Benarkah Engkau Tak Punya Waktu?

Nggak perlu sampai resign kok. Kita ini sudah banyak terbebani waktu luang. Coba saja dikumpulkan waktu luang-waktu luang itu. Bisa untuk menghafal Al Qur’an, murojaah. Ini belum bicara keutamaannya, tapi setidaknya kita akan terselamatkan dari pertanyaan “untuk apa umurmu dihabiskan?”

Demikian kurang lebih salah satu statement ustadz Nuzul di kajian Tadzkiratus Saami’ hari ini yang terasa menohok karena waktu selalu saja menjadi alasanku merasa tidak sempat berbuat apa-apa, termasuk aktivitas menghafal. Padahal… ini bukan tentang punya banyak waktu, tapi tentang meluangkan waktu, bukan? Tentang prioritas..

Ketika beberapa hari ini mengecek lama screen time di HP, saya cukup terkejut dengan kenyataan bahwa target screen time yang diharapkan alhamdulillah tercapai dengan capaian yang menurut saya membanggakan, padahal, aktivitas belajar online yang saya lakukan rasanya cukup banyak, bahkan alhamdulillah sempat mulai menulis ulang naskah yang selama ini selalu saya telantarkan. Kenyataan ini sekaligus membuka mata, bahwa bukan aktivitasnya yang dikurangi, tapi yang gak penting-penting itu loh yang harus dicoret. Yang gak prioritas itu loh yang harus dihapus. Misalnya apa? Scrolling IG, scrolling FB, overthinking yang membuat googling suatu informasi secara berlebihan, fear of missing out yang membuat kita dikit-dikit ngecek pesan di Whatsapp, dkk. Padahal, kalau sesuatu itu penting, pasti orang itu akan menelpon ketika Whatsapp tidak terbalas jua. Ini belajar dari ibu-ibu lain, yang kalau balas pesan juga ternyata nggak selalu langsung kok, jadi kenapa harus FOMO sih. Bukan admin jualan juga kan yang harus fast response 😅 kalau harus manjat wa, yaudah dipanjat aja 😂 Untuk sosmed semisal IG, pernah dapat ilmu dari mak Ami, follow di jumlah yang managable aja.

Ya Allah, bener ya kita suka tertipu. Istirahat bentar ah, scrolling.. eh bablas. Nanti aja deh, nulisnya butuh fokus, eh.. lupa, ketiduran. Tahu-tahu udah ngerjain rutinitas lagi. Menghafal susah ah, banyak banget, kayaknya ga bakal hafal. Padahal, sehari satu ayat kan nggak masalah.. hubu. Semoga bisa lebih bijak lagi memanfaatkan waktu. Aamiin.

Obat Luka Itu Bernama Iman

Jangan hidup dengan luka, karena luka itu perih. Hiduplah dengan iman, karena iman itu manis. (Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri)

Ada yang membuatku merenung panjang ketika ada topik tentang luka pengasuhan ataupun kejadian masa kecil yang menyisakan trauma. Juga saat ada pertanyaan-pertanyaan anak yang merasa telah berbuat yang terbaik, tapi tetap tak ada apresiasi dari orang tua, hingga merasa putus asa. Ada perasaan takut karena sebagai ibu, bisa dipastikan tak hanya sekali dua kali kita berbuat salah, yang mungkin saja menoreh luka. Terlebih, masih sering satu dua kali lintasan trauma datang menyerang. Jika berbicara tentang ini, banyak guru yang sepakat bahwa obatnya adalah tazkiyatun nafs. Mengembalikan kepada Allah. Kembali meluruskan niat, bahwa hidup kita hanyalah untuk Allah. Hati adalah tempat takwa, bukan trauma.

Lagi-lagi, tauhid sebagai pondasi. Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam dan para sahabat telah memberikan teladan. Bahwa dalam banyak tekanan, hati mereka tidak hancur. Bahwa pada kesalahan di perang Uhud yang berakibat fatal, mereka tidak membuka pintu seandainya.

Ya, ini untuk kita, sebagai orang tua yang mungkin masih berjuang menyembuhkan diri dari luka, berjuang untuk memaafkan diri sendiri atas banyak kegagalan. Namun, bagaimana untuk anak? Adakah kita bisa campur tangan untuk mengutak-atik hatinya? Adakah kita bisa memaksa agar anak memaafkan segala salah kita? Adakah kita bisa memastikan segala kejadian yang dialami tak membekas menjadi luka dan trauma?

Ranah kita adalah ikhtiar. Adapun hati anak, Allah yang menggenggamnya. Doa, doa, dan doa. Taubat, taubat dan taubat. Sebagai manusia, ada banyak lupa dan salah. Kita seringkali jatuh, jatuh dan jatuh lagi. Jangan sungkan meminta maaf di depan anak jika itu terjadi. Ranah kita adalah minta maaf, menyemaikan iman, juga terus mendoakan agar anak melapangkan dada dan mau memaafkan. Agar setiap luka tak menjadi trauma, karena iman menghapuskannya.

Terus yakinkan bahwa kita sayang padanya. Meski terkadang bentuk sayang itu terejawantahkan dalam hal yang kelihatannya menyakitkan. Atau, sebaliknya, ketika kita justru kesulitan mengatakan tidak pada hawa nafsu anak, karena takut dibencinya, takut menggoreskan luka, maka kita perlu mengingat lagi… untuk apa sebenarnya mendidik anak? Apakah agar anak sayang kepada kita? Atau karena Allah?

Ah, menegur itu.. memang kadang begitu rumit. Terus teguhkan hati, katakan bahwa kita sayang, dan bahwa apa yang kita tegur hanyalah perbuatannya, bukan dia sebagai individu. Tegarkan ia, sampaikan bahwa ketika salah, yang perlu dilakukan adalah minta maaf, beristighfar dan mengikuti dengan perbuatan baik. Bukan berputus asa dan menyalahkan diri sendiri. Memang berat menjadi pertengahan, menemukan porsi yang tepat. Untuk tidak membiarkan kesalahan, tapi juga tidak menjatuhkan. Untuk tetap memeluk, sebagaimana Allah mengajarkan kita bahwa rahmatNya mendahului murkaNya.

Mengajarkan keikhlasan dalam beramal juga penting. Agar ia tak melakukan kebaikan semata-mata hanya demi pujian guru ataupun orang tua. Agar tak hancur hatinya saat kita terlupa dalam menyanjungnya. Agar segala upayanya tidak ditujukan untuk makhluk, tapi untuk Rabbnya. Meski demikian, upayakan untuk mengapresiasi segala kebaikannya. Bagaimanapun, ikhlas itu memang perlu perjuangan..

Semoga Allah selalu menjaga iman kita. Aamiin.

Kisah Levo dan Levi

Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad. Jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad merasakan sakitnya sehingga tidak bisa tidur dan demam (Muttafaq ‘Alaih)

Dari kajian Riyadush Shalihin episode 602 yang disampaikan oleh ustadz Nuzul Dzikri, jadi dapat ide cerita Levo dan Levi untuk dikisahkan pada si kecil saat tidur. Sebab, pada kajian tersebut ustadz Nuzul memberikan ilustrasi tentang tangan kanan dan kiri, di mana mereka itu satu level, tapi perlakuan kita kepada keduanya berbeda. Namun, itu tidak membuat mereka saling benci. Perumpamaan itu benar-benar pas, sehingga ketika si bocah minta cerita malam ini, saya mencoba menceritakan tentang Levo, si tangan kiri dan Levi si tangan kanan.

Levo dan Levi merupakan sepasang tangan milik anak perempuan bernama Cindy. Levi, selalu digunakan untuk hal-hal menyenangkan. Menggambar, memasak, menulis, makan dan sebagainya. Sementara, Levo jarang sekali digunakan. Bahkan ia digunakan untuk hal yang menjijikkan, yakni beristinja. Apakah Levo sedih? Tidak. Levo tetap senang mengerjakan tugasnya. Namun, hal ini ternyata membuat Levi sombong. Ia merasa di atas angin dan mengejek Levo.

“Hahaha, aku ini lebih hebat dari kamu Levo. Kamu tidak pernah dipakai. Hahaha” Mendengar ejekan itu, Levo sedikit sedih. Namun, ia bangkit lagi dan berdoa agar Levi dimaafkan.

Suatu ketika Cindy jatuh dari sepeda dan membuat Levi terluka. Akibatnya, Cindy memakai Levo untuk melakukan hal-hal yang selama ini dilakukan Levi. Apakah Levo senang karena akhirnya ia berguna, diandalkan bak seorang pahlawan?

Levo memang senang bisa berguna, tetapi tak dapat dipungkiri, ia sedih melihat Levi sakit. Levo pun selalu mendampingi Levi. Ia ikut merawat Levi.

“Huh, kamu pasti senang karena sudah mengambil peranku.” Levi mendengus kesal. Levo membantahnya.

“Aku lebih suka saat kau sehat. Lekaslah pulih, gambar Cindy akan lebih bagus jika kamu yang mengerjakannya. Aku memang senang ketika bisa melakukan sesuatu, tapi aku sedih ketika kamu sakit. Lagipula, aku senang dengan tugasku. Kita punya tugas masing-masing, dan semuanya sama penting.” Ujar Levo.

Levi tertegun. Ia merasa bersalah karena telah bersikap sombong. “Maafkan aku Levo,” ujarnya.

Levo mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun berpelukan erat. Seminggu kemudian, Levi telah sembuh. Levo sangat senang dan mendukung Levi agar bisa membantu Cindy menggambar lagi. Rasa sayang mereka berdua pun saling bertambah satu sama lain.

Ah ya, betapa dalam Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam memberikan perumpaan bagi kita orang beriman. Saling sayang karena Allah, karena iman. Kemudian berusaha untuk terhubung, juga akhirnya saling menolong. Bagaikan satu jasad, yang kompak karena memiliki tujuan yang sama. Semoga Allah jaga kita, agar bisa saling menyayangi satu sama lain, aamiin..

Memaknai Peran sebagai Ibu Rumah Tangga

Bukan salah sumur-dapur-kasurnya, tapi salah saya yang tidak pernah memaknai sumur-dapur-kasur itu sebagai sesuatu yang bermakna, sesuatu yang berkualitas (Petikan presentasi dari Ibu Septi Peni Wulandini, di Puncak Konferensi Ibu Pembaharu)

Haru. Itulah yang saya rasakan saat menyimak perjalanan Ibu Septi Wulandani saat memaparkan perjalanan 1 dekade Ibu Profesional. Komunitas ini merupakan sebentuk solusi yang awalnya ditujukan untuk bu Septi sendiri, dalam menjawab pertanyaan “Mengapa aku tidak bangga menjadi ibu rumah tangga?”

Ya, ibu rumah tangga, peran yang selama ini dipandang sebelah mata. Bahkan, diremehkan oleh para ibu rumah tangga itu sendiri. Terbukti dengan penggunaan kata “Saya CUMA seorang ibu rumah tangga.” Ibu rumah tangga yang identik dengan pengangguran, seakan tak berkontribusi pada negara dan bangsa karena tak menyumbang pendapatan.

Bu Septi memulainya dengan menerima dan memberi makna. Adegan yang membuat saya trenyuh, dan mungkin inilah dilema yang sering menimpa banyak ibu rumah tangga, adalah saat percakapan beliau dengan sang ibu. Beliau yang menangkap kekecewaan dari sang ibu yang merasa anaknya hilang. Anaknya yang dulu aktif, kini seakan meredup setelah berkutat dengan sumur-dapur-kasur. Lalu, bu Septi menjawab. Tunggu ibu. Beri aku waktu 5 tahun. Tolong jangan tuntut apa-apa… Saya sedang menyelami dunia saya yang baru, dunia ibu rumah tangga. Ibu akan menemukan anak ibu kembali, nanti.

Ketika Bu Septi menerima peran itu, bu Septi akhirnya mulai belajar dan meningkatkan kapasitas. Dari sekedar koki, menjadi manajer gizi keluarga. Dari sekedar kasir, menjadi manajer keuangan keluarga. Dari sekedar antar jemput sekolah anak, menjadi manajer pendidikan keluarga. MasyaAllah, sebenarnya kompleks sekali ya peran sebagai ibu. 🥺

Insight dari Pemaparan Bu Septi

Ibu Septi memulai dari diri sendiri, meluangkan waktu setiap hari untuk belajar. Setiap ada yang datang bertamu pada jam belajar beliau, bu Septi mengarahkan untuk menunggu. Beliau konsisten dan komitmen terhadap waktu yang sudah beliau canangkan. Ah ya, ini dia. Seperti kata ulama, barang siapa konsisten pada satu titik, maka ia akan tumbuh. Dari sini kita juga melihat bahwa bu Septi memiliki sikap asertif, berani bilang tidak pada aktivitas srondolan, aktivitas mendadak yang tidak ada di list agenda beliau, dan tidak urgent.

Dari sendirian, mulai ada ibu lain yang belajar bersama bu Septi. Semakin lama semakin banyak. Bu Septi pun juga meningkatkan ilmu untuk bisa berbagi secara online. Mulai belajar teknologi. Mulai dari WizIQ, hingga akhirnya Whatsapp, lalu seperti saat ini pembelajaran melalui FB Group. Bu Septi bertutur bahwa beliau mendatangi guru-guru beliau dan belajar dari mereka, masalah teknologi ini. Ini mengingatkan juga adab para ulama, di mana pada hakikatnya, ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Keharuan kembali kami rasakan setelah menyimak sesi ucapan selamat dari Elan selaku putr bu Septi, dan pak Dodik Mariyanto, suami beliau. Dua sosok yang begitu berarti. Yang membuat Bu Septi terus belajar.

Sesi presentasi Bu Septi ditutup dengan deklarasi, di mana salah satunya adalah deklarasi bahwa ibu rumah tangga bukan pengangguran, tetapi peran mereka mendidik generasi di rumah juga patut diperhitungkan.

Ah ya, saya jadi ingat bahwa di Ibu Profesional, hanya ada satu definisi yaitu Ibu Bekerja. Yang satu memilih di ranah domestik, yang satu memilih di ranah publik. Dua-duanya sama. Yang membedakan adalah bagaimana kesungguhan mereka dalam menjalankan perannya.

Kalau dipikir, benar juga ya. Ini mirip bahwa setiap manusia itu sama, yang membedakan adalah taqwanya. Kita pun tidak bisa mengklaim siapa yang paling bertaqwa bukan? Kalau kata Teh Karin, gak bisa sombong-sombongan. Sombong-sombongan itu kalau udah sampai di surga. Hehe, iya soalnya baru ketahuan kan siapa juaranya 🙈

Terima kasih Bu Septi, sudah semakin menguatkan langkah kami. Untuk all out pada setiap pos yang diisi. Untuk saling bergandengan tangan sesama perempuan tanpa berkasta-kasta lagi. Sebab peran ini berat, semoga Allah senantiasa menjaga kita, untuk bersama-sama membangun peradaban. Aamiin..

Oh ya, konferensi Ibu Pembaharu ini masih bisa disimak ya, hingga tanggal 15 Januari 2021. Silakan kunjungi website konferensiibupembaharu.id. Semoga ilmu yang didapatkan di sana bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

Menjadi Ibu Pembaharu?

Maka apabila kamu telah selesai dari satu amalan, lanjutkan dengan amalan berikutnya. Dan kepada Allah saja hendaknya kamu berharap.

Alhamdulillah. Ada haru, bahagia sekaligus rasa sedih yang muncul menghinggapi diri ketika etape kelas bunsal akhirnya menemui ujungnya. Ujung yang berkelanjutan, tentunya. Selepas ini, akan ada dua jalan : Selesai di Bunsal dan berkarya di tempat lain atau melaju untuk membesarkan impact di ekosistem ibu pembaharu.

Haru dan bahagia karena Allah berikan kesempatan menimba ilmu kepada ibu Septi Peni Wulandani hingga tuntas di etape terakhir institut ibu profesional. Sosok yang kala itu memberikan sebuah quote yang sangat menghujam bagi saya yang baru akan melanjutkan jalan menuju jenjang pernikahan.

Kaki kita boleh di rumah, tetapi karya dan pemikiran kita bisa ke mana-mana. (Septi Peni Wulandini)

Kalimat yang jelas menyatakan kebanggaan sebagai seorang ibu rumah tangga. Saya semakin merasakan powernya setelah tuntas menyelesaikan tahapan Bunsal, karena di sepanjang perjalanan ini, Bu Septi membagikan kepada kami para mahasiswi, bagaimana beliau memulai Ibu Profesional, yang kini telah menjadi wadah belajar para ibu di berbagai penjuru dunia. Dari rumah, untuk dunia. MasyaAllah barakallah bu.. jazakillah khayran.. 🥰

Sedih, karena merasa masih belum bisa dikatakan lulus, masih jauh dari kata bermanfaat. Masih jauh dari kriteria penuntut ilmu yang maksimal. Saya sadar diri bahwa upaya saya tak semaksimal mahasiswa lain. Namun, saya berusaha semampunya, dengan memperhatikan lampu kuning dan lampu merah dari keluarga saat menjalani perkuliahan ini. Sehingga, ada kalanya saya tidak bisa menonton materi secara live, saat suami/anak ada kepentingan.

Kini, di penghujung kuliah ini, saya kembali menengok ke belakang, melihat jejak-jejak pembelajaran…

Satu, memahami masalah, mencari akarnya.. Masalah yang tampak adalah tumpukan sampah di rumah, tapi akarnya ternyata berujung pada kesadaran bahwa selama ini terbiasa melihat hasil tanpa menikmati proses. Semua itu membuat energi lekas habis saat terlalu terobsesi dengan hasil.

Dua, belajar mencari tim, dan alhamdulillah Allah mempertemukan dengan Mba Via dan Fani. Saya sama sekali tidak nenyangkan akan melanjutkan proses bertiga, ada rasa deg-degan. Mampukah?

Sebab, menjadi leader benar-benar memaksa saya keluar dari zona nyaman saya. Hasil tes ST30 menyatakan bahwa kelemahan saya adalah berkaitan dengan orang, dan yang paling lemah adalah sebagai commander. Jadi, memang terasa sekali, saya perlu mengeluarkan energi lebih. Di awal terasa sangat berat, ingin mengibarkan bendera putih. Saya terbantu (sekaligus terengah-engah) dengan questival kemerdekaan yang rupanya memang ditujukan untuk membangun bonding dalam tim, dan saya mulai beradaptasi dari sini. Berbekal belajar dari para leader saat saya berada di bawah kepemimpinan mereka, bismillah di etape ketiga, saya tetap mempertahankan tim Tazkiya. Kami pun memahami masalah bersama dengan metode starbursting.

Empat, kami menetapkan tujuan. Saya kembali browsing tentang minim sampah, dan merasa berada pada jalur yang in syaa Allah tepat saat menetapkan tujuan yang SMART ini. Di sini saya kembali sadar bahwa sebelum ini, saya menetapkan tujuan yang tidak realistis dalam berminim sampah, sehingga akhirnya menyebabkan insecure berkepanjangan.

Lima, saatnya kami beraksi… Kembali di sini saya harus keluar dari zona nyaman karena kami perlu membuat medsos dan menyiarkan aksi. Awal-awal, penuh tsunami informasi maupun distraksi, namun akhirnya semakin ke depan semakin bisa beradaptasi. Adapun perjalanan aksi kami terekam dalam video ini.

Enam, kami melihat bahwa aksi ternyata tak semulus rencana… di sini diuji betul bagaimana reaksi kita sebagai hamba.. 🥲

Ketujuh adalah refleksi. Begitu tergiur dengan kalimat ibu, bagaimana kita meninggalkan legacy agar ada jariyah yang mengalir setelah kita tiada nanti… Sehingga di sini kami diajari pola bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat.

Ahh.. dan sampailah saya di sini. Termenung. Menatap tabel indikator kelulusan diri yang dulu telah saya tetapkan.

Semua berkaitan dengan cara hidup yang lebih mindful. Salah satunya adalah dengan tidak mudah menyesali sesuatu yang telah terjadi. Rasanya masih banyak hal yang belum lulus, tetapi semoga kisah di bawah menunjukkan progress yang berarti…

Suatu ketika, si kecil sakit dan makanan yang tersaji bukanlah makanan berkuah, sangat tidak pas di lidahnya. Suami mengusulkan untuk membeli bakso, dan si kecil setuju. Saya sepakat, meski berat, karena artinya akan ada sampah masuk. Namun, daripada si kecil tidak bisa makan, seharusnya ini keputusan tepat. Apalagi, biasanya ada bakso lewat di depan rumah. Harapannya saya bisa memakai mangkuk sendiri, sehingga tak perlu sampah g* food. Aha! Beneran lewat. Sayang kecepatan saya memakai jilbab kalah dengan laju si bapak bakso. Spontan ingin menyesal, kenapa suami tidak gercep juga? Tapi, yang keluar dari lisan adalah.. “Ya sudah, mungkin rezeki bapak Bakso yang lain… Nanti plastiknya dicuci aja.. yang penting request tanpa sambel ya biar ngurangi sampah sambel” . Spontan, suami berkata “enak kan? Kalau legowo..”

Jika aku yang dulu terobsesi dan ingin buru-buru melihat tempat sampah yang kosong, kini lebih berdamai, mencoba sabar saat ada hal-hal di luar harapan. Mencoba sabar terhadap proses, dan mengevaluasi jika ada yang tak sesuai harap. Nyatanya, sang guru belajar zero waste saja mengatakan bahwa yang terpenting adalah proses.. bukan semata mengosongkan tempat sampah.. Ya, bumi tidak perlu manusia sempurna, tapi manusia yang berusaha..

Penyemangat dari Bu DK, guru belajar zerowaste 🥰

Tak terasa, ini adalah akhir dari perjalanan Bunsal, tetapi semoga diri tetap besemangat untuk melanjutkan perjalanan berikutnya… bismillah…

Tazkiya Project Story #2 : Belajar Mindful

Hendaknya fokus kita kepada diterimanya sebuah amal, jauh lebih besar dibanding fokus kita dalam melakukan amalan itu sendiri (Ali bin Abi Thalib)

Saya menyadari bahwa saya orangnya sering tergesa-gesa menginginkan hasil yang instant. Hal ini pun diamini oleh suami yang melihat saya, sekali ingin berubah, inginnya langsung berubah semuanya. Sim salabim! Sekali berkarya, inginnya langsung terlihat WOW! Ya ngos-ngosan lah… Saya juga sulit menyikapi sebuah distraksi : apakah harus ditanggapi ataukah bisa diabaikan. Itu sebabnya ketika saya sedang mengerjakan sesuatu, lalu tiba-tiba muncul lintasan pikiran, ada kalanya saya malah larut dalam lintasan pikiran itu.

Mengapa saya seperti ini? Mengapa saya tidak sabar menjalani setiap proses kehidupan? Mengapa jika membaca novel, saya sering melompati halaman-halamannya agar bisa cepat selesai? Mengapa bagi saya, kegagalan tampak begitu menyedihkan?

Lalu saya pun menemukan akarnya, yakni saya sudah terbiasa melihat segala sesuatunya beres, tanpa saya terlibat proses di dalamnya! Inilah sebabnya mengapa saya takut gagal jika keluar zona nyaman dan lebih suka orang lain yang memutuskan segala sesuatunya untuk saya. Yang kedua, kurangnya muroqobatullah. Iya, kalau yakin Allah Maha Melihat kan mestinya santai aja kan apapun hasilnya, selama prosesnya bener. Kalau masih suka nyesek ama hasil, nggak sabar, artinya keyakinan kalau Allah Maha Melihat masih belum menancap kuat kan? Keyakinan kalau Allah Maha Adil, masih belum menancap kuat kan? Kalau masih punya mindset yang penting dapet, emangnya Allah udah pasti ridho ketika kita dapet itu? Bahkan Ali Bin Abi Thalib mengatakan bahwa hendaknya fokus kita agar amalan itu diterima, jauh lebih besar daripada mengerjakan amalan itu sendiri.

Jangan sampai mengejar amalan, eh ternyata Allah nggak ridho karena pada prosesnya ada sesuatu yang miss. Misalnya, saat hendak mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam untuk mengusap/mencium hajar aswad. Jika kondisi begitu ramai dan berdesak-desakan, yang jika kita memaksakan diri justru akan menzalimi orang lain, apakah kita akan tetap melakukannya? Padahal menjaga diri dari menzalimi orang lain justru hukumnya wajib sedangkan mencium hajar aswad hukumnya sunnah.

Aih, alangkah sering kutertipu… Lewat Tazkiya Project, alhamdulillah belajar lebih mindful. Belajar berproses lagi, melakukan remidial minim sampah. Mensyukuri setiap apa yang bisa dilakukan tanpa tertekan. Bukan terobsesi ingin cepat-cepat melihat tempat sampah kosong, tapi lebih ke menyadari kondisi diri dan melakukan apa yang paling dimampu (sesuai milestone Tazkiya). Benar-benar bersyukur ketika membaca insight dari mba Via , salah satu tim Tazkiya, bahwa meski aksi kami terkesan gampang banget (“cuma” mencegah 1 sampah per bulan lho ) tapi rupanya bisa membentuk konsistensi, dan mengubah mindset. Akhirnya, karena berorientasi proses, ketika ada Zero Waste Fail, ya nggak terlalu terpuruk…

Nah, PR nya adalah bagaimana menggaungkan gerakan minim sampah ini, karena kita sudah tahu diri, sadar kalau diri ini nggak sempurna, oleh karenanya perlu semakin banyak orang yang kenal dan akhirnya mempraktekkan gerakan minim sampah ini di kotak masing-masing. Mudah-mudahan meski pelan seperti siput, Tazkiya Project bisa memberikan edukasi minim sampah lewat kanal medosmya ya..

Tazkiya Project Story #1 : Pelajaran dari Berbenah

Suatu ketika, saya dan si kecil sibuk mencari barang di kamar yang berantakan. Aktivitas ini berlangsung sedemikian sering, membuat saya berpikir, betapa tidak enaknya jika ini terjadi pada hati kita. Kita mencari takwa, tapi di hati, hanya ada keruwetan, sisa-sisa kotoran yang belum dibersihkan.

Itulah awal mula Tazkiya Project. Bermula dengan membereskan keruwetan fisik, berujung dengan membereskan keruwetan hati. Dengan tekad itu, saya akhirnya membuka kembali buku Konmari : The Life Changing Magic of Tidying Up. Rupanya, setelah membaca ulang, memang ada benang merah antara berbenah fisik dengan hati, bahkan awal mula berbenah rumah adalah dengan membenahi mindset terlebih dahulu.

Konmari bercerita bahwa dulu saat mau ujian, beliau justru malah beberes kamar sebelum belajar. Tapi saat ujian usai, keinginan berbenah itu lenyap. Ini mirip sekali dengan saya. Rupanya, saat akan ujian, muncul keruwetan di pikiran yang akhirnya menuntut untuk dibereskan, alhasil hasrat beres-beres kita pun tinggi.

Nah, dalam metode konmari, sebelum menata rumah, hal yang dilakukan terlebih dahulu adalah decluttering, menyeleksi barang, fokus pada apa yang ingin disimpan. Jika konmari mengambil benda satu per satu dan menanyakan “Apakah ini sparks joy” untukku?, kita sebagai muslim bisa mengubah pertanyaannya menjadi “apakah benda ini kira-kira meringankan/memberatkan hisabku kelak?”

Proses decluttering ini rupanya bisa menjadi sarana untuk lebih mengetahui kebutuhan diri. Selain itu, dari proses ini kita jadi bisa melepaskan diri dari rasa kemelekatan. Akhirnya, hal-hal yang selama ini kita genggam erat-erat padahal ternyata itu menyakiti kita, bisa lebih mudah dilepaskan. Kita juga bisa berlatih untuk ridho terhadap takdir, melepaskan ambisi duniawi yang overdosis dan lain sebagainya.

Efeknya, saat hendak mengambil sebuah amanah atau melakukan sesuatu, kita jadi bisa berpikir ulamg. Ini baik untukku? Allah ridho tidak? Waktunya cukup? Bisa istiqomah? Saya sendiri menuliskan salah satu indikator kelulusan di Bunsal adalah apabila saya bisa melakukan sesuatu karena memang BUTUH, bukan karena ikut-ikutan, atau karena impulsif. Ini perlu sekali ditekankan karena berkaca dari perkuliahan Bunda Produktif, energi saya habis akibat euforia mengikuti ini dan itu tanpa memetakan kebutuhan diri. Walaupun efeknya, di Bunsal ini beneran seperti slow living 😅 alon alon asal kelakon. Kadang, karena terbiasa mengejar sesuatu, cara seperti ini bener-bener terkesan aneh. Pikiran “Lemah amat kamu sih, Nin. Idih, segini doang?” 🙈 masih sering bermunculan. Namun, senengnya jadi lebih mindful.. memang sikap proporsional itu perlu dilatih ya. Gak lalai tapi juga gak over. Dan ini juga belum tahu apakah jatuhnya ke lalai atau nggak, mudah-mudahan enggak ya 😔

Di masa perkuliahan ini saya juga belajar “melepaskan” beberapa hal dalam hidup. Saya jadi lebih mindful kenapa saya ambil peran di rumah, kenapa saya lepaskan lowongan ini dan itu. Pun di waktu yang sama, alhamdulillah saya belajar untuk menghormati pilihan orang lain yang berbeda dengan saya. Baper saya berkurang jika ada yang bertanya apa kesibukan saat ini. Tentu saja masih berproses siih… Di sini juga akhirnya bisa mempraktekkan mantra bu Septi tentang “Menarik, tapi tidak tertarik.”

Iyaa lho, di IIP kalau nggak punya mantra ini bisa tenggelam dalam arus informasi 😂 Secara, banyak sekali acara IP yang keren, tapi masak iya sih kita mampu mengikuti semuanya? Akhirnya ya, lakukan apa yang bisa dilakukan. Bisa support dengan kehadiran ketika acara tersebut relevan dengan kebutuhan? Yuk hadir. Nggak bisa? Ya support dengan doa atau bantu menyebarkan acara.

Nah, untukmu yang punya keruwetan di pikiran, cobain deh proses decluttering ini. Mudah-mudahan bisa membantu. Jangan lupa, tetap bertanggung jawab terhadap barang hasil decluttering ya! Kita bisa memilahnya dan bisa menyumbangkan melalui pihak-pihak yang dipercaya. Saya sendiri, saat berbebenah beberapa bulan yang lalu, mencoba layanan Bberes. Id. Silakan bisa cek di IGnya ya! Selamat berbenah 🙂

Review Untuk Tim Kaizen

Pada Bab ApresiAksi ini, alhamdulillah saya dipertemukan dengan Mbak Mia lagi, kawan satu co house di CH 3 kepenulisan. Dari jurnal mbak Mia, saya jadi lebih memahami lagi materi ApresiAKSI. Mbak Mia menuliskan dampak langsung dan tidak langsung dari aksi tim kaizen berupa mini workshop anakku problem solver. MasyaAllah tim mbak Mia sudah menjangkau kalangan luar dengan adanya workshop ini. Dengan menuliskan dampak ini, akhirnya tim benar-benar bersemangat untuk melakukan analisa dampak.

Strong why untuk analisa dampak

Tabel analisa tim pun sangat runtut prosesnya. Memang semua dimulai dari edukasi di scope kecil, hingga akhirnya jika bisa dipraktekkan oleh banyak keluarga, maka impact semakin luas. Semoga semakin bermanfaat ya mbak, aamiin.

TOC tim kaizen

Untuk The Logic Modelnya,masyaAllah komplit. Tazkiya jadi belajar juga agar bisa lebih detail menuliskan indikator, users, verification source dan frequency per item. Asumsi yang ditulis pun sudah lengkap, positif dan negatif. Sekali lagi diingatkan juga, ketika users hanya melihat konten tapi tidak praktek, tidak diamalkan (asumsi negatif), maka dampak yang terjadi juga tidak akan luas.

Review The Logic Model

Manajemen resiko dan keputusan untuk menghentikan apa yang terlalu tinggi resikonya sudah tepat. Semoga Allah mudahkan untuk bisa berjalan sesuai timetable ya mbak.. semangat untuk tim Kaizen, semoga sesuai namanya, aksi tim ini bisa terus melakukan perbaikan secara berkesinambungan 🥰 aamiin

ApresiAksi : Sebuah Refleksi Aksi

Setelah melakukan aksi, langkah yang ditempuh selanjutnya adalah menganalisis dampak dari aksi yang telah dilakukan. Kenapa? Supaya kita mengetahui dampak langsung dan tak langsung, adanya ruang perbaikan, dan mengetahui sudut pandang dari penerima manfaat.

Di Tazkiya project, kami merasa perlu melakukan analisa dampak, supaya tahu apa yang perlu diperbaiki dalam aksi, dan tahu apakah sebenarnya aksi kami melakukan pencegahan sampah ini bermanfaat?

Strong why

Untuk menganalisa dampak tersebut, salah satu tools yang bisa dipakai adalah TOC (Theory Of Change) yang terdiri dari input yakni apa saja yang kita miliki (contoh: training pants, jurnal catatan sampah), activity yakni apa saja yang kami kerjakan (contoh : melakukan aksi cegah sampah selama sebulan). Kemudian, output dari aksi yakni berupa berkurangnya volume sampah dilihat dari before after jurnal catatan sampah. Alhamdulillah sejak melakukan aksi cegah sampah pospak, dari yang tadinya habis minimal 3-4 pospak menjadi hanya 1 pospak sehari dan terkadang 2. Selanjutnya, dilihat outcomenya yakni dampak jangka pendek di mana sampah yang dikirim ke TPA pun bisa berkurang. Impact berupa dampak jangka panjang. Kami berharap dengan adanya aksi ini, turut berkontribusi pada penyelesaian masalah sampah untuk keberlangsungan hijaunya bumi, in syaa Allah.

TOC Tazkiya project

Setelah menuliskan item pada TOC, langkah selanjutnya adalah membuat asumsi-asumsi untuk dipetakan pada The Logic Model. Jika kami memiliki jurnal sampah dan amunisi mencegah sampah serta kami konsisten, maka kami akan mampu mencegah 1 sampah selama 1 bulan. Sebaliknya, jika tidak konsisten, target tak tercapai atau turun level.

The Logic Model

Dengan adanya The Logic Model di mana asumsi terburuk adalah ketidakonsistenan kami, maka perlu pula dilakukan manajemen resiko, yakni mendata apa yang membuat tidak konsisten. Dari jurnal sebelumnya, hal yang membuat to do list tak berjalan adalah adanya kejadian di luar rencana. Dengan adanya manajemen resiko, ketika plan A tidak berjalan, kita masih ada plan B sehingga harapannya tetap bahagia menjalani setiap proses. Waahh ini menjawab kegalauan di jurnal sebelumnya ketika merasa kecewa dengan hasil yang ada. Padahal setelah direnungkan dengan hati yang damai, justru kemarin ketika anak sakit diare, malah justru terlihat upaya taturnya berjalan cukup baik karena anak bisa pup di toilet sehingga pospaknya tidak kotor. Alhamdulillah terlihat juga dampak tak langsung ke suami, yang menyatakan sudah lama tidak beli pospak.

Manajemen Resiko

Setelah menuliskan manajemen resiko, langkah terakhir adalah melakukan refleksi. Manakah yang sudah baik, manakah yang harus diberhentikan dan apakah yang akan dilakukan lagi? Sejujurnya di bulan kedua ini, aksi yang akan kami lakukan adalah mencegah satu sampah lagi dari daftar. Saya memilih melanjutkan upaya yang dirasa belum optimal di aksi pertama, yakni memasak sendiri saat weekend, tetapi jujur, rupanya hal ini masih berat, sehingga saya beralih untuk mengurangi plastik pembungkus sampah residu yang akan dibuang ke TPA.

Refleksi

Dari perjalanan aksi kami, saya jadi lebih menyadari bahwa minim sampah ini adalah berlatih membentuk mindset. Semakin sadar bahwa hal ini memerlukan proses panjang. Dalam perjalanan, ada up and down. Masih banyak apa yang disebut zero waste fail, misalnya ketika mau masak, ternyata anak sakit, tidak bisa ditinggal, akhirnya bahan jadi mubazir dan juga terpaksa order makanan online lagi. Selanjutnya ada pula jajanan dari luar yang tentunya tak etis jika ditolak. Namun, kali ini kegagalan itu tidak membuat down. Rupanya, akar masalahku selama ini bukan sekedar sampah, tapi lebih kepada mental. Pribadi yang terlalu menginginkan kesempurnaan, pribadi yang tidak menikmati proses dan hanya berorientasi hasil. Padahal, hasil itu mutlak hak Allah. Kita hanya perlu melakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Maka alangkah rugi jika hanya ada gerutu ingin cepat sampai, saat sedang menjalani proses. Alhamdulillah, Allah bukakan jalan mengobatinya lewat proyek Bunsal ini…

Masker Sebagai Bukti Peduli : Sebuah Review Untuk Mba Pranita

Saat kondisi terasa sangat gelap, cobalah berprasangka baik, barangkali kitalah yang diminta untuk menjadi cahaya yang menerangi.

Alhamdulilllah, lagi-lagi saya dipertemukan oleh buddy dalam kondisi yang pas, yakni ketika saya tengah resah terhadap lingkungan yang ketika memasuki era new normal, mulai sedikit kendor menerapkan prokes.

Aksi yang akan dilakukan oleh mba Pranita dan tim Ibu Pembaharu Kesehatan adalah membagikan masker di wilayah sekitar. Tim sudah memesan masker di kipma jogja, dan akan membagikannya sekitar bulan November. MasyaAllah…

Aksi mbak Pranita dan tim membuat saya teringat tentang hal yang di luar kontrol dan hal yang ada di dalam kontrol. Perilaku orang lain adalah hal yang tak bisa kita kontrol, sementara kita bisa bermain di kotak kita sendiri, melakukan apa yang kita bisa. Bagaimanapun sikap orang sekitar, kita tetap bisa memilih apakah akan ikut-ikutan longgar atau memberikan ikhtiar terbaik. Tak lupa berdoa dan bertawakal kepada Allah saat harus berada di situasi yang tak kondusif.

Semua yang sudah dilakukan tim mbak Pranita sudah baik. Mungkin bisa ditambahkan riset tentang mengapa orang-orang tidak memakai masker, kemudian bisa diberikan edukasi sesuai dengan alasan-alasan tersebut. Semoga Allah mudahkan aksinya ya mba, aamiin 🙂