Binar Mata Anak #17

Minggu ini, kegiatan rutin kami adalah pergi ke Kajian Ahad Pagi di MUI. Yang bikin tumben, kali ini si kecil diam menyimak sambil makan richee*e dan untuk pertama kalinya nggak main naik turun tangga di masjid. Mungkinkah dia masih ngantuk? 😂 

Sehabis dari masjid, kami bernostalgia ke Jalan pinang, rumah kontrakan yang dulu. Niatnya sih pengen makan bakso favorit suami, ternyata belum buka. Kepagian sih. Alhasil kami sarapan di surabi bandung. Si kecil antusias cuci tangan. Dia juga menunjuk pengering tangan dan bilang “Wima takut ini. Takut angin.” Tampaknya dia masih ingat saat dulu makan di sini bareng yangti dan yangkung. Ingatannya luar biasa memang. Si kecil juga hafal tempat di Fakultas teknik di mana dia biasa menjemput ibunya saat pulang kesorean. 

Sorenya, kami ke Coffee Toffee untuk menyimak presentasi dari Buka Buku Mata gara, Peduli Buku, Sedekah Buku, dan satunya lagi lupa, soalnya nggak ngikutin sampai selesai karena si kecil  cranky. Salah satu pembicaranya adalah teman SMA saya, Dita, sebagai founder Peduli buku. Niatnya sih pengen sekalian ngobrol, tapi apa daya kalau bawa anak emang nggak bisa lama-lama. Acara ini membicarakan tentang pentingnya literasi hingga ke pelosok negeri, menjelaskan apa saja yang harus dilakukan jika akan membuka taman baca di daerah pelosok, karena di suku dalam ada yang memandang literasi itu hal yang tabu. Kemudian, dalam membuat taman baca juga harus disortir sesuai rentang usia, dibuat rak-rak, pustakawan juga harus tahu isi buku, tidak bisa mengandalkan label dari penerbit karena 

Iklan

Binar Mata Anak #16

Hari Sabtu adalah hari yang selalu ditunggu, karena bisa family time plus sedikit nyantai karena ada bantuan dari pak suami 😆 

Hari ini, si kecil membantu ayah mengganti ban dan bermain playdough. Malamnya, kami bermain rumah-rumahan menggunakan buku, lego, boneka bebek, dan boneka kucing. Ceritanya mau mengajarkan adab bertamu kepada si kecil. Si kecil menyimak drama kami dengan antusias. 

😺 : Tok tok tok. assalamu’alaikum

🐥 : Wa’alaikumsalam. Eh haoo, ayo ayo silakan masuk.

Lalu kucing dan bebek bermain bersama. Setelah itu, hao pun pamit pulang pada bebek.

😺 : Pulang dulu ya bebek. terima kasih. assalamu’alaikum

🐥 : Wa’alaikumsalam.

Poin penting yang pengen diajarkan  di sini adalah memberi salam saat berkunjung ke rumah teman. Setelah itu, saya asyik membuatkan wortel dari playdough, mau buat restoran pura-pura. Namun si kecil tidak tertarik dan justru membangun rumah-rumahannya sendiri dan meniru drama kami tentang bertamu. :)😂 Alhamdulillah… Dari sini terlihat dia cukup berbinar dengan mainan drama-dramaan ini.


Ah, anak kecil sepertinya memang takkan menolak kisah. Nah, sudahkah kita memberinya kisah yang baik? Semoga kita selalu dimampukan. Aamiin.

#day16 #level7 #tantangan10hari #bintangkeluarga #kuliahbunsayIIP

Binar Mata Anak #15

Jumat berkah! Hari ini, sehabis bangun tidur, si kecil tumben-tumbennya minta dibacain buku. Buku yang dimaksud si kecil adalah buku “Phonic Based on Al Qur’an” karya Julia Sarah Rangkuti. Buku ini baru tiba di rumah hari Selasa lalu, dan si kecil selalu menyebut “Buku Bapak!” (Maksudnya buku yang dianter oleh bapak-bapak a.ka. kurir waha*a) 

Sejujurnya, buku ini sedikit meleset dari ekspektasi saya. Maklumlah, lihat iklannya aja pas last day harga PO, cuma kepincut judul, terus berekspektasi kalau bukunya bisa dibunyiin, ada touch and tracenya, dan ada kisah Al Qur’annya. Sama sekali nggak nanya-nanya ke yang jual, langsung pesen aja.

Ternyata, di buku ini ada touch and trace, tapi nggak bisa bunyi. Jadi, orang tuanya yang ngomongin per huruf gimana fonetiknya. Kisah Al Qur’an dicantumkan suratnya, dan diberi hikmah serta ilustrasi, tapi kita sendiri yang harus berkisah. Makanya, suami bilang ini buku yang sulit. Motivasi buat hafal Qur’an inii mas 😂

Kalau reaksi si kecil? Karena mungkin masih berumur 2 tahun, dia lebih antusias terhadap gambar-gambarnya, menyebutkan gambar apa itu. Misal di huruf “A”, dia semangat bilang anggur. Lalu dia ngehubungin ke hal-hal lain. Si kecil masih belum betah nyimak banyak, karena dalam satu huruf mengandung satu kisah, yang artinya hanya ada satu ilustrasi, sementara si kecil lebih suka satu kalimat satu ilustrasi 😂 Makanya buku ini masih perlu disimpan dulu. Saat ini cukup untuk pengenalan huruf aja. Namun, sebenarnya dia selalu berbinar jika dikasih cerita, dan juga menceritakan ulang versi dirinya, asal ada gambarnya. Ini juga yang menguatkan motivasi saya untuk segera merealisasikan mimpi : membuat buku cerita sendiri. Aamiin. Semoga bisa!

#day15 #tantangan10hari #kuliahbunsayIIP #bintangkeluarga #level7

Binar Mata Anak #14

Pagi bersama  si kecil di hari ini diawali dengan tangis sehabis bangun tidur. Dideketin, ditanya ada apa, eh sayanya diusir 😐 Di saat seperti ini, akhirnya mengingat-ingat teori komunikasi produktif. Saya mencoba berempati. Feel as her. Oh.. mungkin masih kaget karena habis bangun tidur ya… Yasudah, saya beri dia jeda tapi sambil dilihatin dari jauh biar nggak disakiti. Akhirnya dia mau anteng. Saya dekati lagi, eh diusir lagi, nangis lagi. Saya tinggal lagi, bikin mi. Kemarin udah janji kalau si kecil boleh makan mi hari ini. Setelah tangisnya reda, saya dekati lagi. Si kecil udah mau disentuh lengannya. Artinya, kondisi sudah tenang. 

“Makan mi yuk!”

“Miiii” Ujarnya girang. Seketika semua permasalahan tadi seolah nggak pernah terjadi. ckck.. dinamika terrible two 😅 Beneran perlu stock sabar yang buanyaaak.

Selanjutnya setelah makan mi, saya ajak dia main air sembari saya mencuci bajunya. Anak memang nggak akan nolak kalau diajak main air yaa.. Selepas cucian beres dia pun mandi.

Hari ini si kecil tampaknya bosan dengan playdough. Dia lebih senang bercerita ngalor-ngidul hari ini. Cerewetnya muncul. Bahkan sampai pura-pura konser nyanyi memakai wadah tupperw*re sebagai pijakan kaki (ceritanya panggung, mungkin). Selepas makan siang, dia juga lebih memilih corat-coret di papan putih miliknya sambil bercerita. Hari ini, yang membuatnya berbinar adalah kemampuan merangkai kata, apalagi jika merasa didengarkan ibunya.

Kecerewetan si kecil memang harus disyukuri, jika mengingat mungkin di luar sana banyak anak terlambat bicara. Namun jika hati sedang tak jernih, kecerewetan itu memang terasa sangat berisik di telinga… Semoga senantiasa bisa memiliki hati yang jernih agar ia tetap berbinar dalam menyampaikan cerita…

#day14 #level7 #kuliahbunsayIIP #bintangkeluarga #tantangan10hari 

Binar Mata Anak #13

Rabu hectic di pagi hari. Saya lupa kalau si kecil harus ke daycare. Bukannya nyiapin keperluan si kecil dan beberes rumah, sehabis suami pergi, saya justru bengong di depan HP mentang-mentang si kecil masih tidur. Ini efek semalam ketiduran, padahal biasanya jadwal si kecil tidur adalah jadwal saya ngecekin pesan masuk. Alhasil, saat si kecil bangun, saya masih menyetrika. 😅 Alhamdulillah si kecil kooperatif. Setelah selesai menyetrika, saya mengajaknya beli sayur, beras, dan mampir beli nasi uduk buat sarapan. Maklum, semua bahan di rumah sudah habis. 

Selepas semua beres, kami mulai bermain masak-masakan. Ya, si kecil masih suka banget mainan ini. Dia memasukkan sendok-sebdokan ke dalam perkakas untuk membuat es krim. 

“Nggak muat. Nggak muat.” Ujarnya

Saya lihat, memang sendok yang dimasukkan berukuran besar. 

“Iya, kan sendoknya lebih besar. Kalau yang sendok kecil bisa. Lagipula fungsinya kan bukan buat dimasukin sendok” Jawab saya. Sekalian si kecil belajar lagi tentang ukuran. Stimulasi saya kok kebanyakan logis-matematis ya? 😂 Tapi anaknya juga mau kok.

Setelah itu, dia kembali asyik bermain masak-masakan, sebelum akhirnya pergi ke  daycare. Pagi ini saya merenung panjang. Mencoba berempati, merasakan apa yang si kecil rasakan. Betapa seharusnya saya berterima kasih padanya. Perasaan tidak mau berpisah yang akhirnya selalu bisa ia terima setiap saya bilang

“Nanti kan kita ketemu lagi sore. Sekarang ketemunya sama temen-temen dulu.”

Ah, saya jadi baper tiap kali membahas ini. Semoga ada jalan untuk ‘pulang’ ke rumah, jika memang itu yang terbaik. Untuk saat ini, mungkin jalan kami masih harus seperti ini… Yang terpenting, semoga masih tetap bisa memiliki bonding yang kuat. Toh, seperti yang sering saya bilang padanya, waktu berpisah ini hanya sedikit dibandingkan waktu bersama… Tetap berjuang untuk memberikan kualitas terbaik untuk si kecil. Kekuatan untuk bisa menerima kondisi sekarang bisa meningkatkan kecerdasan spiritual (SQ) kan? Nantinya, apapun bentuk kecerdasan yang dimiliki, tetap harus memiliki SQ yang baik. Semoga kami bisa. Aamiin 

#day13 #level7 #kuliahbunsayIIP #bintangkeluarga

Binar Mata Anak #12

Tak terasa sudah memasuki hari kedua belas dalam menjalankan tantangan games level 7. Dulu, niat hati bikin jadwal bermain supaya lebih rapi. Apalagi, salah satu resolusi saya di tahun 2018 adalah ‘merapikan segala sesuatu dalam hidup’. Semoga bisa menjadi manajer keluarga yang lebih rapi, supaya hidup lebih teratur. Namun, sesuatu yang out of the  schedule nggak melulu jelek sih. Apalagi jika terkait ide-ide kreatif si kecil. Diminta main ini, ternyata jatuhnya begini. Dulunya sih sedih karena berasa nggak guna bikin permainan dan  jadwal, tapi sekarang saya menikmatinya.

Hari ini, si kecil bangun pukul 6.30. Bukannya langsung mandi dan sikat gigi seperti di lagu, dia malah langsung ngajak main playdough. Sesuatu yang baru memang selalu menarik yaa buat anak kecil. Karena si kecil belum bisa membuat bentuk-bentuk, saya membuatkan bakso-baksoan ataupun sosis-sosisan untuk dipotong-potong memakai pisau mainan. Ini supaya si kecil merasa terlibat di permainan playdough. And she looks happy, alhamdulillah.

Selanjutnya, si kecil menemani beres-beres rumah dan mencuci sebelum dia mandi. Lalu kegiatan rumah pun dimulai. Mainan lego, ngemil richeese, ngasih makan kucing, bantu menjemur, dan akhirnya bantu memasak. Selama memasak, saya memberinya makaroni kering untuk disendoki, dan dia  enjoy. Lalu, dia menghilang dari dapur dan tiba-tiba menghampiri saya dengan berbinar-binar.

“Makaroni, kaki robot!” Olala, ternyata dia memasukkan makaroni kering tersebut ke kaki robot. MasyaaAllah kreatifnyaa. Setelah itu, dituangnya makaroni kering tersebut ke dalam sup yang sudah diwadahi 😅

Selanjutnya, si kecil menemukan foto dirinya. Saya pun berinisiatif membuat pohon keluarga. Si kecil antusias menempel foto dan juga mewarnai pohonnya. Selanjutnya, saya tinggal dia sebentar untuk menanak beras. Tiba-tiba dia menyeret saya untuk melihat sesuatu. Tadaaa  ternyata, foto-foto tadi dia tutup dengan cetakan playdough yang gambar anjing dan beruang. Lalu dengan berbinar dia bilang

“Guguk! Beruang!” Masyaa Allah. Saya memujinya. 

Kesimpulan bermain hari ini adalah si kecil tampak sangat senang jika berhasil membuat sesuatu yang baru, dan dia suka mengomunikasikannya pada orang lain. Kita lihat besok lagi yaa.. apa yang akan membuatnya berbinar lagi?

#day12 #level7 #tantangan10hari #kuliahbunsayIIP #bintangkeluarga

Binar Mata Anak #11

Siapa yang waktu kecil hobi bermain lilin a.ka playdough? Mainnya seru kan yaaa… kita bisa membuat berbagai macam bentuk menggunakan dough. Nah, tema main si kecil hari ini adalah playdough. 

Saya menggunakan ide dari Rumah Main Anak karya Julia Sarah  Rangkuti tentang tebak bentuk menggunakan playdough. Caranya, lego ditempelkan ke playdough, lalu diangkat setelah dirasa membentuk. Nah, anak diminta menebak bentuk yang mana yang dicetak di playdough tersebut. Si kecil antusias, tetapi permainan tebak bentuk tersebut langsung digiringnya menjadi permainan tumpuk-tumpuk abstrak antara lego dan playdough. Alhasil ada dua warna yang tercampur, yakni biru dan merah. Huehue, padahal ayahnya mewanti-wanti kemarin agar jangan sampai tercampur 😂

Playdough campuran tersebut akhirnya saya bentuk bulat-bulat, lalu saya tusuk seperti sate. Si kecil antusias mengikuti saya menusuk-nusuk. Matanya terlihat berbinar-binar. Hehehe. Permainan dough ini padahal pernah saya kenalkan saat si kecil masih berumur setahunan. Namun, saat itu dia sama sekali belum antusias. Mungkin memang belum momennya 🙂 Sekarang, dia tampak menikmati meskipun belum bisa membentuk. Sepanjang bermain, dia juga hobi berbicara a.ka. cerewet, misalkan menyebut warna dough, menyebut ‘tusuk-tusuk’, menyanyi lagu, dan sebagainya. Nampaknya memang logis-matematis,dan linguistik yang selama ini menonjol. Persis seperti ayah atau ibu. Mari kita lihat ke depannya.. 🙂

#day11 #level7 #tantangan10hari #kuliahbunsayIIP #bintangkeluarga