Mandiri #5

Tanda kemandirian sebenarnya seringkali sudah ditunjukkan si kecil, seperti ingin coba pakai minyak telon sendiri, memakai sepatu sendiri, ingin cuci tangan sendiri, hanya rumah ternyata belum cukup ramah untuknya seperti wastafel yang ketinggian 😦 ini PR untuk menyediakan tempat yang bisa membuatnya lebih bisa bereksplorasi. Hari ini si kecil berhasil mengatakan “sudah”, saat ia merasa sudah cukup kenyang, saat makan sendiri. Tampaknya dia sudah cukup lulus untuk masalah mengungkapkan keinginan tanpa tantrum. Saatnya menambah kemampuan lain. Si kecil cukup OK dalam membereskan mainannya sendiri, tapi harus dicontohin, seperti semalam saat merapikan buku-bukunya. Masalah toilet training bagaimana? Masih tahap sounding, masih dipakein pampers, tapi hari ini dia sudah bisa bilang pipis, cuma masih belum berani memulainya 😆

#Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #tantangan10hari

Mandiri #4

Selasa ini si kecil kembali ke daycare. Kalau di daycare, si kecil masih disuapi, heuheu. Namun, alhamdulillah tiap di rumah tetap maunya makan sendiri, minum sendiri, walaupun masih kurang rapi. Kadang sih pengennya pengasuhan di rumah n daycare seragam, cuma dulu nggak enak aja mau minta daycare menyesuaikan BLW karena bunda daycarenya tentu nggak hanya megang si kecil, sementara BLW itu perlu effort tinggi soalnya makanannya ke mana-mana, hehe. Tapi ternyata alhamdulillah si kecil nggak masalah dengan metode BLW dicampur dengan spoon feeding. 

Selasa malam si kecil makan ramen sendiri, nyuap kuah sudah lumayan bagus pakai sendoknya, minum sendiri juga OK. untuk mengungkapkan keinginan tanpa tantrum juga masih bisa dibilang OK, meskipun saat minta bobok dia masih rewel. Mungkin karena terlalu ngantuk. 🙂

#Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #tantangan10hari

Mandiri #3

Cerita kemandirian si kecil masih seputar mengungkapkan keinginan tanpa tantrum. Senin kemarin, ada teman main ke rumah. Si kecil, seperti biasa bersikap menarik diri jika ada orang asing. Ibunya sudah siap-siap dulu kalau-kalau si kecil tantrum dan sulit mengutarakan apa yang diinginkan. Ternyata tidak juga, alhamdulillah. Awal-awal memang si kecil lebih banyak diam, sepertinya sedang adaptasi. Tapi, akhirnya si kecil tetap bisa mengungkapkan keinginannya, seperti kalau mau minum, makan, minta snack. Cuma, saat minta bobok, dia masih merengek. Cukup baik adaptasinya. Alhamdulillah 🙂 

Untuk tipe anak introvert memang pada awalnya selalu perlu jeda untuk adaptasi. I feel it because i am also an introvert person hehe..

#Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10hari

Mandiri #2

Ini list kemandirian hari Minggu kemarin sebenarnya, cuma ketiduran, akhirnya belum ketulis dan di post. 😣

Untuk 5 hari pertama ini, konsen pada melatih anak mengungkapkan keinginan tanpa tantrum. Toilet training masih tahap sounding, semoga saja bisa dilaksanakan dalam waktu dekat setelah siap mental hehehe. 

Minggu, 16 Juli 2017, aktivitas kemandirian si kecil yang terlihat adalah makan sendiri. Masalah makan sendiri memang sudah OK untuk si kecil. Sudah bisa pakai sendok, bahkan nggak suka kalau disuapin. Cuma ya sedikit makannya 😐 Hari ini si kecil juga berhasil buang sampah sendiri di tempat sampah.

Untuk mengungkapkan keinginan tanpa tantrum, sudah cukup baik, meski masih perlu diingatkan lagi untuk tidak rewel dan nangis. Ibunya juga perlu lebih peka. Seperti kemarin saat si kecil bilang “unta.. unta..” saat minta diambilkan boneka unta,ibunya kurang peka, alhasil tantrum sedikit, tapi tetap bisa diatasi. Alhamdulillah 🙂 

#Level2 #BunsayIIP #Melatihkemandirian #tantangan10hari

Saat Ibu Sakit

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Belakangan, entah mengapa merasakan pahitnya peribahasa tersebut. Semua berawal dari sakit. Well, bukan nyalahin sakitnya sih, tapi untuk pelajaran aja biar lebih strong saat sakit.

Kamis kemarin, si kecil demam, padahal saya sudah janjian ngerjain proyek. Karena nggak tega masukin ke daycare, saya akhirnya menemani dia sampai siang, lalu berniat membawanya ke workshop, ikut kerja. Nyatanya, si kecil malah sehat, dan ibunya yang ngedrop. Sakit demam. Padahal Jumat  pagi mau pulang ke Kutoarjo. 

Saya, kalau lagi sakit, sebenernya cuma perlu istirahat dan kalau bisa ga ada yang ganggu. Nah, masalahnya, hal itu tidak memungkinkan, karena si kecil nggak mau dihandle ayahnya, cuma sama ibunya. Nah, itu rasanyaaaa bikin lelah, stress, dan alhasil menguras kesabaran. Maka saya tambah sakit, bonding yang terjalin sekian lama mendadak berasa rusak gara-gara saya sakit. Pasalnya, saya jadi merasa dibenci si kecil gara-gara nggak mau gendong. Padahal sudah disounding berkali-kali kalau ibu lagi sakit, nggak ada tenaga, nanti kalau sudah pulih pasti digendong… dsb. Tetep nggak mau tahu. Akhirnya saya nekat ‘kabur’ ke kamar sebelah. Si kecil nangis, tapi saya harus biarin sejenak. Kalau nggak saya nggak bisa istirahat. Untung ayahnya berinisiatif ngajak si kecil ke pasar malam, beli cotton candy. Lumayan ada timing buat istirahat meski nggak lama. Pulangnya, dari kamar terdengar samar-samar percakapan si kecil dan ayahnya. Si ayah berusaha membujuk si kecil supaya makan cotton candy. Tapi, tebak apa yang diucapkan si kecil? Dia cuma manggil “Ibu.. ibu.. ibu” 😥 Nggak tegalah saya. Akhirnya saya keluar, nemuin dia. Si kecil nampak sedikit bahagia huhuhu, sedih pisan euy… ternyata bener ya.. seorang ibu nggak boleh sakit… Akhirnya, effort baru dimulai lagi, membangun bonding yang sempat rusak akibat sakit…. Untuk catatan, sebisa mungkin ibu harus jaga kondisi kesehatan saat mudik. Hindari kegiatan berat (contohnya di saya : maksain ngerjain proyek sambil gendong si kecil, padahal makan siang cuma seberapa), makan yang bergizi dan gak boleh telat, dan kalau memang akhirnya tetap jatuh sakit, usahakan tetap di sisi anak meski dg kekuatan separo. Istirahat sejenak itu perlu untuk pemulihan, dan saat itu ayah bisa berperan dalam menghandle si kecil. Semoga ke depannya lebih kuat! 😇

Mandiri #1

Games bunda sayang masuk ke level dua. Kali ini, temanya adalah menerapkan kemandirian pada anak. Jadi, pada dasarnya kemandirian sudah bisa dilatihkan sejak dini, ketika usia bayi telah terlampaui. Umur 0-12 bulan merupakan tanda seseorang bisa dinyatakan bayi, dan pada umur inilah semuanya masih perlu dibantu. Namun, setelah usia 12 bulan alias 1 tahun, sebenarnya anak sudah bisa diajarkan kemandirian secara bertahap. Untuk anak usia 1-3 tahun, yang bisa dilatih antara lain toilet training, makan sendiri, dan mengungkapkan keinginan tanpa tantrum. Nah, sebenarnya si kecil udah bisa makan sendiri meski masih berantakan, karena dulu dikenalkan teknik BLW (Baby Led Weaning), meskipun dimix dengan SF (spoon feeding). Jadi, untuk makan sendiri udah lumayan bisa sih..Sebenarnya sih pengen ngelatih TT, tapi blm siap hihihihi 😄😄 jadi, kali ini saya mau cerita tentang latihan si kecil mengungkapkan keinginannya tanpa tantrum.

Sebenarnya, si kecil baru saja sembuh dari sakit, itulah kenapa tantangan ini baru saya mulai sekarang. Harusnya sih mulai tanggal 13, tetapi kemarin si kecil super lemes. Dan itu bikin sedih. Bener ya ternyata, apalah arti rumah rapi dan tenang,tanpa ocehan anak-anak maupun mainan anak yang kadang beterbaran… 😥

Si kecil memang sedang masanya tantrum. Dia lebih sering teriak ataupun nangis saat menginginkan sesuatu. Saya selalu mengulang-ulang, agar si kecil mengatakan apa yang diinginkan tanpa nangis, atau minimal menunjuk apa yang diinginkan. Sebab, jika hanya marah atau menangis, tidak akan ada yang paham apa maksdunya. Seperti hari ini, entah karena masih lemas atau kenapa, si kecil mulai mengerti dan menunjuk saat menginginkan sesuatu. Ketika ingin minum, dia bilang minum. Lalu saat saya mau mandi di luar, si kecil menunjuk kamar mandi dalam sambil bilang ‘sini…’, supaya saya mandi di sana saja. Alhamdulillah, sepertinya sudah mulai bisa… nextnya apa ya? pengen melatih TT, cuma blm beraniii 😂😂😂

#Level2 #BunsayIIP #MelatihKemandirian #Tantangan10hari

Kuliah BunSay : Aliran Rasa Games Level 1

Komunikasi merupakan hal yang paling penting antara dua insan maupun lebih, bahkan terhadap diri sendiri pun penting. Materi pertama di kelas bunda sayang, yakni komunikasi produktif ini, terasa benar manfaatnya untuk memperbaiki pola komunikasi yang tadinya negatif hingga membuat hidup tidak produktif (sia-sia) menjadi lebih positif. Contohnya pada diri sendiri. Secara default sebenernya saya ini lebih sering pesimis daripada optimis. Dan ternyata itu berpengaruh pada komunikasi terhadap diri sendiri, lalu berimbas pada lingkungan. Kata ‘tidak bisa’, ‘lelah’, seringkali menghiasi hari-hari. Kalimat negatif ini ternyata membuat hidup tidak produktif. Mungkin karena kata-kata adalah doa. Padahal jauh lebih enak menggantinya dengan doa positif. “In syaa Allah bisa “, “Ya Allah mudahkan”

Apakah mudah mengganti pola komunikasi yang terlanjur menjadi habit? Jawabannya tidak! Tapi, sama seperti belajar ilmu baru, awalnya susah, pahit tetapi lama kelamaan akan terasa mudah dan manis. Demikian juga saat mempraktekkan semua ilmu komunikasi produktif. Diri yang mudah jutek terhadap suami, jadi harus mikir seribu kali. Memangnya mau memenangkan ego lagi tapi konsekuensinya hal yang tidak produktif?

Saat emosi mulai naik menghadapi anak yang super aktif, jadi berhenti dan berpikir. Memangnya jika berteriak, dia akan jauh lebih mengerti? bukankah sangat menghabiskan energi jika nyatanya anak malah tambah menangis dan pesan tidak sampai?

Memang masih jauh dari kata ‘ahli’, tapi semoga Allah memampukan… Ilmu ini sangat manfaat.. In syaa Allah.. semoga berkah.

Sama seperti amalan saat Ramadhan. Meski ramadhan berlalu, semoga amalan baik yang telah dilakukan bisa istiqomah. Walaupun games tantangan 10 hari sudah berlalu, semoga terus semangat untuk menerapkan komunikasi produktif dalam kehidupan dengan istiqomah 😇😇

20170101_075935

Depok, 24 Juli 2017