Rileks dan Optimis Membersamai Tim : Sebuah Review untuk Mba Tata

Pekan ini, alhamdulillah saya mendapat kenalan baru untuk review jurnal, yakni Mba Tata dari Yogyakarta. Aih, jadi kangen sama kota gudeg itu πŸ₯° Membaca jurnal mba Tata, membuat saya senyum-senyum sendiri karena sense of humor di dalamnya. Saya belajar tentang suasana rileks dan kepercayaan diri saat mengelola sebuah tim. Kadang kala, ada perasaan berat dan tidak PD dalam membersamai sebuah tim. Tetapi mbak Tata bisa mengubah pandangan bahwa proyek yang serius tetap bisa dijalankan secara tenang dan santai. Rampingnya sebuah tim, bagi mba Tata justru membawa keuntungan tersendiri untuk lebih menyatukan chemistry. Benar juga, menyatukan 2 kepala saja tidak mudah, apalagi jika ada banyak kepala. Justru dengan berdua, akan ada banyak kesempatan untuk meningkatkan bonding. Lewat mba Tata saya jadi belajar untuk tidak surut dengan kecilnya anggota tim. Bahkan, sejarah sudah mencatat bagaimana di perang Badar, dengan jumlah yang sedikit, justru Allah berikan kemenangan.

Untuk hal yang perlu ditingkatkan adalah penggunaan user persona.Video kampanyenya sudah unik dan menarik, jadi penasaran bagaimana cara bikinnya. Pemilihan gambarnya oke, dan pas dengan tema yang diusung. Agar dampaknya bisa semakin meluas dan menarik, mungkin bisa diceritakan sedikit saja ttg background mba Tata di kampanye, semisal dilengkapi dengan nama diri dan perjalanan mba Tata dalam menekuni desain fashion.

Kurang lebih seperti itu review dari saya. Semoga berkenan ya mba.. alhamdulillah, senang sekali bisa belajar dari jurnal mba Tata. Teriring doa semoga diberikan kemudahan dan kelancaran dalam proses ke depannya. Senang sekali bisa berkenalan dg seorang fashion designer seperti mba Tata πŸ₯°

Review untuk Mba Tata

Alhamdulillah Mba Tata juga memberikan review yang memotivasi untuk bisa merekam jejak Tazkiya Project menjadi sebuah tulisan. Aamiin, mudah-mudahan bisa merealisasikannya, walaupun sejatinya sudah banyak yang lebih ahli baik dalam praktek maupun dalam menuliskannya. πŸ˜…πŸ˜… Kalau lagi insecure gini, langsung ingat Imam Malik saat ditanya mengapa menulis kitab Al Muwatta padahal sudah banyak yang menulis kitab serupa. Jawaban beliau sungguh layak diteladani. “Apa yang ditulis karena Allah, akan eksis dan langgeng.” Mudah-mudahan bisa meluruskan niat, dan semoga Tazkiya Project bisa bermanfaat, setidaknya untuk diri sendiri dulu beserta tim di dalamnya. Aamiin… πŸ™‚

Feedback dari Mba Tata
Terima kasih Mba Tata πŸ™‚

Membangun Tim Untuk Tazkiya Project

Together, Everyone Achieving More.

Setelah mengindentifikasi masalah, kami diminta untuk membangun sebuah tim. Mengapa tim? Sebab, jangan-jangan karena sendirian lah masalah kita tidak selesai. Maka, dengan adanya tim, akan mengubah strategi kita dalam menyelesaikan masalah, juga akan menciptakan proses berkelanjutan (tidak berhenti di kita).

Saya sendiri sudah pernah merasakan manfaat tim. Dulu, saat membuat sebuah proyek elektronika, saya kewalahan saat mengerjakan sendirian. Namun, proyek serupa yang dihandle oleh tim, hasilnya rupanya bisa baik. Biidznillah. Coach kami bahkan menuturkan bahwa proyek ini tidak bisa jika dikerjakan sendirian saja dalam kurun waktu singkat. Jujur, ada kelegaan dan optimisme yang akhirnya menjalar dalam hati saya saat itu. Karena akhirnya saya paham bahwa target yang dahulu itu terlalu tinggi dan bukan berarti saya tidak mampu. Saya lega pak.. Alhamdulillah..

Nah kini saatnya mencoba menerapkannya pada masalah yang kini tengah saya hadapi. Saya membuat proyek Tazkiya, yang diambil dari kata Tazkiyatun Nafs

Sejujurnya, ketika temen satu Co housing yang lain masih berkutat dengan literasi dan kepenulisan sebagai topik di Bunsal, saya sedikit ngiler dan pengen mundur teratur dari Tazkiya Project. Alhamdulillah selalu diingatkan dengan kalimat bu septi, jangan ganti-ganti problem statement ya!

Iya sih ya.. kalau lari terus dari masalah, kapan pula kelarnya. Belajar mencintai masalah untuk ditemukan solusinya.Saya pun mencoba mencari sisi lain dari Tazkiya Project, hingga akhirnya teringat insight kenapa dulu pengen belajar minim sampah. Bukan hanya tentang cinta bumi, tapi juga berusaha untuk menjadi pribadi asertif. Berani berkata “Ya” atau “Tidak,” dan siap menerima “Ya” atau “Tidak” dari orang lain tanpa baper, karena sadar apa alasan di balik Ya dan Tidak itu. Bukan sekedar ikut arus. Belajar untuk punya pijakan sebelum berbuat. Ilmu sebelum amal, kan yaa.. :’)

Ya, mungkin ini bekal yang harus kuat dulu sebelum nanti kembali menekuni dunia literasi, supaya siap menulis apa yg harus ditulis dan bukan sekedar ikut tren menulis topik apa yg lagi hangat. Bisa juga untuk memperkuat jati diri sebagai ibu, supaya lebih mindful dalam pengasuhan anak, bukan membebek gaya parenting ini itu tanpa tahu tujuan jelasnya,  dengan meminta pertolongan pada Allah tentunya. Kita juga akan mudah menghargai pendapat ibu lain yang mungkin berbeda gaya pengasuhannya.

Itu sebabnya, mindfulness, ilmu berbenah rumah dan manajemen energi saya masukkan sebagai hardskill di Tazkiya Project. Saya melakukan kampanye di Instagram dan Whatsapp Status.

Memakai user persona untuk kampanye
Membuat komik kampanye di Medibang Paint dan Canva

Alhamdulillah ada dua orang yang mendaftar selain suami. Salah satunya adalah Fani, yang membuat saya terharu sekaligus deg2an hehe, karena beliau adalah teman SMA saya dan punya peran sangat penting di kehidupan kuliah saya. Beliau juga yang membuatkan gambar yang selalu saya pakai untuk icon mahasiswa di kelas Bunbun. Mudah-mudahan ini jadi momen kami buat diskusi sama-sama secara santai :’)

Kemampuan yang diperlukan Tazkiya Project

Yang kedua adalah member IP Purwakarta, yakni Mba Riana. Fani memilih disiplin ilmu berbenah rumah sedangkan Mba Riana memilih ilmu manajemen energi. Saya sebenarnya menunggu hingga semua disiplin ilmu terkumpul, tetapi mungkin memang saat ini bertigalah yang terbaik (ditambah suami sebagai partner di balik layar) Bismillah.. in syaa Allah hari ini akan mencoba membuat grup khusus untuk diskusi. Semoga dimudahkan. Aamiin

Anggota tim, memang untuk partner diskusi

Renungan Memperbaiki Adab : Sebuah Review untuk Mbak Siti

Kita beralih dari sistem pembelajaran tradisional menuju problem based learning, di mana kita belajar dan mengaplikasikan suatu ilmu untuk menyelesaikan masalah yang ada. Karena berangkat dari masalah nyata yang ada, maka kita benar-benar tahu “STRONG WHY” kita saat belajar. (Insight dari Materi Ibu Pembaharu)

Setelah mengidentifikasi masalah yang ada, kami diminta bertukar jurnal untuk saling memberikan umpan balik. MasyaAllah, lewat proses ini ternyata saya dipertemukan lagi dengan Mbak Siti Mashunah, teman belajar saat mentoring di kelas Bunda Cekatan πŸ₯°

Membaca jurnal mbak Siti, membuat saya kembali merenung tentang adab. Penuturan beliau tentang merasa belum maksimal dalam membersamai proses HS dan HE anak-anak, membawa beliau kepada sebuah kesimpulan bahwa semua ini dikarenakan kurang adab dan kesungguhan. Saya jadi teringat materi pertama matrikulasi pun memaparkan tentang adab sebelum ilmu. Bagaimana bisa nantinya ilmu masuk, apabila adab tak diperbaiki terlebih dahulu. Teringat juga para ulama yang saat membahas ilmu, benar-benar fokus dan serius. Bahkan berwudhu sebelum membahasnya. Ketika mbak Siti menemukan akar masalah ini, merupakan sebuah langkah yang baik, untuk kemudian diaplikasikan dalam menyelesaikan masalah HS dan HE. Belajar ilmu dan adab dilakukan secara paralel, disertai dengan doa. Ini juga menjadi catatan dan pengingat saya, untuk memperkuat doa, seperti yang sering Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam panjatkan, yakni meminta ilmu yang bermanfaat. Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a

Dari jurnal, Mbak Siti juga resah akibat belum adanya portofolio belajar yang mudah diakses. Jadi saya berasumsi, mbak Siti sudah membuat portofolio tersebut. Ini sudah langkah yang baik untuk mengikat ilmu. Langkah selanjutnya, dengan harapan ilmu tersebut bisa menjadi warisan, Mbak Siti bisa secara bertahap memilah mana yang bisa diakses umum dan mana yang hanya akan diwariskan untuk keluarga. Untuk akses umum, blog yang dimiliki mbak Siti bisa menjadi salah satu jalan, in syaa Allah.

Akar masalah kedua yang dituturkan mbak Siti adalah tentang menunda. Ini sepertinya masalah yang juga sering dialami banyak orang yaa.. termasuk saya πŸ™ˆ Mungkin nanti bisa dicari lagi, apa yang menyebabkan kita menunda. Kalau pengalaman saya pribadi, saya sering menunda sesuatu karena merasa sulit dan sifat perfeksionis yang selalu menunggu segalanya sempurna dulu πŸ˜… Nah, ketika tahu apa kiranya yang membuat kita menunda, semoga Allah mudahkan untuk bisa mengatasinya.

Feedback untuk Teman

Alhamdulillah, dengan mereview jurnal mbak Siti, jadi banyak yang saya pelajari lagi. Tentang adab, tentang bagaimana agar bisa mewariskan ilmu, tentang tidak menunda. Semoga Allah mudahkan mbak Siti yaa melalui segala prosesnya. Semoga diberikan kelancaran juga untuk kehamilan mbak Siti hingga persalinan nanti.. Aamiin ya Rabb πŸ₯°

Manajemen Waktu Ala Anak Usia Dini

Bagi seorang ibu, manajemen waktu merupakan salah satu hal paling krusial agar bisa menjalani hari dengan cukup waras. Adanya perencanaan yang baik membuat kita menjalani hari dengan tujuan yang jelas yakni tahu aktivitas apa saja yang harus dilakukan di hari tersebut. Nah, rupanya, sebuah jadwal, bukan hanya bermanfaat untuk ibu lho, tetapi juga untuk anak. Sama seperti kita, anak bisa menjadi bingung apabila tidak mengetahui apa yang harus dilakukan pada suatu hari. Dengan adanya jadwal, anak jadi lebih tertata dalam menjalani harinya. Namun, bagaimana sih cara membuat jadwal untuk anak usia dini?

Nah, ibu semua tentu pernah mendengar bahwa anak belajar dari mencontoh. Dengan demikian, kita bisa memberikan contoh melalui jadwal harian kita sendiri. Misalnya, jika kita terbiasa membuat jadwal harian berdasarkan waktu sholat, maka kita bisa bercerita kepada anak bahwa setelah shalat subuh, biasanya ibu akan memasak, mendengarkan ceramah, dan berdzikir. Ceritakan juga semua aktivitas yang biasa kita kerjakan setelah shalat zuhur, ashar, maghrib dan isya. Selain bisa memberikan teladan, dengan memberitahukan aktivitas kita, anak juga bisa mengerti kegiatan-kegiatan ibunya sehingga saat ibu memiliki janji, me time ataupun kegiatan lain yang perlu dikerjakan sendirian, anak bisa lebih memahami sehingga tidak tantrum saat ditinggal berkegiatan.Β  Lewat pengenalan jadwal ini pula, kita bisa memberikan semacam briefing tentang apa yang harus anak lakukan saat ibunya perlu berkegiatan sendiri.

Setelah anak mengenal jadwal harian ibu, kini saatnya kita membantu anak untuk membuat jadwalnya sendiri. Libatkan anak dalam proses pembuatannya, karena dialah yang akan menjalani. Karena anak usia dini belum terlalu lancar membaca dan menulis, kita bisa membantunya melalui gambar. Bila waktu sholat dirasa terlalu banyak, kita bisa memulai dengan pembagian jadwal berdasarkan 4 waktu, yakni pagi, siang, sore dan malam. Apabila ada habit atau kemampuan yang ingin kita latihkan kepada anak, kita juga bisa menggunakan habit tracker.

Berikut ini adalah contoh jadwal harian yang dibuat oleh anak usia 5 tahun. Ada 4 kandang waktu, yakni pagi, siang, sore dan malam. Keempat kandang waktu ini diberi nomor 1-4 sesuai urutan pengerjaan. Aktivitas yang akan dilakukan diwakili dengan pembuatan gambar. Pada aktivitas pagi (1), si anak memutuskan untuk mengisinya dengan mandi, senam, bermain dengan adik, dan sarapan. Adapun saat siang (2), anak mengisi waktunya dengan bermain, makan dan tidur siang. Ketika sore datang (3), anak akan melakukan kegiatan belajar, gadget time, snack time dan membantu ibu merapikan rumah setelah seharian dipakai bermain. Adapun malam (4), jadwal anak adalah makan malam, membaca/dibacakan buku serta tidur.

Contoh Jadwal Harian Anak

Dalam pembuatan habit tracker, bisa diisi sesuai apa yang sedang dilatihkan pada anak, misalkan sholat, hafalan, serta belajar membaca atau berhitung. Berikut ini adalah contoh habit tracker, di mana anak akan mewarnai setiap item saat ia berhasil menyelesaikan satu kegiatan. Misalnya, di kotak nomor 1, saat anak berhasil belajar sholat di hari pertama, ia akan mewarnai satu awan. Ketika anak melakukan aktivitas menghafal Al Quran (kotak keempat) di hari kedua, maka ia akan mewarnai balon kedua. Dari gambar, terlihat anak sesuka hati dalam memberi nomor dan membuat item yang akan diwarnai. Bahkan, saat ia mewarnai, tak jarang justru ia memberikan warna pada item secara acak tanpa urutan. Ibu tak perlu stress dan bersitegang karena hal tersebut. Biarkan anak fleksibel dalam menjalani jadwalnya, karena ia masih dalam tahap berlatih. Semoga nantinya, dengan sarana latihan ini, ia akan tumbuh sebagai insan yang mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya atas izin Allah. Aamiin.

Contoh Habit Tracker

Nah, jika ibu lebih suka dengan jadwal yang teratur, jam demi jam, bisa diintip contoh jadwal dalam tulisan Mbak Dwi Ratih yang merupakan salah satu artikel di ibupedia. Semoga membantu ya! πŸ™‚

Menemukan Masalah Pasca Persalinan

Ingat saat mengerjakan tugas akhir di kampus? Mencari permasalahan untuk diselesaikan adalah hal yang pertama kali dilakukan. Begitu pula yang kami lakukan di Kampus Ibu Pembaharu ini. Kami diminta untuk mencari masalah, membuat bank masalah dan memilih satu untuk diselesaikan. Masalah ini bisa ada pada pribadi kita, keluarga maupun lingkungan. Di sini, kami belajar mencintai masalah, mengubahnya menjadi tantangan yang perlu diselesaikan, bukan untuk dikeluhkan.

Dikatakan masalah adalah apabila kita mengalaminya, kita merasa loyo, atau sebaliknya, berbinar.  Bu Septi memberi contoh bahwa dulu permasalahan bu Septi adalah tidak bangga menjadi Ibu Rumah tangga dan akar masalahnya adalah saat menjadi IRT, beliau berhenti belajar dan tidak memiliki pendapatan.

Saya pun mencoba mencari apa sebenarnya masalah saya, yang rupanya sempat membuat bingung. Akhirnya saya mencoba melihat dari apa yang tampak. Resah apa yang selalu datang akhir-akhir ini? Rupanya, kebanyakan resah itu datangnya dari sampah. Entah itu berupa pikiran, sampah digital maupun sampah fisik.

Tak dapat dipungkiri, pasca persalinan adalah fase yang cukup menantang untuk dilalui. Karena hal tersebut, muncullah banyak clutter, mulai dari overthinking ketika si bayi mengalami suatu kondisi tidak standar ataupun akibat kondisi pandemi, pemakaian popok sekali pakai akibat kelelahan saat mencoba memakai popok kain maupun cloth diaper, juga menumpuknya sampah bekas kardus kemasan makanan ketika harus memesan Go-Food.

Lalu, apa sih sebenarnya akar masalah ini semua. Mengapa banyak clutter selepas melahirkan? Yang pertama, mungkin masalah klasik, tapi mau tak mau harus diakui, bahwa saya ternyata lemah dan kurang energi 😭Sebenarnya, suami sudah memberikan warning, bahwa nanti selepas lahiran, tolong distop dulu minim sampahnya untuk sementara, karena tubuhmu nggak akan kuat. Hingga saat ini, saya masih berjibaku dengan pengaturan ritme, yang mengakibatkan gaya hidup minim sampah kami bisa dibilang sedang dalam fase terjun bebas. Penyumbang terbesarnya adalah popok. Ini lumayan menambah beban pikiran. Padahal, hal tersebut justru akan semakin membuat drop tubuh. Ya kapan kelarnya kalau begini πŸ™ˆ

Akar masalah kedua adalah yang tengah dibenahi, yakni tata kelola hati, pikiran, dan ruangan yang masih buruk. Overkritik terhadap diri sendiri, cemas berlebih, para sampah yang tidak memiliki cukup “rumah”, tata kelola dapur yang buruk, membuat energi juga cukup terkuras bukan?

Maka, saatnya membenahi mindset! Jika dulu berorientasi pada hasil (ingin cepat bebas dari diaper), menjadi konsentrasi pada usaha dengan berusaha menikmati setiap prosesnya. Bahwa setiap kali berhasil menatur si baduta di potty, betapapun sedikitnya, sungguh patut untuk disyukuri. Tidak peduli hari itu ada berapapun miss karena memang si anak belum bisa diajak bicara untuk mengomunikasikan kebutuhan buang airnya. Kemudian, secara paralel, belajar juga tata kelola rumah sedikit demi sedikit. Semoga dengan ini, bisa menyelesaikan masalah menumpuknya clutter. Dimulai dulu dari clutter kasat mata, sebelum nantinya mudah-mudahan juga berefek pada clutter tak tampak, yakni yang sering menyelip di hati, maupun pikiran. Bismillah.

Problem statement
Analisa akar masalah

#materi1 #ibupembaharu #bundasalihah #darirumahuntukdunia #hexagonciry #instututibuprofesional #semestaberkaryaunrukindonesia

Bullying Dalam Keluarga : Adakah?

Sesimpel apapun target, jika berharap bisa dicapai dalam waktu yang singkat, maka tetap akan menjadi target yang terlalu tinggi. Pasanglah target kira-kira 20 tahun lagi. Kita tanamkan hal baik ke diri ataupun anak sekarang, hasilnya kira-kira 20 tahun lagi. Karena ini berkaitan dengan jiwa, bukan mesin. (Insight dari Bunda Puri Fitriani dalam Kulzoom Bullying Dalam Keluarga yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional)

Maknyes, sekaligus jleb. Itulah yang saya rasakan selepas mengikuti kulzoom Bullying dalam Keluarga yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional kolaborasi 9 regional (Jambi, Supenci, Bali, Banua Lima, Kaltara, Sulteng, Sulut, Ambon, dan NNP). Bunda Puri Fitriani selaku narasumber memulai kulzoom dengan memaparkan definisi Bullying. Rupanya, baru bisa dikatakan bullying, apabila ada salah satu pihak yang mendominasi pihak lain selama kurun waktu tertentu. Nah, mengejutkannya, jika selama ini kita lebih banyak mengkhawatirkan terjadinya bullying di sekolah, ternyata anak juga rentan mengalami bullying di keluarga.

Barangkali kita sebagai orang tua seringkali tak menyadari, dominasi kita kepada anak, membuka celah melakukan bullying seperti melabeli anak dengan sebutan buruk ketika bertingkah, penggunaan baby walker yang rupanya tak banyak membawa manfaat, tapi justru membuat indranya tidak terstimulus dengan maksimal, meminta maaf tapi diiringi dengan kalimat menyalahkan, membandingkan anak, meminta anak untuk lulus KKM (Kompetensi Kemampuan Minimal), over reacting, sosmed sebelum usia 14 tahun dan percakapan akademis sekolah yang dianggap sebagai bentuk kasih sayang orang tua.

Bunda Puri menyampaikan bahwa kita perlu berhati-hati. Seiring dengan mudahnya akses pembelajaran di internet, kadang orang tua dengan mudah melabeli anaknya berkebutuhan khusus, padahal bisa jadi anaknya sebenarnya normal.

Penggunaan baby walker yang ternyata justru membuat indera anak tak berkembang maksimal, bisa membuat anak tidak peka. Ada sebuah kasus, anak mencakar anak lain karena ia tidak merasa sakit jika dicakar (inderanya tak berkembang maksimal). Akibatmya, ia mencakar orang lain karena menyangka orang lain juga tidak merasakan sakit seperti dia.

Pernah minta maaf ke anak tapi diberi embel-embel “soalnya kamu gini sih..”? Jika iya, yuk kita coba hentikan. Bedakan antara momen minta maaf dengan momen meluruskan kesalahan anak. Kita tak sengaja mengeluarkan nada tinggi akibat anak melakukan kesalahan? Minta maaflah dengan tulus tanpa disertai ungkitan mengenai kesalahannya. Nikmati momen instropeksi diri itu. Nah, baru di momen lain, ketika suasana hati anak sedang baik, barulah kita bisa membahas kesalahan anak yang membuat nada suara kita meninggi.

Yang paling mengena buat saya adalah masalah KKM. Tadinya saya pikir nggak ada masalah dengan ucapan “Ibu nggak nuntut kamu harus ranking 1 kok, harus 10 besar. Yang penting lulus KKM aja.” Rupanya, angka KKM itu nggak ringan lho bagi anak. Itu bisa menekan. Harus naik kelas, itu bisa menekan. Bahkan, bisa membuka pintu ketidakjujuran, yakni anak jadi mencontek demi bisa mencapai angka KKM πŸ₯Ί Trus baiknya gimana dong?

Bunda Puri memberikan penjelasan bahwa kita perlu berdiskusi dengan anak tentang 3 kemungkinan beserta plus dan minusnya, setelah itu biarkan anak memilih. Kita mendukung apapun pilihannya. Itu jika kita memandang anak sebagai manusia seutuhnya di mana setiap kejadian ada sisi positifnya, yang berfungsi untuk memperkaya pengalaman batin. Jika anak lulus KKM, ia belajar untuk menjadi visioner, jalan belajarnya lancar seperti jalan tol. Bila ia harus mengalami remidial, maka ia akan belajar kesabaran dan ketekunan karena mengulang-ulang sesuatu. Adapun jika terpaksa ia tinggal kelas, ia akan belajar tentang bagaimana mengelola kegagalan (dan setiap orang dewasa juga akan mengalami fase ini).

MasyaAllah, rupanya semua kejadian ada sisi positifnya. Bunda Puri juga mengingatkan untuk tidak memasang target yang ketinggian. Untuk sesuatu yang kita ajarkan kepada anak ataupun pada diri sendiri, canangkan waktu 20 tahun lagi. Sehingga kita tidak cepat-cepat memberikan vonis kegagalan. Fokus kita adalah pada effort bukan hasil. Sayangi diri sendiri, jangan buru-buru mengatakan gagal saat merasa tidak becus menjadi orang tua :’) MasyaAllah, ini ngademin banget bun..

Alhamdulillah.. senang sekali bisa menyimak kulzoom selasa ini. Semoga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari. Jazakunallah khoir untuk bunda Puri dan seluruh panita. πŸ™‚

#aliranrasa #kulzoombullyingdalam keluarga

()

Pembukaan Bunsal : Siap Menjadi Ibu Pembaharu?

Ilmu itu yang bermanfaat, bukan yang sekedar dihafal (Imam Syafii)

Bismillah… Menjelang akhir Juni ini, kami para hexagonia mulai pulang pergi dari rumah menuju kampus Ibu Pembaharu. Kami akan belajar dalam kelas Bunda Salihah. Setelah menjalani proyek sesuai passion di Bunda Produktif dan mengusung tagline “It’s Okay to do What You Love”, maka di Bunda Salihah kita diajari untuk mencintai masalah, sehingga taglinenya adalah “But the Secret of Life is Love What You Do”

Uwaah.. kampusnya hijau banget 😍

Karena suasananya kampus, dan taglinenya juga nyaris sama, mau tak mau jadi ingat saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus STTN dan berusaha mencintai segala kehidupan di sana beserta lika-likunya πŸ˜† Ya, nyatanya memang hidup tidak selalu menawarkan bahwa kita akan menghadapi sesuatu yang kita cintai. Ada kalanya kita harus menghadapi yang tidak kita cintai. Alhamdulillah, meski babak belur, rupanya aku sudah berhasil melalui tahap itu. Mulai dari membuat tulisan bertemakan “psikologi elins”, mencari sudut yang bisa aku cintai, juga belajar dari para mahasiswa yang nilainya A sehingga aku bisa mengejar nilai A juga.

Tapi… satu yang harus dikoreksi adalah ketika hidup hanya mengejar nilai, semata untuk survive, lalu lulus dan mencari pekerjaan, tenyata adalah mindset yang tidak tepat. Hidup dengan memakai sepatu orang lain, ternyata menyesakkan. Hidup dengan banyak keluhan, ternyata sama sekali tidak memberdayakan.

Hingga di titik ini, aku baru tahu bahwa tujuan belajar itu adalah menjadi manusia seutuhnya. Bukan sekedar mencari pekerjaan. Bukan sekedar hebat-hebatan. Bahkan, tadi pagi, ustadz Nuzul menerangkan bahwa di dunia ilmu, tidak ada menang-menangan, yang ada adalah saling tolong menolong menuju surgaNya. Lalu aku malu. Sistem ranking telah membuat aku belajar dengan cara yang kurang tepat. Pantas, jika banyak ilmuku yang tak bermanfaat. Rupanya aku sudah kurang adab.

Kalimat Imam Syafii, ingin kujadikan sebagai pengingat ketika aku mulai memasuki kampus ibu pembaharu ini. Kembali meluruskan niat, menata kembali adab, agar ilmu yang didapat bermanfaat. Aku ikut untuk apa? Hanya sekedar ikut hype? Karena nanggung, ini etape terakhir di Institut Ibu Profesional? Atau benar-benar ingin meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang ibu?

Bismillah belajar lagi!

Bismillah… hanya sekedar duduk dan mencatat, belum tentu bisa mendapat ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat, dan melindungi diri ini dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aamiin..

#portofolioBundaSalihah #ibupembaharu

Bepergian Kala Pandemi : Yay or Nay?

Setelah 2 tahun tidak pulang, dengan berbekal bismillah, kami memutuskan pulang selepas tenggang waktu larangan mudik sudah habis. Keputusan ini dibuat setelah melalui permusyawarahan panjang. Saya, sejatinya tidak terlalu suka dan menyarankan untuk menunggu situasi yang lebih memungkinkan. Sebaliknya, suami, sudah sangat rindu. Melihat realitas lapangan di mana orang-orang tampak begitu abai akan keberadaan si virus, suami merasa cemburu. Sempat terlontar pernyataan menohok, memangnya kamu nggak kangen orang tua?

Ya kangen. Jelas. Apalagi pertemuan terakhir dengan orang tua tidak berjalan cukup smooth. Bagiku yang perfeksionis, kondisi mood swing saat hamil dulu, yang membuat aku tidak maksimal dalam mengajak bapak ibu jalan-jalan saat mereka main ke Depok, adalah salah satu hutang yang ingin aku tebus. Ya.. tapi kan pandemi..

Akhirnya, kami berdiskusi masalah niat pulang, durasi, dan teknis. Untuk niat, cukup kuat, karena suami memiliki satu hal untuk didiskusikan yang membuatnya perlu duduk bertatap muka. Durasinya, aslinya kurang puas euy. Cuma dapat 4 hari Pati, 4 hari Kutoarjo. Adapun teknis? Ngebayanginnya aja sebenarnya saya udah mules duluan. Safar itu kan membuat kita nggak bebas, ada banyak hal yang tertahan, makanya banyak diberikan keringanan seperti kebolehan untuk tidak berpuasa Ramadan dan diganti di hari lain, atau kebolehan menjamak sholat. Safar saat pandemi? Luar biasa! Kok pada bisa betah ya orang-orang menjalaninya? Atau aku yang memang kelewat mager hihi.

Teknis yang kami jalankan adalah sebagai berikut:

Menjalani Rapid Tes Antigen Sebelum Berangkat

Untuk memastikan kebebasan kami dari virus, kami pun menjalani rapid antigen drive thru di RSUI. Hasilnya langsung jadi di hari itu. Adapun booking pemesanan dilakukan H-1 sebelum tes. Alhamdulillah hasilnya negatif. Sesampainya di Depok kami juga melakukan rapid tes dan alhamdulillah hasilnya juga negatif.

Jalan di Waktu Malam

Ini pengalaman pertama kali kami, pulang di waktu malam. Suami mengganti tidur di waktu siang, lalu berbekal permen karet dan kopi, beliau pun menyetir di waktu malam. Kami berangkat ba’da isya. Suami memimpin doa. Agak deg-degan. Apalagi tepat sehari sebelum kepulangan, muncul berita bahwa Kudus yang merupakan wilayah sebelum Pati, ditetapkan sebagai zona hitam. Namun, karena para tetua mungkin sudah kangen cucunya, mereka tetap ingin kami pulang. Bismillah aja, begitu kata mereka. Anak sih excited. Si bayi juga. Alhamdulillah mereka bisa tidur nyenyak..

Pakai Pospak

Hyeek! Nah, bagian inilah yang udah bikin mules duluan sebelum menjalani. Agar tidak mampir ke manapun termasuk urusan pipis, kami memakai pospak. Nggak recommended banget,apalagi jadi mengotori lingkungan. Tapi ya itulah bagian dari ikhtiar maksimal kami supaya jangan sampai kunjungan kami ke orang tua justru membawa bahaya.

Tetap Jaga Protokol

Disinfektan, hand sanitizer dan masker menjadi hal yang sangat penting. Meskipun kami berusaha maksimal untuk sampai Pati sebelum Subuh, kenyataan di lapangan membuat kami harus Subuhan di jalan. Endingnya ya tetep mampir hiks. Nah, ini dadakan banget. Jadi untuk selanjutnya, kami siasati dengan membawa tas khusus berisi disinfektan, handuk, hand sanitizer air di botol (jadi istinjanya nggak pakai gayung di tempat umum) dan uang khusus untuk biaya ke kamar mandi. Begitu di kamar mandi, semprot-semprot dengan disinfektan dan seusai dari kamar mandi, jangan lupa memakai hand sanitizer. Masker juga selalu siap sedia yaa.. jangan lupa juga baca bismillah dan doa mau masuk kamar mandi.

Tawakal, Tawakal, Perkuat Doa dan Kesabaran Biar Nggak Berantem di Jalan

Konflik suami istri anak di jalan adalah hal yang jangan sampai terjadi. Jadilah meski suami tetiba mules perutnya, estimasi waktu sampai yang ternyata molor, dan segudang drama lain sepanjang perjalanan, lakukan saja inhale exhale. Walaupun nggak mudah dan kadang masih keceplos ngomel hihi, yakinlah bahwa sepanjang kita sudah menaati perintah Allah, in syaa Allah yang terjadi adalah yang terbaik. Jengkel tidak akan menyelesaikan masalah. Doa dan mempraktekkan adab safar semaksimal mungkin meski babak belur.

Alhamdulillah semua itu terbayar. Rindu kami terobati saat bertemu langsung dengan orang tua. Sampai rumah, kami tetap memakai masker dan langsung mandi. Karena di desa masih begitu cuek, kadang ada saja orang datang ke rumah. Jadilah masker dan hand sanitizer harus tersedia di dekat pintu masuk.

Alhamdulillah, akhirnya para tetua punya kesempatan bertemu cucu… Mereka bisa bermain bersama. Alhamdulillah aku juga ada kemajuan untuk tidak terlalu posesif terhadap anak. Karena cinta itu semestinya meluas ya.. Ketika anak bermain dengan budenya, kakek dan neneknya, bukankah itu berarti mereka dicintai? Jadi harusnya bersyukur, bukan merasa anaknya direbut hehe…

Alhamdulillah kami, sebagai anak, juga akhirnya punya kesempatan untuk duduk, berbincang dengan orang tua, yang mana ketika video call tidak akan bisa karena selalu disela oleh anak… Ini judulnya bukan liburan seru sih, tapi liburan penuh haru.. :’)

Khusus di rumahku, jadi berasa nostalgia masa lalu. Sejak corona ini, memang ada sebuah perasaan melankolis, merasa begitu banyak rekam jejak kelam di masa lalu, yang ingin diperbaiki di masa kini. Contohnya adalah ketidakmaksimalan dalam birul walidain, tulisan yang dulu lebih banyak ke arah pesimisme dan komik-komik yang dulu kupikir sebenarnya nggak masalah sih untuk lihat inti pelajarannya aja, tapi rata-rata gambarnya karena buatan orang non islam, jadi banyak yang nggak sesuai mata..

Lahirnya suasana nostalgia ini tak lepas dari faktor keluarga yang kayaknya orang input semua, jadi barang-barang kenangan suka sering ada di rumah. Bahkan pengumuman saat mencari kucing hilang, dilaminating sama Bapak :’) Contoh orang-orang yang akan sangat kesulitan menerapkan metode konmari hihi.

Ups, tulisan ini kok jadi melebar ke mana-mana. Jadi, gimana rasanya bepergian kala pandemi? Yay or Nay? Kalau niatnya kuat, bismillah go ahead..Mudah-mudahan Allah jaga. Sepanjang perjalanan bisa meningkatkan iman juga, bahwa Dialah sebaik-baik penjaga.. Tetap patuhi protokol kesehatan, sebagai sebentuk ikhtiar kita. Kalau niat kurang kuat? Better stay at home sih menurut pendapatku pribadi yang emang mageran. Lagipula di rumah juga ada banyak hal seru yang bisa dikerjakan. Apapun itu, semoga Allah selalu jaga dan lindungi yaa.. semoga pandemi ini segera berakhir dan menjadikan kita insan yang lebih baik lagi. Aamiin

Kenapa Menulis?

Aku belajar untuk diriku sendiri (Imam Malik)

Menilik perjalanan menulisku selama ini, rupanya ada banyak pergeseran-pergeseran strong why. Saat awal membuat blog ini, aku sekedar ingin menumpahkan keruwetan dalam pikiran. Lari dari kepenatan tugas, charging, memotivasi diri sendiri untuk kemudian punya amunisi berjuang lagi.

Lalu, dalam perjalanan menulis, kala terpikirkan tentang amal jariyah, terbesit keinginan untuk menulis kebaikan sebanyak-banyaknya. Jika ada yang mengikuti, maka bayangkan banyaknya pahala yang dipanen? MasyaAllah. Namun tentu semua itu sebanding dengan upayanya. Bagaimana memurnikan niat, mengecek apa kontennya? Valid atau tidak? Benar-benar bermanfaat atau tidak? Di titik ini, tiba-tiba muncul rasa berat. Banyak tulisan yang stuck. Alasannya beragam. Merasa tidak pantas menuliskan-lah, belum jadi orang baik-lah karena masih sering jatuh dan lain sebagainya.

Hingga akhirnya, di titik yang sekarang aku tersadar bahwa aku menulis, pada awalnya semestinya untuk diri sendiri. Seperti nasihat Imam Malik, saat belajar, arahkan pada diri sendiri sebelum mengarahkan kepada orang lain.

Ah ya! Ternyata aku harus menulis karena aku perlu. Ini adalah salah satu caraku mengikat ilmu, salah satu caraku mengabadikan kenangan, caraku menasihati tanpa menggurui, juga terkadang sebagai caraku menumpahkan perasaan tanpa bermaksud melukai.

Ketika aku menggeser strong why tersebut menjadi karena aku perlu, aku jadi melihat bahwa ternyata aku bisa konsisten menulis setiap hari, alhamdulillah… Benar, barangkali blog masih sepi-sepi saja, tulisan yang dicetak juga tak seberapa, feed IG jauh lebih banyak tak terurusnya. Namun, secara offline, rupanya tetap ada ilmu yang tercatat, tetap ada binar mata anak yang direkam oleh catatan kita.

Maka menulislah. Dipublish ataupun tidak, manfaatnya in syaa Allah kembali kepada kita. Pernah di saat penat, aku iseng menelusuri tulisan sendiri. MasyaAllah, justru dari sana ternyata aku banyak dinasihati kembali. Agar tak terjerumus pada ayat “Kenapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” Agar bisa senantiasa walk the talk. Pernah di saat letih, kubaca jurnal syukurku sendiri. Maka, sebait senyum kembali terukir, betapa Maha Baik Allah yang tak pernah “ngasal” dalam menempatkan takdir…

Menulislah dengan bismillah dan semoga kelak tulisan-tulisan kita bisa menjadi pemberat timbangan amal kebaikan di hari akhir.. aamiin

Ide : Dari Mana Aku Harus Mulai Menulis?

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan (QS Al ‘Alaq: 1)

“Aduh, lagi nggak ada ide nih! “

“Uh, buntu banget nih, kayaknya aku kena writer’s block deh, aku nggak bisa ngelanjutin tulisannya!”

Siapa yang sering mengalami hal-hal seperti di atas? Toss, kita sama! Hihi. Berbicara tentang ide, saya jadi teringat saat mengikuti sharing session di Kelas Minat Menulis Ibu Profesional. Saat itu, mak Sheila Ulfia Putri selaku narasumber, kurang lebih menyampaikan bahwa ide itu bukan dicari, melainkan kitalah yang perlu memantaskan diri agar ide datang menghampiri.

Sebelum berbicara tentang bagaimana cara memantaskan diri, coba deh kita jawab dulu, sebenarnya, siapa sih pemberi ide itu? Siapa yang bisa memberikan kita inspirasi, hingga akhirnya kita mampu menuangkannya dalam tulisan? Jawabannya, tentu saja adalah Ia, yang memiliki alam semesta ini. Allah-lah, yang memberikan kita kemampuan untuk bisa menulis. Itu sebabnya, jika salah satu tips agar bisa mendapatkan ide adalah dengan membaca, maka ingatlah selalu surat Al Alaq, bahwa kita bukan hanya disuruh membaca, melainkan, membaca dengan menyebut nama Allah yang Menciptakan. Pernah ngerasain kan (ini saya sih), meskipun kita udah baca berjilid-jilid, tapi nggak ada yang nyantol? Ya, sebab yang bisa membuat kita itu paham, bukan semata-mata usaha kita, tapi juga karena pertolongan Allah. Jadi, jangan sampai lupa hal pertama ini. Kunci segala kunci adalah minta tolong sama Allah.

Nah, setelah minta tolong, barulah kita ikat untanya, alias berusaha. Apa saja sih bentuk usaha yang bisa kita lakukan agar ide ini datang menghampiri? Salah satu cara yang tadi sudah saya bahas, adalah dengan membaca. Sebab, membaca ini memang amunisinya orang menulis. Bukan hanya membaca buku, tapi juga bisa membaca orang, situasi, alam dan segala kejadian di bumi ini. Contohnya, ketika saya menulis ini, berawal dari membaca pertanyaan “gimana sih caranya mengatasi writer’s block?” Karena pernah mengalami, saya jadi merasa perlu menulis tentang ini. Namun, saat itu saya belum mengeksekusinya, jadi masih sekedar dalam pikiran. Nah, ide-ide yang muncul seperti ini bisa ditulis dulu jika belum bisa langsung dieksekusi. Banyak para penulis yang memiliki jurnal ide, khusus untuk mencatat lintasan-lintasan yang muncul supaya tidak lupa.

Nah, setelah beberapa waktu berlalu, ternyata tema challenge di Komunitas Literasi Ibu Profesional minggu ini kok ya tentang ide, pas banget kaan.. bismillah, mungkin memang saatnya ini direalisasikan sekarang 😁 Nah, berburu tema mingguan di komunitas kayak gini juga oke banget dilakukan sebagai usaha mendapatkan ide.

Arleen A, seorang penulis buku anak, pernah melakukan hal unik dalam mencari ide. Beliau menuliskan sejumlah kata kerja acak di kertas dan sejumlah kata benda acak pada sejumlah kertas yang lain. Kemudian beliau mengambil satu kertas secara acak dari kumpulan kertas bertuliskan kata kerja dan satu kertas dari kumpulan kertas bertuliskan kata benda. Dua kata gabungan ini menjadi jalannya untuk mulai mengembangkan imajinasi dalam menulis. Misalnya, Kursi Melompat.

Para ilmuwan muslim kita, memulai ide penemuan dari Al Quran. Misalnya Ibnu Firnas, terinspirasi membuat sayap buatan (cikal bakal pesawat terbang), karena membaca surat Al Mulk 19 tentang burung.

Catatan berburu ide

Oke, demikian kiranya sedikit catatan tentang bagaimana mendapatkan ide untuk menulis. Oh ya, selalu ingat, tak ada tulisan manusia yang sempurna, maka tulisan yang baik, adalah tulisan yang selesai. Sebab terkadang watak perfeksionis kita, bisa menghalangi terselesainya sebuah tulisan, hingga sebuah ide akhirnya hanya sebatas ada pada niat dan pikiran. Bismillah, tuliskan, dan serahkan kepada Allah, memohon agar yang tersampaikan adalah sebuah kebaikan.