My Body Belongs To Allah (Konsep Thaharah pada Anak)

Hari terakhir, alias kesepuluh, presentasi dilakukan oleh mba Annisa Novita dewi, annisa wahyuningrum dan Bilkis mukhlisoti membahas My Body Belongs To Allah..Berikut resumenya.

Fenomena Masyarakat

Anak banyak dikenalkan tentang pendidikan seks, bukan pendidikan seksualitas. Pendidikan seks berarti seputar alat kelamin dan hubungan antar alat kelamin, sedangkan pendidikan seksualitas adalah agar anak bisa berpikir, bersikap, merasa sesuai jenis kelaminnya 

Apa yang terjadi saat kita mengajarkan seksualitas pada anak?

📌 mendidik anak mengenai proses kehidupan yang dimulai dari lahir, di masa balita, prasekolah, usia sekolah, praremaja, remaja, dan dewasa

📌diajarkan mengenai ciri kepribadiannya, memberikan identitas yang kuat mengenai perannya sebagai laki-laki dan perempuan, menginformasikan pengalaman menyeluruh mengenai menjadi laki-laki dan perempuan, serta dimensi peran gender

📌 memberikan pemahaman mengenai sikap, nilai, moral dan persepsi mengenai relasi yang sehat ketika anak menginjak dewasa serta bagaimana mereka harus menjaga kesehatan organ reproduksinya. 

📌takkan membuat anak ingin melakukan hubungan seks, tapi mendorong anak agar memiliki relasi positif dan pemahaman positif di masa depan tentang seksualitas.

Mengapa pendidikan seksualitas harus diberikan sejak dini?

🍀 menurut Elly Risman adalah karena  anak-anak sekarang tumbuh lebih cepat dari generasi orangtuanya.  Data temuan YKBH menunjukkan  48% anak laki-laki usia 10-11 telah mengalami mimpi basah dan 52% anak perempuan usia 9 tahun telah mengalami menstruasi.Penyebabnya adalah naiknyabhormon testoteron secara lebih cepat akibat makanan bergizi baik dan rangsangan kasih sayang keluarga yang cukup.

Tahapan Pendidikan Seksualitas Anak

📍Mengenalkan dan memberikan nama alat kelamin sesuai dengan jenis kelamin anak, yaitu penis dan vagina pada usia 0-3 tahun

📍Ajari anak kegiatan toilet training dan cara membersihkan alat kelaminnya secara bertahap pada usia 2-3 tahun.

📍Memberikan informasi dan pemahaman mengenai peran gender laki-laki dan perempuan, mengajari privacy terhadap tubuhnya, dan menumbuhkan rasa malu pada usia 3-5 tahun

📍Perkuat pemahaman anak mengenai aturan atau norma sosial mengenai hal-hal pribadi pada usia 6-7 tahun.

📍Anak sudah diperkenalkan mengenai pubertas, yaitu tentang haid dan mimpi basah pada usia >= 8 tahun.

Anak praremaja mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai reproduksi secara biologis, STD (penyakit seksual menular) dan risiko kehamilan usia dini, serta hubungan pertemanan yang sehat dan hubungan yang tidak sehat.

Korelasi Fitrah Seksualitas dan Pendidikan Seksualitas

 Fitrah seksualitas dibangkitkan melalui pendidikan seksualitas atau gender. Manfaat pendidikan seksualitas : 

1. Mengerti dan Memahami besarnya kuasa Sang Pencipta. 

2. Mengerti dan memahami peran jenis kelaminnya. 

3. Menerima setiap perubahan fisik yang dialami dengan wajar dan apa adanya. 

4. Memperkuat rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri anak.

Fitrah seksualitas dalam Islam sangat penting untuk dibangkitkan sejak dini karena pemahaman terhadap fitrah ini akan membantu anak menggunakan potensi tubuhnya sesuai syariah yakni untuk beribadah kepada Allah, untuk taat hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama makhluk Allah.  Anak memahami bahwa dirinya adalah milik Allah dan berusaha menjalankan kehidupan sesuai dengan kehendak pemiliknya (My Body Belongs To Allah ).

Kaidah Pendidikan Seksualitas dalam Islam 

 1. Pendidikan seksual seperti pendidikan lain, memerlukan waktu dan tahapan. Bukan sebuah penjelasan singkat yang tiba-tiba.

2. Ilmu untuk menjaga kesucian harus diajarkan dengan cara dan bahasa yang suci, tidak vulgar.

3. Berikan pengetahuan seksual yang benar dan baik pada anak. Jika tidak, mereka akan mencari dari sumber lain yang keruh.

4. Fiqh adalah pintu utama dan paling mulia untuk pembahasan pendidikan seksual. Fiqh mengarahkan anak untuk memahami penyebab dan hukumnya,  bukan fokus pada aktivitasnya. 

5. Perlu ketenangan orangtua saat menerima pertanyaan anak-anak dalam bab ini dan menjawabnya dengan baik, benar, dan sesuai dengan usianya.

Fiqh pertama yang perlu diajarkan adalah Fiqh Thaharah, menyangkut cara memahami tubunhnya dan membersihkan diri. Wajib diajarkan sebelum aqil baligh.

Beberapa contoh penerapan thaharah dalam perkembangan anak

👶🏻 Fase sebelum tamyiz/mulai mampu membedakan (usia 0-6 tahun) 👶🏻

✅   Orangtua mengajari anak bahwa tubuhnya berharga. Misalnya orangtua senantiasa meminta izin bila ingin membersihkan bagian kemaluan anak, tidak mengumbar aurat bayi disembarang tempat.  

✅   Mengenalkan bahwa urin dan feses adalah “kotoran” yang harus dibersihkan sehingga anak senantiasa belajar berbilas sehabis berkemih atau buang air besar (menerapkan istinja’dengan benar). 

✅  Orangtua melatih anak menerapkan adab islami ketika buang air.  Anak laki-laki sudah dilatih sejak awal untuk berkemih dengan cara jongkok, tidak berdiri. 

✅  Mengenalkan sunnah fitrah awalan seperti kewajiban berkhitan pada anak laki-laki, memotong kuku, bersiwak.

👧🏻 Fase tamyiz (usia 7-baligh) 👦🏻

✅   Anak memahami perkara air, najis, dan hadats, wudhu dan tayamum. 

✅   Orangtua mengenalkan anak dengan sunnah-sunnah fitrah lanjutan seperti mencukur bulu kemaluan, memotong kumis dan merapikannya, mencabut bulu ketiak (hal-hal yang berhubungan dengan pubertas) 

✅   Orangtua menyiapkan anak memasuki fase baligh (mimpi basah dan haid), tata cara mandi wajib, mengenalkan anak dengan cairan-cairan yang keluar dari kemaluan.

Solusi Mengajarkan Thaharah

Solusi mengajarkan thaharah dapat dilihat dari infografis berikut :

Cara Menyiapkan Anak lelaki Menghadapi Mimpi Basah 

Biasanya ayah yang menyampaikan, meski ibu jg tidak apa-apa. Mulai dg sentuhan lembut di pundak, menggunakan panggilan sayang.

Cara Menyiapkan Anak Perempuan Menghadapi Haidh

Media Edukasi

Link tentang belajar kebersihan dengan cara menyenangkan

Link printable kamar mandi 

Link video pengantar pemahaman thaharah

#day10 #resume #level11 #kuliahbunsayIIP

Iklan

Agar Kecenderungan Seksual Terarah

Hari ke-9, giliran kelompok kami yang presentasi ( Mba Evi Oktaviani, mba Febriyani, dan saya). Berikut ini materi yang kami sampaikan.

Agar Kecenderungan Seksual Anak Terarah

Kecenderungan seksual diciptakan Allah swt pada diri manusia agar menjadi media kelangsungan dan reproduksi bagi seluruh makhluk, termasuk di antaranya manusia.Agar kecenderungan seksual dalam diri anak mengalir dengan tenang tanpa gangguan eksternal yang dapat menyebabkannya melenceng dari perilaku yang lurus, Islam menjaga anak-anak dengan memberinya perintah dan larangan.

Hal itu dilakukan agar kecenderungan seksualnya menjadi terarah, sehingga tetap menjadi pribadi yang proporsional dan suci tanpa penyelewengan.

Namun meski ada perintah dan larangan dalam Islam, ternyata _dari dulu hingga saat ini masih ada penyimpangan seksual yang terjadi. Kita bisa ambil pelajaran dari kaum Nabi Luth yang dikisahkan dalam QS Al-A’raaf ayat 80-81.Maksud dari penyimpangan seksual di sini adalah orang yang berpikir, bersikap, dan bertindak tidak sesuai dengan gendernya. Padahal, berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan gendernya merupakan fitrah seksualitas manusia.Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan karena penyimpangan seksual tidak sesuai dengan ajaran agama Islam dan juga memberikan dampak negatif kepada keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia.

Berikut beberapa fakta tentang kasus penyimpangan seksual, LGBT, di Indonesia :

1. Jumlah populasi LGBT di Indonesia adalah kelima terbesar di dunia setelah Cina, India, Eropa, dan Amerika. (Menurut survey CIA tahun 2015)

2. Setidaknya ada 1.095.970 gay di Indonesia berdasarkan data Kemenkes tahun 2012. Jumlah ini naik 37% dari tahun 2009.

3. Sekitar 3% penduduk Indonesia adalah pelaku LGBT

4. Terjadi pertumbuhan 10% gay di  Indonesia setiap tahunnya.

Bahaya penyimpangan seksual, LGBT, :

1. LGBT tidak hanya menyerang dan menyasar remaja dan orang dewasa, tetapi juga menyerang anak di bawah umur dan anak di masa pertumbuhan. 

2. Bisa membuat dampak trauma pada orang normal yang menjadi korban dan korban berpeluang menjadi “penerus” LGBT

3. Bertambahnya peluang penyebaran penyakit Infeksi Menular Seks 

4. Depopulasi karena tidak mungkin pasangan sesama jenis bisa menghasilkan keturunan.

Faktor Penyebab LGBT

Menurut Elly Risman, ada 7 hal dalam pola pengasuhan yang membuat anak melakukan penyimpangan perilaku seksual, yakni:

  1. Orang tua tak sadar bahwa anak itu bukan pilihan, tapi takdir atau titipan.
  2. Tujuan pengasuhan yang tak jelas
  3. Ayah kurang terlibat dalam pengasuhan
  4. Komunikasi antara orang tua dan anak yang buruk.
  5. Agama di sub-kontrakkan atau orang tua tidak terlibat secara langsung dan mendalam untuk mendidik agama anak
  6. Tidak disiapka. saat anak aqil baligh
  7. Orang tua seringkali lupa jika anak hidup di era digital.

Cara mencegah

Untuk mencegah terjadinya penyimpangan seksual, diperlukan peran dari banyak pihak, seperti keluarga, pemerintah (dalam pengaturan UU), masyarakat dan juga media massa (yang sering menjadi wadah penyebaran). Namun, kita akan membahas lebih pada peran keluarga yang merupakan bagian terkecil dari suatu masyarakat.

Bagian ini kami bagi menjadi 3 yakni :

1.  Penguatan Bonding Keluarga

2. Penutupan Celah Pornografi melalui kontrol gadget

3. Penerapan Kaidah-kaidah Rasulullah

4. Pembekalan Perlindungan diri

Pencegahan dengan cara Penguatan Bonding dalam Keluarga

📌Penyimpangan seksual terjadi ketika seseorang tidak menyadari fitrah seksualitasnya. Oleh karenanya, membangkitkan fitrah seksualitas menjadi hal yang penting dilakukan oleh sebuah keluarga. Cara yang bisa dilakukan antara lain  pada usia 3-6 tahun, anak sebaiknya dekat dengan kedua orang tua (ayah dan ibu), melakukan banyak aktivitas bersama-sama, dan di masa inilah anak harus sudah bisa mengetahui saya laki-laki/perempuan. Lalu, setelah usia 7-10 tahun, anak didekatkan dg orang tua yang sama gendernya lalu bersama-sama melakukan aktivitas yang sesuai gendernya masing-masing.

📌LGBT banyak mengincar orang-orang yang latar belakang keluarganya berantakan atau orang tua yang tidak peduli dengan keseharian anaknya. Oleh karenanya diperlukan sosok orang tua yang mau lebih peduli terhadap anak-anaknya. Perbaiki komunikasi dengan anak, dan cobalah untuk lebih mengerti perasaannya.

📌Peran ayah dan ibu harus seimbang, ayah tidak boleh berlepas tangan dalam pengasuhan. Menurut psikolog Elly Risman (Nakita,2017) ,anak lelaki yang jarang beraktivitas dengan sang ayah dan lebih sering berinteraksi dengan ibu, berpotensi menjadi lebih feminin. Contohnya ia lebih sering menemani ibu ke salon dibandingkan mengutak-atik sepeda bersama ayah.

Anak perempuan yang kurang kasih sayang ayah akan membuatnya lebih nyaman jika mendapat kasih sayang dari teman atau sosok lain. Jika sosok tersebut memiliki masalah seksual, dapat ditebak apa yang akan terjadi pada anak.

📌Jangan tampakkan kekerasan/pertengkaran terhadap pasangan di hadapan anak. Menurut psikolog Lusi Triyani (Republika, 2013), bila ibu melakukan kekerasan terhadap ayah, maka harga diri ayah akan turun. Anak laki-laki akan cenderung tidak menyukai sosok perempuan, dan anak perempuan akan mencari sosok yg lebih lembut dari ibunya. Jika kekerasan didominasi lelaki (ayah), maka anak perempuan menjadi enggan menikah. Padahal kemampuan seksual terus tumbuh, dan jika saat itu ia didekati kaum sesama jenis yg membuat nyaman, ia akan terjerumus.

🗒Kedekatan dengan orang tua akan menjadi satu benteng bagi anak. Sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf, saat digoda oleh istri Al Aziz, beliau dapat menghindari maksiat karena oleh Allah ditampakkan wajah ayahnya (Nabi Yakub) yang menegurnya jika melakukan perbuatan maksiat. Oleh karenanya, meskipun kelak anak-anak terpisah dari orang tua, jika kedekatan telah terbangun, segala macam nasihat dan arahan akan menjadi benteng agar anak tak terjerumus pada penyimpangan seksual.🗒

Pencegahan dengan Menutup Celah Pornografi dengan Kontrol Gadget yang digunakan

Penyebaran LGBT identik dengan sesuatu yg bersifat pornografi. Seseorang bisa terjangkit karena penyalahgunaan teknologi atau gadget. LGBT bahkan bisa menyusup dalam media anak-anak seperti kartun (contohnya Spongebob dan Patrick yang diceritakan sebagai hubungan homoseksual. Atau pada film “Finding Dory”, di salah satu adegan terlihat ada pasangan perempuan yang membawa anak (meskipun ini masih kontroversi). Berikut beberapa cara untuk membatasi konten pada gadget dilansir dari de-tekno.com :

📱Aplikasi Youtube

1. Buka aplikasi, klik sign in( ikon gambar orang) untuk masuk ke dalam akun

2. Setelah masuk, klik menu dengan ikon tiga titik vertikal di pojok kanan atas

3. Klik settings, klik general

4. Di bagian restricted mode, klik ON

📱Setting search engine google

1. Geser halaman search engine google ke paling bawah

2. klik search setting, di bagian safesearch filter, klik “Filter explicit results”

3. Geser halaman ke bawah, klik save.

Untuk pembatasan melalui laptop, bisa dilihat langsung ke alamat : https://de-tekno.com/2016/01/settings-youtube-dan-search-engine-agar-aman-buat-anak-anak-kita/.

Tetap diperlukan pengawasan mata orang tua secara manual. Posisi anak dalam melihat gadget sebaiknya tidak tertutup sehingga orang tua masih bisa melihat apa yang dilihat oleh anak.

Pencegahan dengan Mengikuti kaidah-kaidah dan dasar-dasar yg dicanangkan oleh Rasulullah SAW

Dari buku “Prophetic Parenting” karya DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, dalam bab Mengarahkan kecenderungan seksual anak, terdapat kaidah-kaidah yang dicanangkan Rasulullah SAW, antara lain :

📌Melatih anak meminta izin ketika masuk rumah atau kamar orang tua yakni pada waktu sebelum sembahyang subuh, ketika tengah hari dan sesudah isya (QS An Nur 58-59)

Dengan dasar ini pula orang tua wajib menutup aurat mereka setiap saat di hadapan anak untuk membantunya mengalirkan naluri seksual secara alami dan tak terburu-buru.

📌Membiasakan anak menundukkan pandangan dan menutup aurat

Wajib membiasakan anak untuk menundukkan pandangan agar naluri seksual tidak matang sebelum waktunya. Adapun menutup aurat bisa dibiasakan sejak anak belajar solat.

📌Memisahkan tempat tidur anak saat menginjak usia 10 tahun

Maksudnya dua anak tidak tidur dalam satu selimut dan tidak satu tempat tidur, meskipun sesama jenis. Jika dalam satu tempat tidur tapi selimut terpisah, dibolehkan tapi semakin jauh semakin baik.

📌Melatih anak tidur miring ke kanan

Apabila anak tidur tengkurap, akan menyebabkan sering terjadinya gesekan pada organ reproduksi yang dpt membangunkan syahwatnya. Jika orang tua mendapati anak tidur tengkurap, maka bisa memperbaiki posisinya.

📌Menjauhkan anak dari ikhtilat lawan jenis

Bila anak perempuan terlalu banyak berinteraksi dengan lelaki, bisa menjadikan pola pikir dan sikapnya menjadi kelaki-lakian.

Selanjutnya, dari buku “Mendidik anak laki-laki”  karya Adnan Hasan Shalih Baharits, disarankan untuk tidak membiarkan anak-anak bergaul dengan anak-anak yang sudah besar, kecuali terjamin dan meyakini keistiqomahan dan baiknya pendidikan mereka.

Dari beberapa kaidah tersebut, ada penekanan agar naluri seksual tidak tumbuh terlalu cepat. Hal ini dimungkinkan karena saat naluri seksual tumbuh terlalu cepat dan anak belum mencapai periode aqil baligh, maka interaksi yang banyak dilakukan adalah saat sedang bersama teman-temannya yang sesama jenis sehingga bisa terjadi penyimpangan seksual.


Pencegahan Dengan Pembekalan Perlindungan Diri

Pelaku LGBT bisa berasal dari mereka yg menjadi korban. Ajarkan anak tentang safety procedure. Berikut beberapa poin yang diambil dari kulwap El Hana Learning Kit oleh Devi Sani Rezki, M.psi. yang menyarikan buku Jane Wagner berjudul “Raising Safe Kids in an Unsafe World”:

 📌Ajari anak untuk bisa bilang TIDAK atau TIDAK MAU jika ada hal yang membuat tak nyaman. It is better to bs safe than to be polite. 

📌Identifikasi orang asing yakni yg tdk kenal dekat dengan kita. buat list orang asing dan list org yang bisa dipercaya

📌Hati-hati terhadap org yang mencurigakan. Misal : menawarkan permen, mengajak lihat anjing lucu, hati-hati terhadap pihak yg mengaku pihak otoritas spt satpam, polisi, guru

📌Jangan menghiraukan pembicaraan org asing. Langsung lari dan menjauh

📌Ajarkan bahwa tubuh anak adalah miliknya, beritahu tentang good touch dan bad touch, ajarkan anak untuk bilang stop atau tdk boleh jika ada yang hendak memberikan bad touch

📌Percaya pada insting 

📌 Mundur 3 langkah.Hal ini dikarenakan child predator sangat cepat beraksi, jika ada jarak yang cukup, anak akan bisa lari.

📌 Teriak. Ajari anak untuk teriak sekencang-kencangnya. Bukan sekedar “Aaaa” tapi jelas “Tolong, saya diculik!” “Ini bukan bapak saya!” dsb.

Safe procedure ini harus disampaikan berulang dan diperlukan latihan agar anak semakin mengerti.

Media Edukasi

Berupa video dari IIP Bunsay Koordinator yang bisa diakses di sini.

#day9 #level11 #kuliahbunsayIIP

Adab Tidur Berdasarkan Gender Anak 

Kelompok selanjutnya terdiri dari mbak Inne, mbak Irma dan mbak Isna, membawakan tentang adab tidur berdasarkan gender. Beeikut resumenya.

Adab Tidur Sesuai Seksualitas

  1. Pemisahan kamar antara anak laki-laki dan perempuan
  2. Jika kondisi rumah tidak memungkinkan, pemisahan kasur antara anak lelaki dan perempuan
  3. Tidur terpisah dari orang tua

Manfaat

1. Anak bisa mengidentifikasi gendernya dengan jelas

Dengan memisahkan kamar tidur berdasarkan gendernya, maka anak akan belajar identitas gendernya. Diharapkan dengan ini anak juga bisa berperan sesuai gendernya.

2. Anak memahami adab tidur yang baik

Anak akan belajar bahwa salah satu adab tidur yang baik adalah dengan tidak satu tempat tidur walaupun itu dengan saudaranya. 

3. Anak mempunyai privasi

Di sini anak akan belajar tentang privasi, termasuk di dalamnya mengenai menjaga aurat dan adab memasuki kamar orang lain. 

4. Melatih kemandirian dan menumbuhkan rasa tanggung jawab anak (bisa merawat kamar, berani tidur sendiri)

Mengapa penting?

-Adanya perintah/dalil memisahkan tempat tidur anak

-Anak mulai bisa mengingat dan pura-pura tidur pada usia tiga tahun.

Memori anak sudah mulai kuat, anak pun sudah mulai bisa bercerita. Dikhawatirkan jika tidur bersama dengan orang tua dan orang tua melakukan hubungan intim di kamar yang sama, anak akan menyaksikan hal tersebut. Jika demikian maka anak bisa mengingat  apa yang ia lihat. Dalam beberapa kasus, anak bisa saja menceritakan hal itu pada orang lain atau mempraktikan apa yang ia lihat walaupun ia belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang ia lihat. Dikhawatirkan juga hal ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan dirinya. 

-Anak mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis pada usia tujuh atau sepuluh tahun. 

Jika pada usia ini anak masih tidur bersama, anak akan dapat saling melihat aurat satu sama lain (baik dalam keadaan tidur ataupun terjaga). Kegiatan ini dikhawatirkan akan menimbulkan syahwat yang pada akhirnya bisa merusak akhlak mereka. Na’udzubillah.

Tips Memisahkan Kamar

1 .Bila anak masih dalam usia yang lebih muda dan ingin dilatih tidur sendiri, maka ciptakan rutinitas tidur yang nyaman dan konsisten. Ajari anak untuk berdoa. Membaca buku sebelum tidur bisa jadi aktivitas pengantar tidur yang baik. Terus lakukan rutinitas yang sama setiap malam sebelum tidur agar anak terbiasa 

2. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan menenangkan. 

3. Buat anak menyenangi tempat tidur atau kamarnya , misal dengan alat tidur dengan warna atau gambar karakter kesukaan anak. 

4. Jelaskan pada anak mengapa mereka perlu belajar tidur sendiri, yakni karena mereka sudah besar. Apresiasi setiap kemajuan baik

5. Gunakan bantuan media edukasi anak

Beberapa poin Diskusi 

1. Anak lelaki jika pada usia 3/5 tahun sebaiknya tidak melihat saat ibunya menyusui

2. Jika kondisi belum memungkinkan pisah kamar dengan anak, orang tua perlu pindah ruangan dan dikunci bila ingin berhubungan intim

#resume #day8 #level11 #kuliahbunsayIIP

Bullying

Pada hari ke-7 kelompok Mbak Hastuti, mbak Galuh Estu, mbak Indah, dan mbak Henny Lastriani mempresentasikan tentang Bullying. Berikut resumenya.

Pengertian

Apapun tindakan kekerasan seseorang/kelompok jika sudah membuat yang diganggu ketakutan, maka perilaku itu adalah bullying” (Ratna Juwita, Psikolog Sosial UI – Femina, Mei 2006)

Macam Bullying

  • Fisik seperti memiting, mencakar, meludahi, menonjok, memukul, mendorong, mencubit, menjambak, memalak, mencuri, menyembunyikan barang, meminta bekal dengan paksa, pelecehal seksual
  • Verbal yakni dengan kata-kata, eskpresi wajah dan gestur tubuh yang sangat melukai target dimana orang direndahkan martabatnya dan diabaikan.
  • Relational seperti diabaikan, disisihkan, dikucilkan, memandang agresif, melirik tajam ,helaan nafas, bahu bergidik, cibiran tawa, mengejek, bahasa tubuh yg kasar, menolak bicara ,menyebarkan kebohongan.

Penyebab

  • Hubungan Keluarga, misalnya apakah kesopanan tertanam dalam keluarga tersebut.
  • Teman sebaya misal dendam yang muncul karena pernah dibully
  • Pengaruh media, misal tontonan kekerasan

BULLYING TERKAIT DENGAN GENDER DAN SEKSUALITAS

Apakah fitrah seksualitas bisa mencegah bullying?

a) Bisa jadi Tidak. Mengapa?

Bullying adalah sesuatu yang akan sulit untuk kita cegah untuk terjadi di pergaulan anak-anak dengan berbagai latar belakang dan tipe keluarga. Kalaupun bukan anak-anak kita yang membully temannya, paling tidak dia pasti pernah menyaksikan kejadian bullying dalam pertemanannya.

Perlu memperhatikan anak, perlu waspada jika ada tanda-tanda bully. Berikut adalah karakteristik bullying.

  1. Bullying di lingkungan anak laki-laki, yakni lebih banyak menghadapi bullying secara fisik dan impulsive dibandingkan anak perempuan, sehingga kejadiannya lebih mudah terdeteksi, dan konsekuensi yang bisa kasat mata . Sebagai dampaknya, mereka cenderung menyerang orang ketika mereka mengidentifikasi seorang anak laki-laki yang lemah.Anak laki-laki masih bisa menyukai anak perempuan yang melakukan bullying terhadap orang lain serta berteman dengan mereka para pelaku bullying. Bullying pada anak laki-laki juga cenderung lebih cepat selesai, sedangkan anak perempuan potensial untuk menyimpan dendam jangka panjang.
  2. Bullying di lingkungan anak perempuan, yakni cenderung melakukan bullying secara verbal dan relasional, seperti memaki, mengucilkan, menyebar rumor, menyakiti hati teman, perilaku khas dari mean girl (seseorang yang membentuk/anggota geng, menaikkan status sosial, dan melakukan agresi untuk melukai dan mengontrol orang lain). Bullying yang dilakukan mean girl ini sayangnya sangat sering terjadi dan sulit teridentifikasi oleh orang tua maupun guru.

Ciri Mean Girl

🎀 Selalu diliputi rasa iri, menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Perilakunya bisa sampai menyebar gosip, memboikot sebuah acara, mengambil aksi untuk menghancurkan hubungan pertemanan atau nilai orang lain

🎀 Berfokus terhadap penampilan secara berlebihan, seperti rambut, pakaian, wajah, make up dan berat badan.

🎀 Berfokus terhadap status, seringkali ia terobsesi terhadap apa yang orang pikirkan atasnya, dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi populer, sehingga terkadang memanfaatkan orang untuk meraihnya

🎀 Memiliki permasalahan dalam pertemanan, biasanya sering terjerumus dalam situasi teman makan teman

🎀 Tergabung dalam sebuah geng

🎀 Mempunyai masalah dengan kontrol

Saat ini sosial media memberikan sarana khusus untuk mean girl ini dalam melakukan bullying seperti bergossip di belakang, komen yang menyakitkan. Anak perempuan bisa terluka jika ada foto sebuah event dimana mereka tidak diikutsertakan, atau tidak diinfokan sebelumnya.

Untuk mengidentifikasi perilaku mean girl , kita perlu amati bagaimana seorang anak berinteraksi terhadap anak lainnya dan perhatikan apa yang mereka rasakan.

b) Ya, berpengaruh. Mengapa?

Fitrah seksualitas yg tidak dibangkitkan bisa mempengaruhi timbulnya bullying. Hal ini terutama terjadi di pergaulan anak laki-laki, biasanya terkait ‘boy code’ yang tidak terpenuhi. ‘Boy code’ adalah seperangkat perilaku yang dan aturan yang diharapkan sebuah kelompok masyarakat untuk ada pada seorang laki-laki seperti independen, tangguh, maskulin, dominan, atletik, powerful, dll.

Boy code yang terkait berpotensi menimbulkan bullying terutama ada pada karakter tangguh dan bisa mengontrol. Ketika seorang anak laki-laki tidak bisa memenuhi harapan untuk mempunyai sifat itu, maka dia merasa malu, marah bahkan membenci keadaannya sendiri. Ini dapat memberikan potensi terjadinya bullying. Selain itu, boy code yang mengharuskan lelaki tampak tangguh, jika pressure nya terlalu tinggi, terkadang menyebabkan mereka menyangkal emosi/perasaannya sehingga bisa menyebabkan emotional intelligence dan empati yang tidak terbangun dengan baik. Akhirnya potensi untuk melakukan bullying pun timbul karena mereka tidak terbiasa melihat permasalahan dari perspektive orang lain

Alternatif Solusi

  1. Ajari anak memahami apa itu bullying dan bagaimana bentuknya dalam bahasa yang sederhana. Sebagai contoh, untuk anak mbak Henny yang berusia 3 tahun,  mereka suka berbicara santai dengan memanfaatkan momen disekitarnya sebagai bahan pembicaraan “ka. Lihat tidak tadi X bilang kalau Y gendut? Itu ngga boleh loh ka.. Soalnya nanti Y nya bisa sedih..kan kalau sedih ngga enak ya ka..” sambil mengajarkannya perihal beragam perasaan/emosi. Selain itu bisa juga dengan bermain peran atau menonton video edukasi bersama dengan anak sambil dijelaskan seperti yang akan dipaparkan oleh presenter selanjutnya.
  2. Sampaikan pada anak kita jika dia mengalami beberapa situasi, seperti misal jika ia menjadi korban atau target bullying. Saat ada seseorang atau kawanan orang yang mulai berbicara “dengan nada tinggi” dengannya, ajarkan agar ia tetap tenang, percaya diri dan tatap mata pelakunya. Harapannya agar pelaku tahu bahwa anak anda bukanlah orang yang lemah. Jika si kecil menjadi korban bullying, hal yang dapat dilakukan adalah ajari ia agar lapor pada orang yang lebih dewasa yang ada disana.  Setelah itu ajari ia agar menceritakan apa yang ia alami pada temannya. Tetap berpikir tenang, dan tinggalkan tempat kejadian. Sedangkan jika ia menjadi pihak ketiga alias ia melihat kejadian bullying, ajari ia agar tidak menertawakan korban, karena hal tersebut akan menambah “kuat” sang pelaku. Ajari agar ia pergi lapor pada orang tua atau guru, bukan malah gabung dengan pelaku. Yang lebih baik adalah ajarkan anak agar membela dan mendampingi korban. Dan jangan biarkan ia diam, karena dengan diam berarti ia setuju adanya pembullyan di tempat tersebut. Jika anak kita yang melakukan tindakan bullying, perbanyak ajak dialog dengan anak kita. Posisikan mata kita sejajar dengan anak dan ajak bicara baik-baik pertanyaan-pertanyaan seperti pada gambar di gambar di atas
  1. Tumbuhkan citra diri positif pada anak. Hal yang perlu dilakukan adalah dialog dengan anak. Beri pujian positif dan bangun rasa percaya dirinya. Selain itu, biasakan anak berani dengan menemani orang tua menghadiri majelis ilmu atau pertemuan khalayak ramai, mengunjungi kawan-kawan, serta memotivasinya agar berani berbicara di depan orang dewasa juga merupakan cara untuk menimbulkan keberanian pada dirinya.
  2. Ajari anak cara berteman dan bersosialisasi. Disadur dari sini, keterampilan sosialisasi untuk mencegah terjadinya bullying pada anak dapat dilatih dengan cara berikut :

🦋Mengenalkan dan menceritakan diri dalam porsi yang tepat

Ketika anak masuk dalam lingkungan baru, ajarkan anak untuk dapat mengenalkan dan menceritakan dirinya dengan percaya diri, namun tidak berlebihan.  Bersikap ramah dan bersalaman dengan benar, akan memberi kesan pertama yang positif tentang diri anak.

🦋Tersenyum dan menatap mata saat bertemu dan berbicara

Bersikap ramah sekaligus menunjukkan kesan percaya diri dapat ditunjukkan dengan tersenyum dan melakukan kontak mata dengan lawan bicara. Ingatkan anak bahwa orang lain akan merasa dihargai dan memberi perhatian lebih ketika kita juga menunjukkan hal yang sama.

🦋Mendengarkan

Teman interaksi yang menyenangkan punya kemampuan mendengar yang baik. Anak belajar hal ini terutama dari orangtuanya yang hadir sepenuh hati dan sepenuh tubuh saat ia berbicara. Kadang anak kurang sabar menunggu giliran berbicara, atau tidak menggunakan bahasa tubuh yang tepat (menatap mata, mencondongkan tubuh, dan lainnya) saat bercakap. Potret atau rekam anak saat berinteraksi, berikan umpan balik dengan santai

🦋Menanggapi canda dan menggunakan humor

Canda dan humor dapat dijadikan alat untuk mencegah bullying.  Ajari anak menggunakan canda dan humor untuk cuek terhadap segala bentuk provokasi, bersikap tenang ketika terjadi konfrontasi dan belajar untuk berkata “tidak” terhadap permintaan teman yang tidak baik.

🦋Menumbuhkan empati

Mengenalkan empati dapat dilakukan dengan menamakan perasaan, memberi contoh bagaimana membantu orang lain, berperilaku baik, dan menghargai perbedaan antara teman dan anggota keluarga lain. Dengan berempati, anak akan memahami bahwa bullying dapat menyakiti pihak lain.

Media Edukasi

  1. Menonton video edukasi terkait bullying
  2. Bermain role-play bullying
  3. kiVa (program anti bullying berbasis sekolah yang inovatif (IDN Times)
  4. Main musik atau olahraga
  5. Menggambar atau mewarnai dengan tema bullying
  6. Membacakan buku

#resume #day7 #level11 #kuliahbunsayIIP

Pengasuhan Responsif Gender

Hari keenam, presentasi dilakukan oleh mba Mefisya Nuzulia, Nina Sri Mulatsih dan Nurlita Tsania dengan tema pengasuhan yang responsif gender. Berikut resumenya.

Praktek pengasuhan yang responsif gender agar anak lelaki dan perempuan mengerti peran dan tanggung jawab mereka sesuai fitrah seksualitas yang telah Allah tetapkan.

Definisi Pengasuhan Anak

adalah pembentukan perilaku anak yang bajk dengan mengetahui perkembanhan anak, mengelola permasalahan perilaku anak usia dini, mendukung penghargaan diri anak, melalui komunikasi efektif, menjaga keamanan anak, mendukung proses belajar anak, mengerti perkembangan otak anak, belajar strategi baru dalam mendisiplinkan anak dan mencari cara bersama-sama dengan pasangan dalam membesarkan dan bertanggung jawab pada anak (Campbell & Palm, 2004)

Pengaruh Keluarga pada Gender

  1. Ortu punya pengaruh signifikan pada perilaku peran gender dan tipe gender
  2. Perlakuan sosialisasi dan pendidikan thd anak berdasar kebutuhan khusus (berkait aspek biologis-reproduksi), dan kebutuhan umum( berkiatan aspek psiko-sosial)

Pengasuhan Responsif Gender

  1. Tak lepas dengan pembagian tugas ayah-ibu
  2. Berkaitan dengan harapan thd peran dan tugas yang disepakati ayah-ibu
  3. Day et. al menyatakan harapan dan tugas ayah adalah fisik kuat, mampu mencari nafkah, mampu melakukan pekerjaan rumah yang berkait dengan kekuatan fisik
  4. Harapan untuk tugas ibu adalah dapat menyiapkan anak-anak secara fisik dan emosional serta sbgai pendidik anak-anak usia dini agar dapat berintegrasi di masyarakat 
  5. Memperhatikan personalitas anak masing-masing (perpaduan antara introvert/feminin dan ekstrovert/maskuline)
  6. Selalu mencari pendekatan pengasuhan demokrasi dan tepat diterapkan pada anak perempuan dan laki-laki.
  7. Ayah-ibu melakukan pendekatan pada tiap anak dengan bijaksana, hangat, partisipatif dan penuh pengertian
  8. Menumbuhkan motivasi belajar,menyalurkan hobi dan memilih program studi yang sesuai minat dan kompetensi
  9. Ayah ibu memberi sosialisasi pada anak perempuan ttg sifat laki-laki dan cara menghormatinya begitu pula sebaliknya
  10. Ayah mensosialisasikan apa yg diharapkan laki-laki thd perempuan. Ibu mensosialisasikan cara memberi nasihat dan arahan pada laki-laki
  11. Memberi kesempatan untuk sekolah di luar kota dan perguruan tinggi dengan program studi teknik dan eksakta
  12. Memberi kemandirian yg cocok untuk perempuan seperti memahami listrik, kompor gas, kendaraan , dan sense of dangerous. Laki-laki diajarkan memasak, mencuci, menyetrika dan membersihkan kamar tidur.
  13. Memberi contoh cara melindungi diri dari bahaya
  14. Menciptakan rasa aman, nyaman, cinta dan damai sejak usia dini
  15. Ayah ibu mengajari untuk melindungi diri seperti “don’t talk to stranger, don’t receive anything from stranger”,jangan biarkan siapapun menjamah area pribadi, jangan takut bilang TIDAK MAU, melatih mandiri sejak kecil berkaitan sensitifitas perlindungan diri, ajari anak memilih teman yanh baik
  16. Penerapan nilai-nilai agama contohnya : nilai berbagi, nilai kebersamaan, bermasyarakat dan beramal. Tingkatkan keeratan hubungan antar anggota keluarga.

Pandangan Islam

Al Qur’an mengakui adanya perbedaan lelaki dan perempuan tapi bukan yang menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lain. perbedaan dimaksudkan untuk menciptakan hubungan harmonis.

Islam menempatkan laki-laki dan perempuan di posisi sama seperti waris, persaksian, aqiqah. Pahala yang didapat lelaki dan peremluab sama atas amal yang diperbuat. Islam tidak mentolerir adanya perbedaan dan perlakuan tak adil pada manusia.

Islam mengajarkan berlaku adil pada anak untuk mencegah benci dan dengki. Ada atsar yg diriwayatkan Anas bahwa seorang lelaki sedang bertamu pd Nabi lalu anak laki-lakinya datang. Ia mencium dan mendudukkan di paha. Anak perempuannya lalu datang dan dia menyuruh anak itu duduk di hadapannya. Nabi berkata “Mengapa engkau tak memperlakukan mereka secara adil?”

Dalam Al Qur’an An Nisa 34 Al Qur’an mengatakan bahwa kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan mereka atas sebagian yang lain. Maka selain pengasuhan yang responsif gender, agar orang tua juga tidak melupakan peran penting yang telah Allah atur dalam islam. Dalam jangka panjang pengasuhan responsif gender ini bertujuan agar anak perempuan menjadi istri yang baik,respek suami dan pekerja handal juga anak laki-laki menjadi suami yang baik,respek istri, dan pekerja handal.

#resume #day6 #level11 #kuliahbunsayIIP

Menyiapkan Anak Menjadi Orang Tua Sesuai Fitrah

Hari kelima, presentasi dibawakan oleh Mbak Chandra, Mbak Lukei, dan Mbak Mauilidina dengan tema “Menyiapkan anak Menjadi Orang tua sesuai fitrah”. Berikut ini resumenya.

Orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak sebab dalam rumah tangga (keluarga)-lah anak belajar banyak tentang kehidupannya kelak. 

Kesadaran seksualitas merupakan bagian penting dari pembentukan identitas. Dalam mendidik seksualitas anak, ada 3 poin yang perlu diperhatikan yakni :

Seksualitas yang Benar

yakni dengan penanaman nilai-nilai agama, melalui pengenalan fitrah seksualitas, pengaliran rasa (mengobrol), dan pencelupan nilai-nilai melalui teladan dan contoh.
Seksualitas yang Sehat

yakni dengan merawat organ reproduksi. Caranya antara lain :

  1. Gunakan air bersih untuk cebok
  2. Ajarkan cara membersihkan dengan benar. (arah basuh untuk kaum hawa adalah dari depan ke belakang untuk menekan risiko pencemaran saluran kemih)
  3. Menjaga organ reproduksi tetap kering
  4. Hindari membalur bedak dan bahan kimiawi lain pada kemaluan anak
  5. Tidak membiasakan memegang kemaluan
  6. Mencuci tangan setelah berkemih

Seksualitas yang Lurus

yakni agar perempuan tumbuh selayaknya perempuan, dan laki-laki tumbuh selayaknya lelaki. Menurut Ustadz Harry Santosa, peran menjadi ibu ataupun ayah sejati selalu dimulai dengan menumbuhkan fitrah yang telah ditanamkan dari rahim. Tanpa potensi fitrah yang ditumbuhkan maka upaya apapun menjadi tak maksimal.

Prosesnya : perawatan-penguatan konsepsi fitrah-penyadaran melalui aktivitas dan interaksi dengan alam hingga menjadi potensi atau aktivitas produktif (amal shalih).

Peran adalah hasil akhir pendidikan fitrah sedangkan akhlak atau adab adalah buah dari fitrah yang tumbuh hebat hingga memberi manfaat. Peran adalah tugas, alasan kehadiran di dunia.

Anak lelaki juga harus didektkan dengan ibu agar mengerti perasaan, pikiran dan sikap perempuan yang kelak akan menjadi istri. Anak perempuan juga harus dekat dengan ayah sehingga saat mulai tertarik lawan jenis akan merasakan empati langsung dari ayah. Tantangan peradaban adalah pemahaman bahwa yang membersamai tumbuh kembang anak hanyalah ibu, bukan ayah.

Solusi agar Terbangun Fitrah Seksualitas :

  1. Mempererat kedekatan anak dengan orang tua
  2. Memperdalam ilmu agama sebagai pedoman

Aktivitas Edukasi yang bisa dilakukan :

  1. Banyak melakukan aktivitas bersama anak agar anak mengenal macam-macam aktivitas maskulin dan feminim
  2. Mengenalkan pada sosok maskulin dan feminim yang menorehkan sejarah dengan adab dan fitrah yang lurus sehingga menjadi idola.

#resume #day5 #level11 #kuliahbunsayIIP

Penguatan Konsep Gender

Hari keempat, presentasi dilakukan oleh kelompok 2 yakni mba Ami, mba Leona dan mba Ita Roihanah, mengangkat tema penguatan konsep gender. Berikut ini resumenya :

PART 1 

👡Pendahuluan

Menurut Montessori, dalam fase perkembangan anak, terdapat masa sensitif yang ditandai dengan tertariknya anak dengan satu karakteristik tertentu, dan cenderung mengabaikan objek lain, salah satunya terhadap aspek sosial kehidupan, di mana gendee tercakup di dalamnya.

Orang tua perlu memberikan pendidikan gender yang adil dan berimbang, yakni menjelaskan pada anak tentang gambaran orang dewasa laki-laki dan perempuan serta menghargai jenis kelamin orang lain. Selain itu, tak boleh pula melakukan hal semena-mena terhadap kawan sesama jenis maupun lawan jenis. Label anak laki-laki tak boleh cengeng, atau anak perempuan harus tampak lemah , pasif dan manja harus dihilangkan.

🐥Sosialisasi Gender adalah proses di mana anak belajar tentang penilaian sosial, sikap dan perilaku yg biasanya terkait dg anak laki-laki dan perempuan serta faktor yang mempengaruhi perkembangan gender pada anak (Encyclopedia on Early Childhood Development). Dengan sosialisasi gendee diharapkan anak terhindar dari pelecehan seksual.

👛Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Gender

  1. Faktor biologis
  2. Faktor sosial (pengaruh pengasuhan,teman sebaya, guru, sekolah, media)
  3. Faktor kognitif (konsep sederhana dan konkrit untuk mengelompokkan jenis kelamin berdasar ciri fisik, seperti potongan rambut, pakaian, dsb)

⏰Waktu yang Tepat Untuk Mengenalkan

  1. Saat anak mulai belajar bicara. Kenalkan kebiasaan-kebiasaan lelaki dan perempuan pada umumnya. Seperti cara berpakaian, bersikap, dan mainan yang sesuai
  2. Usia 3-6 tahun, mengajari jenis kelamin, bagian, fungsi dan mengapa berbeda antara lelaki dan perempuan. Bila perlu sediakan ensiklopedi organ tubuh.

Batasan yang perlu dijelaskan saat anak mulai mengerti adalah bagian yang tak boleh tersentuh bahkan terbuka, siapa saja yang boleh menyentuh dan siapa yang tidak. Perlu ditanamkan kewaspadaan terhadap orang asing.

✔Yang Perlu Diingat

  1. Pemahaman diajarkan perlahan dan berulang-ulang. Mampu melihat kesiapan anak menerima informasi
  2. Tak tergesa-gesa membenturkan aktivitas anak dengan stereotip gender.
  3. Ajarkan rasa malu pada anak atas auratnya

💐Strategi Pendidikan

  1. Metode Modelling, misal ibu melakukan kerjaan domestik. Di waktu lain ayah juga, sehingga tertanam pekerjaan ini bukan hanya untuk perempuan tapi juga lelaki
  2. Metode perlakuan. Saat anak lelaki menangis, jangan larang, tapi pahami karena menangis merupakan salah satu pengungkapan emosi yang tak hanya dilakukan oleh perempuan, tapi juga lelaki.
  3. Metode Main Peran untuk mengenal jati diri

    🐹Alternatif Pemecahan Kesalahpahaman Gender

    1. Sampaikan dengan bahasa yang mudah
    2. Tidak melarang dg cara kasar
    3. Ajak berpikir logis
    4. Beri gambaran tentang org dewasa laki-laki dan perempuan
    5. Tanamkan sikap saling menghormati dan menghargai jenis kelamin

      PART 2 : Contoh Berdasar Pengalaman

      👠Gender Identity

      dimulai usia 6 bulan, mengenalkan ayah dan ibu, mana yang sama.

      👠Gender Stereotype Role

      Mulai pahami peran lelaki dan perempuan. Laki-laki bersama ayah, perempuan bareng ibu. Pendampingan dua guru laki-laki dan perempuan utk menggantikan peran ayah ibu di sekolah. Kondisi tak selalu ideal, jadi jadikan sebagai rambu saja.

      👠Gender Type Behaviour

      Anak mulai ada kecenderungan memilih aktivitas yang sesuai gender, memilih tipe teman main, objek permainan, dan mainan yang dilakukan. Contoh laki-laki dengan mobil, perempuan dengan boneka. Jika anak dekat dengan saudara beda gender dan mulai berkiblat, cari counter misal lebih banyak main dengan 1 gender, buat suasana warna, furniture, mainan dengan warna netral seperti abu-abu atau biru.

      PART 3 : Challenge dan Tips (disadur dari Buku Aku Anak Berani Bisa Melindungi Diri karya Watiek Ideo-Rekomendasi KPAI)

      🐇Tips untuk challenge “Kenapa Aku Berbeda?”

      1. Tenang jika anak bertanya organ reproduksi
      2. Jika bertanya lebih, jelaskan dengan bahasa sederhana yang ilmiah
      3. Jika anak kritis, perlihatkan gambar anatomi
      4. Ingat, anak takkan berpikir pornografi selama kita bersikap wajar
      5. Ajak anak mengaktifkan otak kiri jika bertanya organ tubuh, sebagaimana anak kedokteran belajar anatomi

      🐇Tips untuk Challenge : “Pipis di mana?”

      1. Toilet training sejak 2 tahun
      2. Biasakan tidak buang air di area terbuka
      3. Biasakan ke toilet sebelum bepergian
      4. Ajari mengenal toilet laki-laki dan perempuan, temani sesuai gender
      5. Ajari cara membersihkan organ genital

      🐇Tips untuk Challenge : “Mengapa Tak Boleh?”

      1. Sedini mungkin ajari anak memakai pakaian dalam dan luar
      2. Ajari pakaian dalam tak boleh dibawa keluar
      3. Biasakan anak tak pakai baju mini
      4. Hindari ganti baju di depan anak. Permisi minta mereka keluar dulu
      5. Jangan marah, buat dia nyaman jika anak bercerita hal tak nyaman yang dialami terkait aurat, genitalia maupun sikap kurang baik dari temannya

      🐇Tips untuk Challenge : “Sentuhan Apa Ini?”

      1. Jelaskan berbagai jenis sentuhan
      2. Ajari untuk tak menyentuh/memandang area pribadi orang lain
      3. Ajari anak untuk menegur dan melaporkan orang atau teman yang melakukan sentuhan tak pantas/memperlihatkan miliknya/melihat milik orang lain
      4. Posisikan diri sebagai temlat berlindung dan bisa dipercaya jika dia bercerita
      5. Bekali anak dengan nomor darurat tempat minta tolong

      🐇Tips untuk Challenge : “Dari mana Asalnya adik Bayi?”

      1. Jangan marahi anak saat bertanya tentang bagaimana proses kehamilan dan reproduksi
      2. Jangan berikan penjelasan tak realistis seperti dari toko, dibawa peri, dll
      3. Tak perlu detail memberikan penjelasan hubungan suami-istri, anak usia 3-6 gak kepikiran ke sana
      4. Awasi tontonan di TV. Sekalipun kartun, harus di proof-watch dulu

      🐇Tips untuk challenge “Disunat, sakit nggak sih?”

      1. Jika cukup umur, beri informasi mengenai khitan dan manfaatnya
      2. Jangan dipaksa jika masih takut
      3. Motivasi dari teman sebaya
      4. Pilih saat yang tepat utk khitan (libur sekolah)
      5. Berikan kasih sayang dan motivasi

      🐇Tips untuk challenge “Cerita Atau Tidak?”

      1. Beri pemahaman bahwa kemaluan dan anus tak boleh disentuh orang lain
      2. Yakinkan bahwa anda bisa dipercaya berbagi rahasia
      3. Bersikap tenang saat anak bercerita tentang kejadian tak nyaman yang dialami
      4. Jangan memaksa anak jika tak nyaman bertemu orang tertentu
      5. Tanyakan penyebab anak tidak nyaman
      6. Berikan informasi jika ada om om minta aneh-aneh seperti mau memangku, mau main rahasia dkk.
      7. Yakinkan pada anak bahwa dia masih dicintai meski telah mengalami kejadian buruk

      🐇Tips untuk Challenge : “Siapa Itu?”

      1. Kejahatan mungkin saja terjadi di sekitar anak. Ajari anak mengantisipasi jika bertemu orang tak dikenal
      2. Beritahu siapa saja anggota keluarga yang dapat dipercaya (orang tua, guru, nenek) jika ada di luar itu, anak harus memberi tahu
      3. Ajak anak berkomunikasi untuk mengetahui kejadian yang dialami sehari-hari tapi tak wajar
      4. Ajari anak minta tolong jika ada bahaya pada orang yang dia percaya

        🐇Tips untuk Challenge : “Siapa yang Bisa Melindungiku?”

        1. Tak selamanya ortu di sisi anak. Ajari pakai hape/telp jika sudah cukup umur
        2. Berikan/Ajari hafal nomor hp ayah ibu
        3. Berikan info nomor darurat
        4. Berikan info layanan darurat bukan main-main
        5. Nomor pengaduan 021-31901556

          #resume #day3 #level11 #kuliahbunsayIIP