cluster solutif, bisa intip Katalog Cluster ini.

Jika nantinya diperkenankan, saya berencana sharing insight dari pelatihan. Harapannya, semoga manfaat lebih meluas. Ini ibarat meniup bunga dandelion. Tak tahu di mana ia akan sampai, namun semoga itu menumbuhkan sebuah harap baru, agar para ibu berbahagia atas peran yang dilakoninya. Aamiin

#HexagonCity #KuliahBundaProduktif #Hexagonia #ZonaG #InstitutIbuProfesional