Belajar Membuat Eco Enzyme

Kuliah kesembilan belajar zero waste sungguh amat menantang. Di kelas ini, kami diberikan pemahaman tentang bahayanya zat kimia pada pembersih-pembersih komersial yang selama ini digunakan. Kandungan Sodium Lauryl Sulfate di dalamnya ternyata bisa menyebabkan polusi air. Jadi, lantai kita bersih, baju bersih, tapi biota air tersakiti. Hiks 😒😒😒

Kamipun ditantang untuk membuat pembersih alami yang jenisnya macam-macam mulai dari sabun minyak jelantah, sabun klerak, deterjen klerak, Eco Enzyme sebagai pembersih lantai, baking soda untuk pasta gigi dll.

Berhubung kondisi saya minggu ini kurang begitu baik, saya baru bisa mengerjakannya di last minute. Padahal pengen banget bisa bikin sabun, tapi bahan yang ada di rumah baru sebatas bisa diolah sebagai eco enzyme sehingga saya memutuskan untuk mencoba membuat EE dulu sebagai permulaan.

Bahan-bahan untuk membuat EE adalah kulit buah (jeruk atau apel), gula merah, dan air. Perbandingannya 3:1:10. Namun, karena nggak punya timbangan, jadi saya pakai ilmu kirologi aja πŸ˜…

Bahan-bahan EE

Setelah dimasukkan, botol dijungkirbalikkan agar semua tercampur (tapi jangan dikocok)

Langkah kedua

Oh ya, botol jangan terlalu diisi penuh untuk menyediakan tempat fermentasi dan juga jangan ditutup rapat agar gas bisa keluar.

Taraa.. Moga sukses ya :’)

Selanjutnya, karena saya tidak memakai ragi, setiap hari selama sebulan saya harus rajin jungkir balikin botol hehe. Setelah itu, diamkan selama 2 bulan.

Moga-moga sukses yaa, biar bisa hemat nggak perlu beli pembersih lantai lagi, ramah lingkungan dan memanfaatkan sisa kulit jeruk. Aamiin πŸ™‚

Referensi

-Materi kesembilan kelas belajar zero waste “Mari beralih ke tim pembersih alami” oleh Elistiyowati

-Artikel “Eco enzyme-Pemanfaatan Sampah Organik” dari Lantan Bentala

Sumber foto : Dokumen pribadi

#kelasbelajarzerowaste #BZWbatch5 #games9bzw

Iklan

Energi dan Lingkungan

Saya antusias dengan materi kedelapan di kelas BZW tentang jejak air, begitu pula dengan games BZW ke-8 untuk menghitung jejak karbon. Bagaimanapun semua ini membuat saya bernostalgia tentang Bapak yang berkecimpung di dunia lingkungan hidup, juga saat saya sedang mempelajari mata kuliah “Energi dan Lingkungan” saat kuliah. Siapa yang menyangka bahwa belajar zero waste ternyata juga memiliki benang merah dengan apa yang selama ini saya temui di kehidupan?

Bapak,sebagai orang lingkungan hidup, memiliki banyak buku tentang climate change maupun global warming. Gaya hidup beliau yang sehari-hari lebih sering berjalan kaki,maupun naik angkot, disebabkan karena pemahaman beliau sebagai orang lingkungan. Alhamdulillah saya banyak belajar dari beliau sehingga alat transportasi yang saya bisa hanyalah sepeda #wkwk bisa aja ini mah ya πŸ˜‚

Bapak juga concern dengan memakai produk lokal,makan produk lokal,sehingga dulu saat saya SMA dan lagi hobi main ke Jogja serta menggandrungi piz*a h*t, Bapak berceramah tentang berapa banyak proses impornya, masaknya, yang menghambur-hamburkan energi dan tak ramah lingkungan. Mending makan getuk sih,apa tiwul πŸ˜‚πŸ˜‚

Ya, benar adanya jika bergerak itu seringkali setara dengan pemahaman. Barulah saat saya mendapat materi kuliah energi dan lingkungan di mana salah satunya membahas tentang global warming,kesadaran diri itu mulai sedikit demi sedikit muncul, namun baru sekedar mengurangi makan daging sapi (karena kotoran sapi itu mengandung gas methan yang merupakan salah satu gas rumah kaca) , lebih suka makan produk lokal dan juga hemat listrik. Apalagi, saat saya melakukan ekperimen tentang vampire power, yakni tentang energi yang tetap tersedot meskipun kita tak memakainya. Misalnya, charger yang lupa dicabut. Ternyata meski daya yang tersedot kecil, bayangkan jika itu sampai berjam-jam, mungkin bisa untuk melistriki wilayah lain yang masih belum bisa menikmati listrik.

 

Saat itu, saya belum tahu sama sekali tentang ilmu zero waste dan tentang cegah-pilah-olah.

Barulah di games 8 ini, saya menemukan benang merahnya. Di games 8, kami diminta untuk menghitung jejak karbon melalui https://www.footprintcalculator.org/ ataupun di http://www.iesr.or.id/kkv3/panduan-penggunaan/ untuk bahasa indonesia.

Saya memilih menggunakan iesr supaya lebih mengena di hati πŸ˜†

Saat masuk ke web, kita akan diminta registrasi dulu. Setelah itu kita akan mengisi profil awal emisi karbon kita. Kita mengisi berapa watt dan berapa lama pemakaian alat-alat di rumah yang terdiri dari penerangan,peralatan dapur, peralatan rumah tangga, peralatan pribadi, hiburan serta informasi dan teknologi. Dari sana, kita akan tahu berapa jejak carbon yang kita hasilkan. Yap, ingat ya, listrik yang kita pakai saat ini masih dihasilkan dari bahan bakar fosil yang mengandung carbon. Kecuali kalau kita memasang panel surya di rumah.

Nah selanjutnya,setelah itu muncullah isian sampah,berupa sampah organik, sampah kertas dan sampah AMDK. Proses dalam menghasilkan makanan, kertas dan AMDK juga menghasilkan carbon dalam perjalanannya. Itu sebabnya makanan impor, seperti yang dibilang bapak, akan menghasilkan jejak carbon yang lebih tinggi karena memerlukan kendaraan dengan bahan bakar yang lebih banyak. Ingat juga,bahan bakar transportasi kita pun saat ini lebih banyak menggunakan bahan bakar fosil.

Setelah sampah, isian selanjutnya adalah jenis alat transportasi yang dipakai untuk jarak dekat dan jarak jauh. Saya sebenarnya lebih sering jalan kaki, namun jika si kecil capek, saya menggunakan ojek untuk bepergian jarak dekat, selain angkot.

Barulah setelah itu, keluar perhitungan total emisi karbon kita.

Dari games ini, semakin membuat saya sadar jika kita bisa lebih berhemat dalam penggunaan sumber daya (zero waste style), maka jejak karbon yang dihasilkan akan makin kecil. Namun, di era teknologi seperti ini, barangkali hemat energi saja tidak cukup.Β  Itu sebabnya, saya belum mengisi komitmen pengurangan emisi, karena rasanya sudah hemat (tapi nanti coba diulik lagi supaya lebih hemat). Itulah sebabnya penelitian tentang energi terbarukan sangat penting demi masa depan yang berkelanjutan. Saya jadi teringat perkataan pak dosen, bahwa barangkali kelak, para petani tanaman penghasil biofuel seperti kemiri sunan, bisa seperti raja minyak di Saudi sekarang karena biofuel merupakan alternatif bahan bakar untuk transportasi.

Saya pun juga senang saat melihat geliat mobil listrik mulai muncul di Indonesia. Namun ini juga harus dibarengi dengan riset energi terbarukan seperti panel surya sebagai penghasil listrik,karena percuma kalau chargingnya memakai listrik yang berasal dari bahan bakar fosil,tetap akan menghasilkan jejak karbon.

Pada akhirnya,Β zero wasteΒ ternyata begitu luas, dan kita bisa mengambil bagian peran yang paling dekat. Para petani organik, para ibu rumah tangga, para pengambil kebijakan, pegawai negeri di bidang ESDM, dosen, pelaku bisnis dan industri, peneliti bidang energi terbarukan, pegiat lingkungan, pegawai PLN dan masih banyak lagi, semua bisa saling mendukung demi masa depan bumi untuk generasi selanjutnya. Jangan sebaliknya, saling menjatuhkan.. πŸ™‚

Reference:

  1. https://mitrafastpay.co.id/rupa-rupa/waspada-vampir-listrik-di-rumah-anda/
  2. http://carboncalculator.iesr.or.id
  3. Kuliah Materi ke-8 kelas BZW oleh Arlisa Febriani
  4. Nasihat Bapak
  5. Kuliah Energi dan Lingkungan dengan dosen Prof. Ir. Rinaldy Dalimi

#kelasbelajarzerowaste #kelasBZW5 #games8BZW

Cerita Komposter

Sesungguhnya saya termasuk “anak piyik” dalam belajar mengurangi sampah, yakni baru mulai sekitar pertengahan 2018. Saat itu keinginan untuk membuat komposter pun sudah ada, tapi proposalnya ditolak oleh paksu. Kata beliau, belajar zero wastenya pelan-pelan dulu lah. Beliau berasa kaget dan jetlag kalau mau langsung semuanya. Minimal kurangi plastik dulu. Oke siap πŸ˜‚ Emang bener sih,harusnya step by step asal konsisten πŸ™ˆ

Lalu, saya ajukan lagi awal tahun 2019. Masih ditolak. Gak ada tanah, katanya. Ada sih, tapi punya orang, wajar kalau nggak bisa leluasa diutak atik πŸ™ˆ

Finally, mb @DK Wardhani posting tentang easy lazy composter di instagramnya dan saya ajukan ke paksu lagi sambil menunjukkan isi postingan. Entah karena caption mba Dini yg menohok, atau karena rengekan istrinya, akhirnya proposal easy lazy composter lolos juga! Yayy alhamdulillah πŸ˜‚

Karena gak punya tanah, kami beli media tanam di toko bunga yg isinya top soil, pupuk dan bakteri pengurai. Sisa organik dicacah dan diaduk rata sampai tertutup tanah/media tanam. Kalau lagi males ya langsung kubur tanpa dicacah.

Sisa organik di komposter generasi pertama yg dibuat tgl 24 Agustus lalu sudah nampak mulai terurai. Kelebihan komposter ini adalah praktis dan gak ribet, tapi kelemahannya cepet penuh. Karena satu pot kurang,saya membuat lagi untuk generasi kedua. Lalu karena berasa kurang lagi, saya membuat kembali, kali ini bukan yang easy lazy, tapi pakai resep mba okta zaida di #kelasbzw pada materi mengompos. Saya memutuskan untuk memakai media pot lagi karena itu yang mudah didapatkan. Dari tokonya, pot sudah dilubangi sehingga tinggal diberi daun kering, lalu tambahkan media tanam/tanah, air leri dan sisa organik. Kemudian ditutup lagi dengan daun kering hingga akhirnya ditutup plastik. Karena baru dibuat selasa, starter kompos ini masih belum tahu hasilnya bagaimana karena harus didiamkan selama 2-3 hari. Jika hasilnya menghangat dan sisa organik menghitam,artinya starter sudah jadi dan siap diisi sisa organik harian. Semoga saja berhasil aamiin πŸ™‚


Dan dari cerita komposter ini, saya belajar bahwa quote the hardest part is beginning itu bener banget. Namun dengan terus menguatkan niat dan tujuan dalam melakukan sesuatu,in syaa Allah kita akan bisa memulainya.. Kalau itu hal yang penting, in syaa Allah kamu akan menemukan caranya, tapi jika tidak, kamu akan temukan alasan. Jadi, mau mulai ngompos kapan? 😊

Sumber gambar : Dokumen Pribadi

#bzwbatch5 #KelasBZW5

Otodidak Buncek #1 : Learn How To Learn

Cek kembali. Apakah hasil belajarmu sudah mendekatkanmu pada sang Rabbi?

***

Setelah termangu dan menanti sekian lama, tetiba tebersit keinginan di hati untuk otodidak belajar Bunda Cekatan karena IP belum juga membuka kelasnya. Huhu. Semoga saja bisa segera buka dan bergabung, aamiin πŸ˜‡

Saya menggunakan buku berjudul “Bunda Cekatan” sebagai panduan dalam belajar. Harapannya, dengan bekal bunda sayang dan bunda cekatan yang sudah kuat, selanjutnya saya bisa lebih serius menekuni apa yang selama ini menjadi hobi maupun interest, seperti menulis ataupun belajar coding.

Bab pertama adalah tentang “Belajar cara belajar”. Kompetensi yang diharapkan dari materi ini adalah agar kita dapat menguasai ilmu ketrampilan bagaimana menjadi insan pembelajar yang sanggup mencari sumber belajar secara mandiri.

Renungan dari materi Learn How To Learn di buku ini adalah mengingat kembali proses cara belajar kita dahulu. Dengan zaman yang berbeda, apakah tepat jika cara belajar zaman dahulu diterapkan untuk zaman sekarang?

Jika saya ingat-ingat, dulu proses belajar terasa sangat “terpaksa”. Akibatnya, seringkali belajar hanya dimaknai sebatas menghafal. huhu.

Dalam buku ini dijelaskan beberapa poin penting tentang belajar. Yang pertama adalah penguatan iman. Saya sepakat sekali dengan poin ini. Rasulullah pun dulu membina iman dahulu baru dilanjutkan ilmu.

Jadi, saat memilih jurusan ilmu yang akan kita tekuni, cek dulu. Apakah ilmu ini sesuai dengan syariatNya? Menuntut ilmu memang hukumnya wajib atas setiap muslim (HR Ibnu Majah). Muda maupun tua. Namun, mintalah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tak manfaat.

Menurut Imam Al Ghazali, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menambah ketakutan kepada Allah,menajamkan mata hati untuk melihat kelemahan-kelemahan diri dan menambah dekat ke Allah, menambah kecintaan pada akhirat dan sedikit mencintai dunia.

Maka, dalam perjalanannya, kita bisa cek, apakah ilmu yang kita pelajari sudah membuat kita semakin dekat denganNya? Atau justru terjerumus dalam keangkuhan dan membuat orientasi dunia lebih besar dibanding akhirat?

Pedoman ini pula yang bisa kita terapkan saat mendidik anak kelak.

Poin kedua adalah tentang gaya belajar anak. Anak memiliki gaya belajar masing-masing, apakah itu visual, auditory, ataupun kinestetik. Kita pun juga memiliki gaya ini. Maka, jika sudah tahu gaya yang pas untuk kita, kita bisa menentukan seperti apa proses belajar kita. Dengan banyak membaca buku kah? Atau porsi mendengar (seminar, youtube dkk) yang lebih diperbesar?

Saya sendiri cenderung kinestetik sehingga sering mengantuk jika membaca tanpa mencatat, atau mendengar tanpa menggerakkan tangan untuk mencatat. Dulu pun saat SMP dan SMA, saya suka keliling-keliling kamar sambil membaca buku saat akan ujian. πŸ˜‚

Poin lain adalah passion. Ya, kita tentu merasakan sendiri jika melakukan hal yang membuat bahagia, tentu tiada merasa lelah. Namun saya sendiri lebih mementingkan mission dibanding passion. Karena nyatanya saya bisa berkutat di elektro (dengan misi : it’s okay, harus bisa lulus demi membahagiakan bapak ibu. Toh ini ilmu bermanfaat demi ketahanan energi nasional) walaupun haqqul yaqin itu bukan passion saya sama sekali πŸ˜† Nah, kata-kata dari Salim A Fillah ini pun bisa menjadi penguat bahwa misi itu lebih penting.

Jika menulis itu hobi, ia mudah saat kita senang hati. Jika menulis itu misi, kita kan bersedia berdarah-darah meniti jalannya. –Salim A Fillah

Jadi, saya masih tetap sepakat dengan statement don’t follow your passion, but follow your mission.

Walaupun yaaa.. emang enaknya sih misi kita itu ya passion kita hehe. Namun, secara logika, ketika kita diberi misi, tentunya kita diberikan pula kemampuan dan potensi dari Allah untuk itu, jadi semestinya pasti ada bakat kita sebagai bekal dalam menyelesaikan misi. Ini sesuai dengan poin meratakan lembah dan meninggikan gunung. Yap,artinya lebih mengasah kekuatan ketimbang terpaku pada kekurangan.

Misalnya, jika anak kita jago bahasa dan tidak hebat dalam matematika, maka cukuplah matematika mempelajari basic, dan cukup diarahkan agar bisa mencapai standar minimal kelulusan. Sebaliknya, potensi dalam bahasa dilejitkan agar ia mampu optimal dalam peran peradabannya.

Kalau di saya, oh, ternyata elektro tuh kelemahan saya di hardware, jadi bisa diserahkan ke orang lain. Lebih enak utak atik software, jadi ya tekuni itu.

Agak beda sensasinya ya, karena dulu kita dituntut untuk sempurna segalanya πŸ˜‚ Sekarang jauh lebih legowo kalau misal ada orang lain yang lebih jago. Yaa karena memang tiap orang unik dengan kekuatannya masing-masing sih.

Lalu, poin penting yang lain adalah ketrampilan bertanya. Siapa dulu yang suka malu-malu bertanya? *saya ngacung duluan. Duh, sedih ya. Kadang sampai sekarang saya suka masih malu bertanya, makanya banyak sesat di jalan 😒😒

apa sih yang bikin kita malu tanya? Kalau saya, takut ditertawakan jika pertanyaannya aneh. Sedih ya. Senada dengan takut berpendapat karena takut ditertawakan atau diejek. Huhu budaya kita lebih lekat dengan ejekan ya dibanding apresiasi😒 jadi baper deh nulis ini.

Baiklah. Epilog dari belajar bab 1 buncek ini adalah perbaiki proses belajar. Cek apakah ilmu yang dipelajari sudah mendekatkan ke Allah. Cek apakah prosesnya sudah sesuai dengan gaya belajar. Cek apakah sesuai misi. Cek apa saja kekuatan dan kelemahan. Lejitkan kekuatan dan atasi kelemahan dengan memakai tools ataupun bantuan orang lain. Jangan malu bertanya, nanti sesat di jalan. Apalagi sekarang ada teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mencari jawaban (tetap cek kevalidan juga tapi yaaa).

Adapun penerapan bab 1 ini saya tujukan dalam memetakan bagaimana proses belajar saya dalam belajar tentang bunda cekatan dan menyusun kurikulum belajar si kecil yang akhirnya lebih sering mengacu ke preferensi si kecil (agar tidak merasa terpaksa) dan juga menitikberatkan untuk mengenalkan pada keimanan melalui kisah dan keteladanan.

Bismillah, di sisa tahun 2019 ini, saya tekadkan untuk mencoba mandiri belajar bunda cekatan. Semoga dilancarkan πŸ™‚

Depok, 1 Muharam 1441 H.

Referensi :

1) Buku Seri Ibu Profesional #2 Bunda cekatan karya Niken Tf Alimah dkk terbitan Gazza Media

2) Kajian Madrasah Al Walid dan Walidah 24 Februari 2019 “Tanggung Jawab Pendidikan Keluarga” oleh Ust. Adian Husaini

#ibuprofesional #IIP #otodidakbuncek #insanpembelajar

The Invisible #2 : Ini tentang Kita, bukan Mereka

Sudahkah kita menjadi orang tua seperti yang Allah inginkan?

***

Renungan tentang “melihat ke dalam diri” kembali berlanjut setelah mengikuti kajian Be A Wonderful Mom oleh ust. Bendri dan Tazkiyatun Nafs oleh ust. Ferous.

Di Be A Wonderful Mom, ditekankan kembali bahwa ilmu parenting itu sejatinya berbicara tentang orang tuanya (kita sendiri), bukan tentang anak. Saat anak bertingkah, pertanyaan yang tepat diajukan bukanlah “Kenapa anak ini?”, tapi fokus pada diri. “Ada apa ini? Apakah solat kita baik? aktivitas kita baik?”

Kami diminta merenungi kembali ayat Al Qur’an (An Nisa ayat 9) tentang bagaimana agar tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Syaratnya ada dua, yakni bertaqwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang baik. Poin yang sering dilupakan adalah poin pertama yang memang begitu invisible karena menyangkut spiritualitas. Poin kedua adalah yang sering kita kejar melalui berbagai seminar, yakni bagaimana memperbaiki pola komunikasi. Padahal, (lagi-lagi mengambil ibrah dari Ibrahim) jika komunikasi adalah masalahnya, maka seharusnya hubungan Ibrahim dan Ismail bermasalah karena mereka berdua berpisah lama. Namun mereka justru akrab berkat spiritualitas Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim senantiasa mendoakan kebaikan bagi keluarganya.

Terkait doa, seringkali kita hanya mendoakan anak kita, namun lupa menyertakan doa bagi diri sendiri. Ingin anak hafal Al Qur’an, tapi hafalan sendiri pun masih lemah. Padahal doa nabi Ibrahim selalu menyertakan diri dan anaknya (QS Ibrahim : 35 dan 40).

Jadi, karena anak adalah representasi kita, sejatinya kita perlu memulainya dari memperbaiki diri terlebih dahulu.

Senada dengan ustadz Bendri, bahasan pada kajian tazkiyatun nafs dari ustadz Ferous juga mengajak kita untuk merenung. Sudahkah kita menjadi orang tua seperti yang Allah inginkan?

Seringkali kita lebih mengedepankan harapan subjektif dibandingkan harapan objektif sehingga mirip seperti diktator. Padahal semestinya kita perlu mengedepankan harapan objektif, agar anak bisa mengembangkan fitrah untuk menjalankan peran sebagai hamba dan khalifah Allah. Mendidik dengan harapan ini dijalankan sebagai bentuk pemenuhan amanah dari Allah, dengan cara memfasilitasi anak untuk berinteraksi dengan ayat kauniyah dan kauliyah. Tak ada target duniawi seperti harus jadi dokter, dkk.

Namun, harapan subjektif memang tidak bisa dihilangkan karena inilah normalnya manusia. Oleh karenanya,harapan ini perlu dikebelakangkan sebagai bentuk “kerelaan berkorban”.

Itulah mengapa di awal kajian,ustadz menanyakan apakah kami rela jika anak menjadi dokter? Rata-rata semua mengangkat tangan. Namun saat ditanya apakah rela jika anak menjadi cleaning service? Yang mengangkat tangan hanya sedikit. Lalu pertanyaan berubah lagi, jika cleaning service digaji 50 juta atau 100 juta apakah rela? Tetep dikit juga sih yang angkat tangan hehe.

Self-plak, karena ternyata tanpa sadar orientasi duniawi masih menyelimuti diri.

“Memangnya cleaning service gak bisa masuk surga pak,bu? Hafidz Qur’an kalau orientasinya dunia gimana tuh bu? Misalnya mau jadi imam, tapi bayarannya sekian dolar?”

Jleb. Inilah bukti bahwa semua sejatinya setara dalam islam. Yang membedakan adalah taqwa. Lagi-lagi invisible kan?

Ustadz juga mengingatkan kami tentang an Najm ayat 32. Tentang janganlah mengira kalau kita ini suci, bebas dosa. Tazkiyatun nafs itu perlu sepanjang hayat, karena setan juga menggoda sepanjang hayat.

Dalam pendidikan, tazkiyatun nafs merupakan modal utama sukses mendidik. Supaya orientasi tetap kepada Allag, bukan dunia.

Anak sejatinya lahir dengan fitrah kebaikan. Kejujuran sejatinya tidak perlu diajarkan pada anak karena kejujuran itu murni datang dari Allah. ketika anak bohong, itu adalah akibat dari kontaminasi kita yang mengajarkan.

Lalu bagaimana cara tazkiyatun nafs? Caranya adalah dengan dzikrullah sebelum kotor, lantas istighfar dan taubat sesudah kotor.

Jadi,dari dua kajian di atas, tampaknya kita perlu mengubah pertanyaan dari “apakah anak sudah menjadi seperti yang kita inginkan?” menjadi “sudahkah kita menjadi pendidik seperti yang Allah inginkan?”

Lagi-lagi. Iman itu tak nampak, tapi berdampak.

Depok, 29 Agustus 2019

Referensi :

-Kajian Be A wonderful mom oleh ust. Bendri di Masjid kompleks Griya Tugu Asri, cimanggis depok, 23 Agustus 2019

-Kajian Madrasah Al Walid dan Walidah Depok HebAT Community bertajuk “Tazkiyatun Nafs” oleh Ust. Ferous di Masjid al Muttaqin Sukmajaya Depok 25 Agustus 2019

#parenting #tazkiyatunnafs

The Invisible #1 : Tentang Proses

Seberapa sering kamu terpaku pada hasil dan lupa menikmati prosesnya?

***

Bulan Agustus ini, semesta seakan bersepakat agar saya belajar lebih banyak untuk menengok ke dalam diri.

Bulan yang bertepatan dengan momen Idul Adha ini membawa banyak pelajaran tentang tauhid, seperti yang tercermin pada bapak para nabi, Ibrahim.

Mulai dari Family Coaching bersama Ummi Hani, hingga kajian madrasah walidah bertajuk Tazkiyatun Nafs oleh Ustadz Ferous.

Dan semua, dimulai dari sebuah kesadaran akan sebuah kesalahan, saat idul adha. Saat itu, kami sekeluarga sudah bersiap-siap hendak sholat idul adha pukul setengah 7. Normalnya, solat idul adha yang biasanya kami hadiri di tahun-tahun sebelumnya itu ya jam 7. Namun karena kami baru pindah di lingkungan ini, rupanya sholat idul adha di masjid terdekat dimulai lebih awal! Mulanya saya sedikit curiga kenapa ada orang yang berangkatnya sudah duluan jalan di depan kami, tiba-tiba berbalik arah. Saya pikir ada yang tertinggal. Rupanya setelah sampai masjid, solatnya sudah bubar 😒😒😒 Mana kami jalan kaki! Kalang kabut lah kami buru-buru balik ke rumah. Secara logika, agak susah untuk bisa mencari tempat solat baru karena jam 7 semakin dekat. Namun, saya memaksa supaya nggak menyerah dulu buat cari tempat solat. Kami menuju lapangan tahun lalu tempat kami solat, ternyata juga sudah bubar.

“Ga apa-apa ya, kita udah berusaha.” hibur suami. Namun, hati saya terlanjur kecewa. Yah, masak ga solat? Sedih banget.

Kekecewaan itu terlontar begitu saja dari mulut, membuat kami sejenak bersitegang karena paksu merasa usahanya mencari tempat solat tak dihargai.

Di situ saya merasa tertampar. Saya,ternyata seringkali melupakan sebuah proses.

“Bisa jadi yang terlihat sia-sia ini dicatat oleh Allah sebagai pahala! Karena kita sudah berusaha.” Tegur beliau.

Kami pun memutuskan pulang. Rupanya, di jalan kami bertemu masjid yang masih dalam proses solat. Buru-buru kami pun bergabung meski terlambat.

Alhamdulillah kami masih bisa solat. Namun, peristiwa itu menorehkan jejak yang mendalam di hati saya. Selama ini, berapa kali saya hanya terpaku pada hasil? Berapa kali saya melupakan proses? Dan berapa kali pula menzalimi diri dan keluarga karena hal ini?

Bahkan sepulang dari solat, renungan hikmah dari ustadz Harry santosa di WAG Depok HEbAT langsung menghujam dada. Kisah tentang bunda Hajar. Tentang lari tujuh kalinya yang terlihat ‘sia-sia’.

Kisah Ied Adha

Seorang Ibu berlari bolak balik 7 kali dari Safa ke Marwa, bukit pasir terjal dan panas. mencari air demi anaknya, namun air yg dicari justru memancar dari kaki anaknya. Seolah amalnya sia sia. Tapi justru yg dicatat oleh Allah SWT sbg amal monumental dan fenomenal sampai akhir zaman justru berlarinya sang Ibu dari Safa dan Marwa. Maka Wahai bunda, teruslah beramal shalih yang Allah ridhai berupa peran fitrah Ibu yang sejati, karena itulah yang akan Abadi selamanya walau tiap anak sudah Allah karuniakan fitrahnya masing masing. Selamat Hari Raya Iedul Adha 1440H.

Ust. Harry Santosa

Berapa kali melupakan yang invisible? Padahal yang terlihat hebat belum tentu demikian. Teringat pula ceramah saat Ramadhan lalu. Yang di masjid, belum tentu mendapatkan lailatul Qadr. Yang mudik di jalan, belum tentu tak mendapatkan lailatul Qadr.

Hiks. Ya Allah… Tamparan luar biasa. Dan ini baru awal.

Saat family coaching, ummi Hani memaparkan tentang Ibrahim dan perjalanannya dalam berkeluarga. Betapa Nabi Ibrahim tinggal di lingkungan tak ideal. Ayahnya musyrik, lingkungannya demikian. Namun Allah jaga fitrahnya. Hubungan dengan Allah inilah yang membuatnya survive pada setiap liku perjalanan hidupnya. Mulai dari lamanya dikaruniai anak, adanya paceklik hingga harus hijrah ke Mesir, mengatasi kecemburuan Sarah, meninggalkan Hajar di padang pasir, hingga perintah menyembelih anak sendiri.

Seringkali, semua masalah terasa rumit akibat cara pandang kita terhadap masalah. Selama ini, kita merasa jika harapan tak terkabul, artinya kita tak berhasil. Nah, barangkali semua itu karena memang pembelajaran kita terhadap sebuah masalah belum selesai? Belum melibatkan Allah?

Lalu jika doa terkabul, apakah benar Allah ridho?

Masalah itu datang untuk menguji seberapa ikhlas dan yakinkah kita. Kenali Allah, diri dan kehidupan. Nikmati prosesnya. Adapun jalan keluar adalah bonus.

Idul fitri yang lalu pun saat sedang berhalangan solat

Lagi-lagi tentang proses,Ummi Hani menuturkan bahwa jika hasil yang diharapkan adalah membawa suami beliau masuk komunitas HEbAT, maka beliau bisa dikatakan gagal. Namun, jika itu tentang bagaimana agar sang suami mau berpartisipasi dalam pendidikan anak, maka hasilnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Ummi Hani pun merayakannya sebagai sebentuk keberhasilan.

Di sini saya tertegun. Pantaslah kadang saya merasa tersiksa karena tak kunjung jadi bunda cekatan. Terkadang saya merasa sedih karena belum jua sempurna ber-zero waste. Saya lupa untuk merayakan sekecil apapun kemajuan dalam sebuah proses.

Ah….

Bukankah Nabi Ibrahim sedemikian ikhlas saat harus menyembelih Ismail? Tanpa tahu bahwa nantinya sang anak akan diganti oleh seekor domba?

Barangkali memang saat terasa berat, kita perlu menengok dalam diri. Seberapa ikhlas kita dalam menjalani sebuah proses? Seberapa dekat kita denganNya?

Iman memang begitu invisible. Tak nampak, namun berdampak.

Trash Audit (Games 3 Belajar Zero Waste)

Apa sisa konsumsi terbesarmu? Dari mana asalnya?

***

Postingan kali ini akan membahas tentang perjalanan zero waste saya yang masih sangat teratih-tatih. Biasanya saya posting di instagram, namun berhubung di HP gak terinstall instagram (biasanya nebeng pake ipad suami) dan ada gambar yang cuma kedownload separuh, jadi sementara balik ke blog aja deh πŸ˜… #Gagap sosmed dan riweuh mau utak utik lagi plus suami lagi lembur masak direcokin hal ginian πŸ˜‚

Selama seminggu ini, setelah mendapat materi trash audit dari pak aang dan mba Nikmah, saya mencoba mencatat sisa konsumsi keluarga selama satu minggu. Hasilnya ternyata sisa konsumsi organik cukup besar, jikalau ditotal selama seminggu mungkin sekitar 800-1000 ml? (akibat ngga punya timbangan πŸ™ˆ). Sisa organik ini berasal paling banyak dari kulit buah kelengkeng dan cangkang telur. Wah, kampanye makan sehat rupanya udah mulai berhasil. Alhamdulillah. Itu artinya, harusnya sudah mulai berani bikin komposter ini ya… Plus mulai gencar merayu suami biar ngizinin bikin komposterπŸ™ˆ apalagi mba @DK wardhani barusan posting cara bikin komposter buat yang mager…

Nah, untuk sisa konsumsi anorganik, saya sempat berpikir bisa mencapai nol karena sedang berusaha menghindari plastik. Tapi ternyata mereka tetap saja ada, paling banyak berasal dari jajan si bocah. Apalagi Ahad, dapat kiriman goody bag acara 17-an yang isinya plastik semua 😐 Namun, untuk ukuran seorang anak kecil yang tadinya begitu impulsive memasukkan banyak jajanan tiap belanja ke supermarket/warung, penurunannya sampai hanya beli 4 item kecil sudah bisa dibilang bagus banget. Good job Nak. Smga bisa sampai tahap eliminasi jajanan berkemasan plastik ya πŸ˜†

Kresek hitam kecolongan dari beli beras karena ketika malam-malam beras abis, pak suami baik hati berinisiatif membelikannya sepulang dari kantor dan tentunya nggak bawa wadah. Alhasil sampailah si kresek ini ke rumah. Plastik pakan ikan didapat saat ke tempat wisata, untungnya plastik yang untuk wortel kelinci bisa ditolak karena gak diiket.

Tak apa, belajar secara pelan-pelan dan menghargai setiap proses. Kalau melihat dulu yang gak terlalu aware sama kantong plastik, bisa mencapai tahap yang sekarang perlu disyukuri sambil terus berusaha menuju seminim-minimnya sisa konsumsi. Bismillah, bismillah, semangat. 😊

Depok, 21 Agustus 2019

#games3bzw #kelasbzw5 #kelasbelajarzerowaste #bzwbatch5