Cukup Doakan Aku

“Ya Hayyu ya Qoyyum bi-rahmatika as-taghiits, wa ash lih lii sya’nii kullahu wa laa takilni ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan”

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, Wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmatMu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu)

Doa di atas merupakan bagian dari zikir pagi petang, yang belum lama kuketahui, yakni saat pandemi. Pandemi yang sempat mengobrak abrik hati kita, tetapi rupanya ada hikmah besar, yakni untuk menatanya kembali dengan cara yang lebih tepat. Menata hati untuk lebih bertawakal kepada Allah. Pandemi, yang menutup segala celah interaksi, memaksa kita untuk hidup lebih mandiri, sekaligus menyadari, bahwa ada kekuasaan besar di luar diri kita. Itulah kuasaNya.

Kita jadi bisa memahami, ketika Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam mengajarkan tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x kepada Fatimah dan Ali, sebagai sesuatu yang lebih baik dari permintaan mereka kala itu, yakni ART untuk membantu pekerjaan Fatimah. Rupanya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam ingin yang terbaik bagi putrinya, dari sisi akhirat. Tanpa ART membuat lebih tawakal, dan dari kisah ini, akhirnya banyak perempuan bisa belajar, karena tidak setiap ibu di masa kini bisa menggunakan jasa ART. Terlebih saat pandemi. Dzikir rupanya bisa menghilangkan rasa lelah fisik, jika benar-benar diresapi dalam hati.

Dzikir membuat kita tahu, bahwa Allah akan menolong kita, meski terkesan kita hanya sendirian. Sebaliknya, ketika kita lupa dan hanya mengandalkan kekuatan semata, ataupun makhluk, saat itu segala urusan malah jadi kocar kacir.

Upaya kita sebagai makhluk yang tak sempurna, biarlah disempurnakan olehNya. Itulah mengapa, doa meminta pertolongan kepada Allah menjadi sangat penting.

Suatu ketika, seorang ibu tak bisa bergerak leluasa saat anaknya sakit. Si anak terus menerus meminta gendong semalaman hingga ibu ini tak bisa tidur. Sang suami merasa kasihan padanya dan ingin menggantikan, namun upaya itu ditolak si anak. Rasa tak tega melihat istrinya yang tampak lelah, terus membuatnya berusaha menggantikan hingga setengah memaksa. Anak justru menangis kencang. Di antara lelah, istrinya pun berkata. “Kalau kamu kasihan, cukup doakan aku..” Ya, di posisi itu, suami rupanya tak diizinkanNya sebagai perantara untuk membantu secara fisik. Namun, bantuan doa itu, sungguh luar biasa. Ia bisa menjelma sebagai kekuatan untuk terus bertahan.

Di waktu lain, kala sang istri melihat suaminya tampak kelelahan akibat pekerjaan kantor yang membuatnya pulang malam, ia merasa kasihan, tetapi bingung bantuan apa yang sekiranya bisa dilakukan untuk meringankan pekerjaannya, selain menyajikan makanan dan mengurus keperluan, yang ia pun sadar dalam kedua hal itu, ia masih banyak kekurangan. Betapa terkejut istri mendengar tutur suami yang seakan meng-copy paste ucapannya pada malam saat anak mereka sakit. “Kalau kamu kasihan, cukup doakan aku..”

Doa. Ah ya, doa. Kisah suami istri itu membuatku kembali merenung. Kehidupan rumah tangga itu tidak mudah, maka perlu sekali meminta pertolongan Allah dalam menjalaninya. Seberapa kuat aku berdoa? Seberapa kuat aku dalam meminta pertolongan kepadaNya? Semoga momentum bulan Muharam ini, membuat kita lebih kuat lagi dalam melibatkanNya pada setiap urusan kita. Hijrah dari hanya mengandalkan ikhitiar semata, menjadi ikhtiar plus doa yang lebih dikuatkan lagi. Semoga Allah membimbing kita. Aamiin.

P

Anak Introvert, Ortu Ekstrovert

Kita di sini menaati perintah sekaligus menjauhi larangan. Yakni di mana kita menyambung silaturahim, sekaligus menjauhi perkara yang dilarang : yakni memutus silaturahim -sedikit catatan ceramah bapak

Alhamdulillah, tahun ini, kita kembali diperbolehkan mudik setelah dua tahun pandemi. Senang? Senaaang alhamdulillah. Bagi teman-teman ekstrovert yang senang keramaian, tentu hal ini menjadi suatu kebahagiaan yang menambah energi. Bagi intovert? Bahagia juga kok, kalau saya 😅 Tak dapat dipungkiri, badan masih sering letih setiap kali menghadiri keramaian. Pusing, radang kambuh, dsb. Namun, kali ini alhamdulillah sedikit bisa berdamai meski belum maksimal. Mindful dan menerima batasan diri rupanya sungguh berperan dalam hal ini. Kebetulan juga, kajian Riyadush Shalihin memang sedang mengangkat tema sosial. Setelah penguatan tauhid di bab-bab awal, bahasan kitab ini mulai merambah tentang interaksi sosial. Rupanya, semua itu juga didasari dengan tauhid, salah satu bentuk taqarrub juga kepada Allah.

Jadi terbengong-bengong sendiri, waahh anak ekstrovert seneng dong ya, ada banyak ladang pahala yang mungkin berat dilakukan bagi introvert. Maha baik Allah ya, membukakan banyak ladang bagi masing-masing karakter dan kondisi manusia 🥰

Jadilah jika zaman kecil hobi menggerutu dan sering colak colek “kapan pulangnya” tiap diajak pergi ke tempat saudara, kini mencoba memahami dari sudut pandang lain, bahwa melalui ladang inilah barangkali bapak dan ibu mencoba meraih pahala silaturahim. Mencoba memahami jalan kebahagiaan orang lain.

Karena ternyata, kehadiran yang kupikir sepele adanya, bisa membawa kebahagiaan tersendiri bagi tuan rumah. Bagaimana mereka bahagia ketika makanannya disantap, bagaimana mereka justru sedih jika oleh-olehnya ditolak, dan bagaimana mereka menghargai dan mensyukuri setiap kebersamaan.

Satu hal lagi yang membuat tercengang adalah ketika mengunjungi teman kuliah di Pati. Random banget, nggak ngasih kabar, tetep diterjang meski jalan menuju rumahnya rusak parah. Buat apa coba capek-capek begitu? Tapi selepas ketemu, ada rasa kebahagiaan tersendiri, haru tersendiri, apalagi mendapat kabar bahagia langsung darinya setelah sekian lama tak jumpa.

Semua ada waktunya. Demikian penjelasan ustadz. Ada waktunya kita menyendiri berkhalwat dengan Allah. Ada waktunya kita bersedih menangisi dosa-dosa kita. Namun, ada juga waktunya kita bergembira. Ada waktunya kita berkumpul. Ada waktunya kita bermain, asalkan sesuai porsi dan koridor. Inilah ‘ied, jeda setelah berjuang satu bulan lamanya. Jeda agar jiwa tak lelah.

“Teruskanlah wahai Bani Arfidah!” Demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Sallam saat bani Arfidah bermain di hari raya. “Agar yahudi dan nasrani tahu bahwa dalam agama kita pun ada kelapangan..”

Ada sedikit catatan untukku supaya mudik dan menemani agenda silaturahim ini lebih baik lagi di tahun depan in syaa Allah, yakni sedia kaos kaki wudhu karena bakalan sering sholat di tempat orang, jangan lupa bawa madu dan kurma untuk support kesehatan dan juga bawa pakaian cadangan yang lebih nyaman.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah terima amal ibadah kita, dan mengaruniakan kita keistiqomahan pasca Ramadhan. Aamiin.

Didepak KLIP (lagi)

Di malam takbiran, resmi sudah namaku tak ada lagi di list setoran Kelas Literasi Ibu Profesional, karena dua bulan berturut-turut tidak berhasil menyetor minimal 10 tulisan. Istiqomah itu memang berat ya! 😅 padahal bulan ini berniat menambal 10 tulisan itu dengan memperjuangkan untuk menulis di sisa-sisa Ramadhan. Namun apa daya, ada satu hari ketiduran sehingga tak mungkin terkejar 10 hari. Posisi saat itu baru 7 tulisan dan sisa hari di bulan itu hanya tinggal 2 hari. Wassalam, sudah jelas akan terdepak.

Pelajaran dari semua ini adalah, kalau punya target jangan mepet, misal 15 lah atau 20. Jadi kalau ternyata kurang, in syaa Allah masih bisa aman. Mungkin aku kurang minta pertolongan Allah juga, di samping kurang memprioritaskan.

Yang kedua, berupa pelurusan niat agar bisa fokus. Niat awal ikut KLIP tahun ini adalah agar bisa konsisten menyelesaikan buku pesanan bapak. Namun rupanya cara ini tidak cocok, karena aku justru terdistraksi untuk menulis yang lain agar bisa setor, ketika diserang buntu menyelesaikan tulisan utama. Jadi, didepak ini ada positifnya juga, bahwa aku harus mencari cara lain untuk berjuang menyelesaikan buku bapak. Mungkin saat ini bukan melalui KLIP, karena kenyataannya aku justru terdistraksi.

Kecewa? Jelas ada. Sedih? Iya, karena rupanya aku masih saja belum bisa konsisten, belum memprioritaskan menulis secara sungguh-sungguh. Namun, life must go on. Semoga kegagalan ini bisa menjadi pelecut agar bisa lebih bersungguh-sungguh lagi.

Less Waste or Zero Waste?

Sebenarnya, sudah berkali-kali ditekankan bahwa ketika kita belajar berminim sampah, bukan berarti kita menjadi malaikat. Namun apadaya, obsesi melihat tempat sampah kosong itu sempat menghantui hari-hariku. Ketidaksempurnaan membuatku mager luar biasa untuk melanjutkan tazkiya project. Ya, kalau dipikir, emang nggak bakal sempurna kan ya? 😅

Hingga, di Ramadhan ini, Allah memperlihatkan bagaimana kiprah seorang kawan dalam mewujudkan masjid ramah lingkungan. Kebetulan, beliau adalah kawan belajarku di kelas belajarzerowaste yang diselenggarakan bu DK Wardhani. Takdir Allah, siapa sangka, beliau sama-sama OTS di kuttab, lalu menjadi jalanku belajar melihat gaya hidup minim sampah dengan jiwa yang lebih ramah. Bukan jiwa obsesif yang keterlaluan itu 🙈

Rasanya bukan kebetulan saat aku pindah kontrakan di kompleks beliau yang dekat dengan kuttab. MasyaAllah, di sini, sudah berjalan bank sampah dan juga pengangkutan sampah organik oleh DLH depok. Intinya, semua planning yang pernah kutuangkan di kelas belajarzerowaste, sudah berjalan di sini.

Ternyata, ya memang jalan minim sampah ini tidak semulus jalan tol. Masih ada beberapa yang belum terlalu peduli meski sudah difasilitasi. Menu buka puasa di masjid yang disarankan tanpa plastik pun, ada yang masih memakai. Mungkin, aku diminta melihat bahwa kehidupan nyata itu benar-benar penuh dinamika. Namun, dinamika itu seharusnya tak membuat kita menyerah, lalu mengibarkan bendera putih. Beliau tetap bersemangat mengampanyekan hidup minim sampah di kompleks. Beliau tetap bergerak padahal ada bayi. Rasanya haru yang tak tergambarkan saat melihat gantungan cucian plastik di rumah beliau. MasyaAllah.. membuatku mendapat teladan nyata bahwa bila ada kemauan, tekad dan niat, maka akan ada jalan. Tantangan hanya perlu direspon dengan doa dan ikhtiar.

Aku bagaikan katak yang akhirnya keluar dari tempurung. Ada semangat baru yang kurasakan untuk kembali memulai tazkiya project.

Ah ya, satu lagi yang membangkitkan semangat. Rupanya penggunaan “less waste” dan “zero waste” sangat berpengaruh pada jiwaku 🙈 Saat mengikuti kulzoom dengan penggunaan kata less waste, entah mengapa langkahku terasa lebih ringan. Oh ya, kita sedang belajar mengurangi, bukan menghilangkan 😅 ketika yang dipakai adalah “zero”, entah kenapa seperti ada beban belenggu untuk tidak menghasilkan sampah sama sekali.

Ah.. Ramadhan yang berkesan. Terima kasih mbak, sudah mengajariku secara tidak langsung, bagaimana untuk tetap bergerak dengan segala keterbatasan…

Jemput Bola

Ada beberapa hal dadakan muncul di Ramadhan yang cukup menyita pikiran. Namun alhamdulillah lewat beberapa peristiwa, Allah urai, langkah apa yang harus dilakukan, lewat jalan yang sama sekali tidak terpikirkan.

Hari itu, saya memesan frozen food untuk kepentingan makan sahur. Qadarullah, penjualnya fast respon banget dalam pengiriman makanan, tapi slow respon saat ditanya nomor rekening dan total harga. MasyaAllah, ini saking percayanya rezeki dari Allah nggak akan ke mana ya 😅

Tentu saja sebagai pembeli, saya sedikit was-was akibat belum bisa membayar apa yang sudah di tangan. Chat 2 kali masih saja belum dibalas hingga hari esok. Haha, sungguh hatiku kian tak karuan akibat punya utang. 😅 Lalu, akhirnya aku mendobrak benteng ketidaknyamananku. Aku harus telpon. Perkara begini sebenarnya mudah saja ya, tapi bagiku yang pengen cepet selesai kalau berurusan dengan orang, bagiku yang “kalau bisa chat, kenapa harus telpon?”, bagiku yang “kalau ada orang lain yang bisa maju, kenapa harus aku?”, hal ini adalah hal yang sulit luar biasa. Aku yang pasif, mageran, selalu sulit memulai hal baru.

Singkat cerita, aku telpon dan tidak diangkat. Lalu aku pasrah. Doa ke Allah, semoga muamalah ini dimudahkan. Lalu aku ketiduran 😅 Alhamdulillah, akhirnya dibalas. Ternyata memang harus cek dan ricek dulu, sebab ada yang beda.

Dari kejadian itu, akhirnya aku belajar lagi bagaimana cara mengatasi banyak hal yang akhir-akhir ini melintas di pikiran. Rupanya ini karena aku pasif. Ya sedari dulu memang pasif sih, kerjaannya nunggu. Jarang sekali aku melakukan jemput bola kecuali jika terdesak oleh kebutuhan. Jika aku mager, artinya spirit kebutuhan itu mungkin memang masih sangat rendah. Selama ini, tanpa sadar aku sering berada pada posisi hanya ingin dimengerti. Aku lupa bersikap pro aktif, bertanya-bertanya-dan bertanya.

Padahal, pola pasif ini sudah terbukti tidak baik. Kajian ilmu yang kudengarkan karena aku merasa butuh, berbeda sekali penerimaannya dengan kajian ilmu yang aku “dipaksa” duduk di sana, atau yang karena aku ikut-ikutan arus.

Ketika aku merasa tak dimengerti, memangnya aku sudah berusaha menyampaikan dengan baik? Sudahkah kuterapkan “I’m responsible to my communication result?”

Terbiasa disuapi, seringkali membuat kita lupa berjuang. Padahal pola Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam itu berjuang. Allah tidak butuh kita, kitalah yang butuh. Jadi ingat nasihat pak ustadz. Seringkali kita mendengar “kalau bukan kita yang memperjuangkan agama ini, siapa lagi?” Jawabannya adalah “Ada! Pasti ada kalau bukan kita.” Maka kitalah yang butuh. Kita yang butuh berjuang di agama ini. Karena kita butuh pahala. Butuh pertolongan Allah..

Sekarang jadi makin paham, kenapa pahala orang yang memulai sesuatu itu lebih besar…

Jadi, sudah siap jemput bola? Bismillah, semoga bisa menjadi pola baru.

Bajuku bukan Bajumu

Jalan bahagia kita boleh berbeda, tapi bagaimanapun, kita masih bisa saling support menuju surga kan?

Jangan mengukur baju orang lain dengan ukuran bajumu. Dulu, kalimat ini masih terasa hanya sekadar teori yang cukup dipahami. Kini, setelah berkeluarga, barulah sadar bahwa memahami saja tak lantas membuat kita piawai melakukannya.

Isi khutbah Umar bin Khattab di bulan Ramadhan terasa menghujam. Salah satu di antaranya, bahwa kewajiban di bulan ini adalah puasa. Barang siapa sanggup qiyamul lail, silakan qiyamul lail. Barang siapa tidak, maka silakan tidur. Beliau memberikan standar tinggi untuk diri beliau, tapi lembut, memberi uzur pada yang lain. Meski demikian, para sahabat tak ada yang memanfaatkan isi khutbah tersebut, semua tetap rajin tarawih.

“Ini nggak pedes kok.” demikian suatu ketika suami memberikan testimoni pada makanan yang tersaji. Anak kami, lantas memakannya. Namun, ternyata menurut dia, itu sangat pedas. Dari hal yang sangat sederhana ini, sebenarnya bisa dipahami bahwa level ketahanan seseorang terhadap pedas pun bisa berbeda untuk makanan yang sama. Apalagi terkait hal lain di luar level kepedasan.

Kemampuan calistung? Kemampuan beribadah? Level kebaperan? Ketika berinteraksi dengan pasangan maupun anak, barulah terasa bagaimana kita harus menutup mata dari level kemampuan kita, dan mendengarkan serta menerima apa yang menjadi kemampuannya. Di sini juga belajar memahami bahwa jika kita diberikan kemampuan lebih, respon yang seharusnya adalah bersyukur dan berbelas kasih kepada mereka yang diberikan kemampuan kurang. Masih menjadi PR untuk meresapi bahwa segala potensi adalah pemberian Allah. Bahwa sejatinya kita semua adalah hamba yang tak punya apa-apa. Segala potensi dan kemampuan adalah titipan. Maka apakah layak menuntut yang lain, padahal yang kita punya adalah titipan? Padahal yang kita punya adalah pemberian dan rahmat Allah, bukan karena kita layak?

“Ini tinggal digosok aja kok, nanti lantai kamar mandinya udah bersih” demikian di kesempatan lain, suami mengatakan. Namun, rupanya dengan tenagaku, itu sulit sekali. Sebaliknya, kadang pun pada kotak lain, aku merasa “gini aja mudah kok, memangnya sulit ya?” Atau ketika bersama anak, “Kayaknya sakit ringan kok. Kenapa sih harus teriak-teriak segitunya?”

Betapa akhir-akhir ini harus bisa menurunkan level, menurunkan posisi hingga sejajar lawan bicara, untuk mengetahui apa yang dirasakannya. Lalu… menerima, jika ternyata tak sejalan dengan apa yang kita rasa. Menerima, jika ternyata kemampuannya di bawah kita. Menerima, bahwa artinya, justru dengan kelebihan kita, maka kita perlu membantu. Menuntun, bukan menuntut. Bukankah memang kita diviptakan berbeda, agar bisa saling sharing? Jika semuanya diciptakan sempurna, maka takkan ada saling tolong di antara sesama.

Ah ya, ukuran baju kita.. juga beda kan? Masa lalu, pengalaman hidup, referensi yang kita baca, juga berbeda… apa yang penting bagi kita, kadang rupanya tak terlalu penting bagi orang lain. Apa yang bagi kita hanya sekedar candaan, rupanya mampu menoreh luka di hati seseorang akibat adanya trauma masa lalu yang kita tak mengalaminya.

Namun, di antara sejuta level perbedaan cara bahagia itu, kita masih bisa saling support menuju surga bukan? Bismillah, semangat!

Booster Optimisme Perempuan di Bulan Ramadhan

Sebagai perempuan, seringkali ada kendala dalam ibadah fisik sehingga tak bisa maksimal seperti lelaki. Sebut saja, haid, nifas, hamil, ataupun menyusui. Hal-hal ini terkadang menimbulkan kesedihan bagi perempuan karena tak bisa melakukan beberapa ibadah fisik seperti solat dan puasa.

Ustadz Nuzul Dzikri memaparkan beberapa solusinya di kajian wanita, pada tanggal 4 April. Saya mencoba menuliskan sedikit catatan dari kajian tersebut, untuk menjadi booster di etape kedua bulan Ramadhan ini.

Untuk perempuan yang tengah haid dan nifas, perlu mengedepankan amalan hati. Yang pertama, ada pahala unlimited ketika kita sabar, menerima haid sebagai ketetapan daro Allah. Selanjutnya, perempuan perlu menyadari bahwa taqwa itu tidak hanya mengerjakan perintah, tetapi juga meninggalkan larangan. Oleh karena itu, ketika ia meninggalkan sholat saat haid karena itulah larangan Allah, maka iapun mendapatkan pahala.

Yang ketiga, perlu memaksimalkan ibadah sebelum masa haid, yang dengan itu, semoga ketika haid tiba (uzur syar’i), ia bisa terus mendapatkan pahala atas amalan yang rutin dikerjakan sebelum haid.

Yang keempat adalah mencari alternatif amal lain, seperti zikir, memberi makan orang berbuka (sehingga bisa mendapatkan pahala puasa), membantu orang, infak dan sedekah)

Masalah kedua yang biasa dihadapi kaum peremluan adalah pembagian waktu antara mengurus keluarga dan ibadah fisik. Solusinya sama, yakni mengedepankan amalan hati. Wanita merupakan penanggung jawab. Ia akan ditanya tentang rumah dan anak-anaknya. Maka ketika ia mengerjakan urusan rumah dengan niat memenuhi tanggung jawab, maka akan dapat pahala amal soleh.

Mengurus keluarga dan peduli terhadap mereka juga merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam. Beliau melakukannya saat Ramadhan, di samping ibadah lain. Saat mendidik anak, itu juga pahala. Anak-anak bukanlah kendala, niatkan untuk mengamalkan At Tahrim ayat 6 ketika mendidik mereka.

Saat menyiapkan sahur dan buka, ingatkan diri bahwa sarana itu hukumnya seperti tujuan. Sahur dan buka puasa merupakan amal soleh, sehingga upaya untuk mempersiapkan sahur dan buka, mendapatkan pahala amal soleh juga. Tentu saja harus seperlunya, sehingga tak banyak waktu yang dihabiskan di dapur.

Adapun bagi wanita yang harus bekerja seperti single parents, lagi-lagi perlu mengedepankan amalan hati. Niatkan bekerja untuk menafkahi diri sendiri supaya tidak meminta-minta. Kemudian, lakukan secukupnya. Jika hasil kerja sudah dirasa cukup, bisa mengambil cuti 1-2 hari. Selain itu, juga bisa mengirimkan makanan berbuka.

Begitulah kira-kira sedikit catatan singkat dari kajian ustadz Nuzul. Hmm, rupanya jalan bahagia (berupa iman dan amal soleh) itu ada banyak ya. Betapa agama ini mengcover banyak kondisi kita. Jadi, bismillah, lagi-lagi, mari kita fokus pada pintu ibadah yang Allah bukakan bagi kita. Semoga Allah mudahkan.

Referensi : Dzikri, Muhammad Nuzul. 2022. “Masalah Wanita di Ramadhan dan Solusinya.” Youtube, 4 April 2022. <https://youtu.be/4rYliTAtK6o&gt;

Belajar Tentang Ramadhan Journaling

Goal kita sama, ingin menjadi hambaNya yang bertakwa. Tapi strateginya bisa berbeda -Ragwan Alaydrus

Alhamdulillah, senin tanggal 21 Maret kemarin berkesempatan hadir dan menyimak webinar dari thequranjournal.id tentang Ramadhan Journaling. Sungguh suatu rezeki, karena sore itu anak-anak tetumbenan kompak tidur.

Materi webinar dibawakan oleh kak Ragwan Alaydrus. Di sini saya jadi tahu apa bedanya journaling dengan sekedar mencatat. Journaling merupakan kegiatan menuliskan apa yang kita pikirkan/rasakan agar kita bisa memahaminya dengan lebih jelas. Umumnya kegiatan ini memiliki topik tertentu seperti jurnal belajar, jurnal syukur, jurnal karir dsb. Biasanya ada pemantik berupa kalimat sebagai panduan akan menuliskan apa.

Ramadan Journaling menjadi suatu media untuk membantu kita lebih mindful dalam niat dan aktivitas ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan. Manfaat yang didapat antara lain adanya clear goals, karena akan memperjelas rencana kita supaya tidak terdistraksi. Waktu akan terbuang sia-sia jika kita tak membuat target. Selanjutnya, ia bisa menjadi daily record, sebagai sarana evaluasi dan menilai secara objektif. Bukan hanya kuantitas, tapi juga kualitas. Manfaat ketiga adalah untuk maintain consciousness di mana menulis jurnal membuat kita menghargai yang kita jalani dan memaksimalkan setiap hari yang dijalani.

Teknisnya adalah dengan menyiapkan 1 media catatan khusus (buku/digital note). Ada tiga tahapan waktu dalam menuliskan jurnal yakni entering ramadhan, during ramadhan dan after ramadhan.

Sebagai awalan (entering Ramadhan) kita perlu menetapkan goal. Pastikan ini semua selesai sebelum Ramadhan. Tujuan kita sama, Al Baqarah 183, agar bertakwa. Namun, strategi berbeda-beda sesuai kondisi. Ada ibu hamil, ibu dengan anak kecil, ada juga yang masih single. Kita perlu fokus pada ibadah sesuai dengan apa yang Allah pinta, bukan yang kita inginkan. Ini sungguh noted sekali. Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tapi juga hati sehingga setiap kita in syaa Allah bisa mendapatkan itu. Mengurus anak untuk mendapat ridho Allah, in syaa Allah dapat pahala juga. Kita perlu juga mencari ilmu seperti apa idealnya saat ramadhan, sehingga dari situ kita tetapkan target.

Kita bisa menuliskan niat dalam beribadah di bulan Ramadhan. Contohnya, kita berniat untuk berada dalam keadaan dicintai Allah, niat mendapat ridho Allah, niat memahami Al Quran, niat menghindari yang merusak hati. Lalu kita tuliskan strateginya misal cara menahan diri lahir batin adalah dengan menghindari ghibah, tidak menuruti craving, mindful eating.

Tips agar bisa istiqomah adalah dengan memasang target ibadah yang ringan, komunikasi dengan keluarga, dan tetap mengqadha amalan yang ketinggalan.

Kita juga bisa menyusun rutinitas dalam waktu shalat, memplotting jenis aktivitas yang bisa dikerjakan, membuat amal tracker. Jika kita sedang haid, bisa ditulis rencana kegiatan pengganti agar tidak berantakan.

Adapun selama Ramadhan, kita melakukan journaling harian untuk menjaga semangat dan fokus, sebagai momen untuk tafakur, dan pemantik kalimatnya pun fleksibel. Misalnya, di pagi hari kita menuliskan niat dan doa hari ini. Di malam hari, kita evaluasi ibadah kita. Bagaimana tingkat kualitas puasa? Apa syukurku hari ini?

Adapun setelah Ramadan, kita mengevaluasi bagaimana Ramadan kali ini. Apakah sesuai target?

Agar konsisten, kita perlu menemukan strong why, memakai format jurnal yang disukai, meluangkan waktu khusus, jurnalnya gampang diakses, memakai list saat menulis dan merasakan manfaat dari journaling.

Jazakunallah khayran kak Gwan dan tim thequranjournal.id. Bismillah, semoga Allah sampaikan kita ke Ramadhan dan kita diberikan taufik untuk bisa beribadah di bulan tersebut, aamiin.

Selepas webinar, alhamdulillah saya bisa mengutak atik canva untuk mencoba membuat template jurnal. Teman-teman juga boleh ya memakainya jika sesuai dengan selera teman-teman. Silakan download di sini, semoga bermanfaat. 🙂

Menuju Bulan Suci

Tak terasa, beberapa hari lagi, Ramadhan akan tiba. Aku memutuskan untuk mendengarkan dan membaca ulang catatan kajian ustadz Nuzul Dzikri bertajuk “Fiqh Prioritas dalam Beramal di Bulan Ramadhan“. Harapannya, semoga dengan ini bisa lebih mindful dalam menjalani Ramadhan.

Yang pertama adalah memprioritaskan amalan wajib. Selanjutnya, kita perlu mendahulukan amalan batin, sebelum amalan zahir. Ini yang sering menjadi blindspot banyak orang. Mengapa amalan hati? Dalam Al Baqarah 183, disebutkan bahwa tujuan kita berpuasa adalah untuk bertaqwa. Sementara itu, Rasulullah Shallallahu Alayhi Wa Sallam pernah bersabda bahwa “At Taqwa Ha huna”, taqwa itu di sini (sambil menunjuk dada/hati). Puncak orang-orang yang berpuasa adalah memuasakan dirinya dari virus-virus hati. Amalan hati yang ditekankan adalah keikhlasan. Puasa merupakan momen di mana kita menyembunyikan amalan, melatih keikhlasan. Hanya Allah yang tahu kita puasa atau tidak. Allah pun berfirman dalam hadits qudsi bahwa “Puasa itu UntukKu”. Di tempat publik, kita akan sulit mengetahui mana yang berpuasa dan mana yang tidak, kecuali ada yang makan secara terang-terangan.

Selanjutnya, dalam hadits terkait amalan ramadhan seperti puasa, tarawih dan lailatul Qadr, disebutkan tentang iman dan ihtisaban. Salah satunya berbunyi “Barang siapa berpuasa karena iman dan ihtisaban maka Allah akan ampuni dosa-dosa yang lalu”. Ihtisaban berarti senang, tidak merasa berat, dan ini lahir dari hati. Begitupun iman, akarnya di hati lalu terkoneksi kepada fisik. Nah, biasanya ibu-ibu sering merasa terkendala dalam beramal di bulan Ramadhan. Maka, kedepankan amalan hati ini.

Kedua, amalan zahir yang wajib perlu dijaga. Contohnya solat, puasa, zakat, birul walidain, berkhidmat pada suami, mendidik anak. Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa barang siapa yang sibuk mengerjakan hal-hal wajib hingga tak bisa mengerjakan yang sunnah, maka ia dimaafkan dan bisa jadi dapat pahala. Barang siapa yang sibuk mengerjakan yang sunnah dan melupakan yang wajib maka ia telah tertipu oleh iblis.”

Ketiga tinggalkan yang haram. Jaga lisan dari ghibah. Jaga diri dari maksiat. Siapa yang tidak meninggalkan hal dusta/maksiat, takkan mendapat pahala puasa. Cara terbaik untuk tidak maksiat adalah beribadah kepada Allah dan ingat kalau sedang beribadah. Orang yang sedang berpuasa, jika diajak ribut, maka perlu mengatakan “aku sedang puasa, aku sedang puasa”. Yang pertama, ditujukan kepada orang yang mengajak ribut supaya lebih kondusif. Sedangkan yang kedua ditujukan kepada diri sendiri agar tak terpancing. Dalam QS Al Furqon ayat 6, para ibadurrahman tidak terprovokasi karena mereka sujud di waktu malam. Kemampuan menceraikan nafsu dan kelalaian tergantung dari ibadah di waktu malam.

Keempat melakukan amalan spesialis Ramadhan yakni :

a. Dzikir. Di Ramadhan, semua ahli ibadah “turun gunung”, semuanya fastabiqul khoirot. Lalu, siapakah yang paling besar pahalanya? Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam mengatakan bahwa yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berdzikir di antara mereka. Lihat, betapa membahagiakan, karena semuanya in syaa Allah bisa melakukan! Maka, jangan lewatkan dzikir pagi petang. Istighfar saat sahur. Dzikir terbaik adalah yang diresapi, bukan sekedar di lisan.

b. Baca Al Quran. Icon ramadhan adalah membaca Al Quran dan berbagi makanan ke sesama. Imam syafi’i 2x khatam dalam sehari. Imam Qatadah 3 malam khatam. Bacalah minimal 100 ayat pada waktu malam, karena Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda “Barang siapa membaca Al Quran 100 ayat, mendapat pahala qiyamul lail semalam suntuk.”

c.Tarawih. “Barangsiapa solat tarawih bersama imam mendapat pahala qiyamul lail semalam suntuk” Latih agar bisa tarawih lebih panjang dari biasanya.

d. Infaq, sedekah, beri makan orang puasa. Puncak kedermawanan Nabi adalah di Ramadhan. Orang beriman tidak menunggu kaya untuk berinfak, suka memberi meski masih susah. Malik bin Dinar, saat memiliki 1 makanan untuk berbuka dan melihat orang lain belum punya, beliau memberikannya.

Untuk ibu berbayi, atau hamil yang terasa berat, bertaqwa kepada Allah semaksimal mungkin. Apabila kuat berpuasa, maka berpuasa. Jika direkomendasikan dokter tidak boleh, maka tidak mengapa, cari kotak ibadah lain. Wanita yang haid, jika tak bisa berpuasa, bisa memberi makan orang yang puasa untuk mengejar pahala puasa juga. Simak juga kajian “Lumbung Pahala Wanita di Bulan Ramadhan” dan “Kendala Wanita Saat Lailatul Qadr dan Solusinya”, semoga mendapat pencerahan untuk bermain maksimal di kotak ibadah yang tersedia.

Pintu rahmat di Ramadhan dibuka, jadi semoga nanti kita bisa menikmatinya, bersyukur pada setiap kotak ibadah yang dibukakan olehNya. Manfaatkan start dengan baik, karena start itu bisa menentukan garis finish. Bismillah, semoga Allah sampaikan kita kepada Ramadhan. Aamiin. 🙂

Menyelamatkan Saudara

Allah akan senantiasa menolong hambaNya selama hamba tersebut menolong saudaranya (HR Muslim)

Suatu hari, saya dan si bocah mengeksekusi permainan “Save The Pinguin” yang bersumber dari buku Rumah Main Anak karya Julia Sarah Rangktuti. Permainannya adalah menyelamatkan boneka figure pinguin yang ada di dalam es dengan menggunakan palu.

Karena tidak punya figure pinguin, kami menggunakan figur yang ada yakni hello kitty, boneka bebek dan figur princess.

Si bocah tampak bersemangat menghancurkan es demi menyelamatkan para figure. Namun ia tampak kesusahan karena palunya terbuat dari bahan plastik dan berukuran kecil. Akhirnya, saya menyarankan agar ia memakai es yang berisi boneka bebek untuk menghancurkannya. Kebetulan, boneka tersebut sudah sedikit menonjol dari esnya sebab ukurannya cukup besar. Ajaibnya, ternyata boneka bebek ini justru “selamat” terlebih dahulu. Esnya remuk akibat dipakai untuk memecah es yang mengurung figure lain.

Save the figure

Sejujurnya dialog iman yang direncanakan dari aktivitas ini adalah pengenalan asmaul husna bahwa Allah itu Al Qowwiy yang Maha Kuat. Sementara kami adalah makhluk lemah yang memerlukan energi ekstra untuk sekedar memecahkan es. Namun, rupanya ada insight lain dari kegiatan ini. MasyaAllah. Sangat pas dengan kajian Riyadush Shalihin yang tengah membahas tentang membantu saudara.

“Bebeknya jadi selamat gara-gara nyelamatin yang lain!” Ujar bocah.

“Eh iya, jadi kalau nolong orang, kita juga malah jadi selamat ya.” Saya langsung menimpali.

“Iya, kan ibu pernah cerita”. Eh kapan? Ibunya malah gak inget 😂

Benar ya, kalau kita sedang menolong orang, artinya kita sedang menolong diri sendiri. Ketika kita menolong orang, kita perlu melakukannya atas dasar tauhid, bukan sok ingin jadi pahlawan, melainkan karena kita butuh pertolongan Allah untuk memudahkan urusan, baik dunia maupun akhirat. Dengan demikian, kita tidak perlu mengharap terima kasih. Akhirnya, dari perenungan ini, runtuhlah pertanyaan “Masalah aku aja belum kelar, gimana aku bisa bantu masalah orang lain?” Semakin memahami yang diajarkan bu Septi, di awal bunda Salihah. Ya, alih-alih disuruh mikir sendiri solusi masalah kita, malah diminta kampanye untuk dapat tim. Diminta melakukan aksi untuk dampak sosial. Rupanya, bisa jadi justru dengan cara itulah kita menolong diri kita sendiri.

Bagi seorang introvert, berinteraksi dengan orang lain itu sejatinya tidak mudah. Berbagi dengan dunia luar menyedot energi yang sangat besar. Tapi, aku juga membutuhkan pertolongan Allah. Semoga di dalam ketidakmudahan itu, spirit kebutuhan akan pertolongaan Allah ini bisa menyeretku dari zona nyaman, mencoba semampunya untuk berkontribusi terhadap kehidupan sosial. Aamiin.