Berdaya, Meski Tak Sempurna : Sebuah Refleksi Belajar

Maka bertanyalah kepada orang yang mengetahui pengetahuan jika kamu tidak tahu (An Nahl:43)

Memasuki pekan ketiga Virtual Conference sekaligus babak akhir, semakin banyak tema menarik yang disajikan. Kota ini seakan menjadi miniatur kehidupan nyata, di mana banyak ilmu tersebar, sehingga kita perlu memilih mana yang prioritas. Mengasah gergaji agar semakin terampil mengenali kebutuhan diri dan berkomitmen terhadap waktu. Memang sedikit baper jika ternyata tak bisa ikut pada materi tertentu, apalagi jika yang membawakan adalah seorang teman. Namun, akhirnya saya menyadari bahwa dukungan bisa dilakukan dalam bentuk apapun, termasuk doa.

Saya masih berkelana dari satu sesi ke sesi lain, belanja ilmu tentang manajemen waktu dan manajemen emosi. Saya juga sesekali menambah ilmu terkait tema yang berkaitan dengan kemampuan-kemampuan dalam membersamai kegiatan anak. Tak lupa saya juga menyimak persiapan Ramadhan oleh mba Lowita, mengingat sebentar lagi bulan mulia ini akan tiba.

Saya senang, bisa melihat dari banyak sisi penerapan manajemen waktu dan manajemen emosi para emak. Alhamdulillah itu semua semakin memantapkan langkah dalam menjalani peran sebagai seorang ibu.

Multiperan, tapi Bukan Multitasking, inilah pelajaran pertama yang saya peroleh. Benar, peran kita setelah menikah itu semakin banyak. Sebagai istri, ibu, sekaligus anak. Belum lagi, peran di komunitas ataupun lingkungan kerja. Semuanya perlu ditunaikan sebaik-baiknya. Manajemen waktu menjadi kunci agar peran-peran ini tidak campur baur di dalam otak. Bukan multitasking yang diperlukan seseorang, tapi mengerjakan peran sesuai dengan porsi waktu yang ditetapkan dan juga skala prioritas.

Fleksibel, jangan kaku dalam menerapkan manajemen waktu. Yap, rupanya jadwal dengan meletakkan jam demi jam itu agak kurang cocok bagi saya. Senada dengan yang disampaikan Mba Ridha Handayani dalam sesi FB Live tentang “Manajemen Energi as Full Time Mom tanpa ART”, memetakan aktivitas bisa dengan memilih, mana yang bisa dikerjakan dengan anak, dan mana yang perlu dilakukan saat anak tidur. Pertanyaannya, bagaimana jika ternyata anak bangun di jam yang kita jadwalkan untuk mengerjakan sesuatu yang penting itu?

Kuncinya ternyata ada pada komunikasi! Pertanyaan tersebut, selain saya tanyakan pada mba Ridha, juga saya tanyakan pada mba Annisa Fauziah yang juga mengangkat tema manajemen waktu meski dengan redaksi kalimat yang berbeda. Jawaban yang saya peroleh rupanya pun senada dan saling melengkapi. Pertama, melihat kondisi anak. Jika tidak menangis, maka kita bisa izin untuk menyelesaikan tugas tersebut terlebih dahulu. Jika ada suami, bisa meminta bantuan beliau. Jika berkaitan dengan deadline dari pihak lain, maka perlu memberitahukan kendala di luar dugaan tersebut, jangan diam dan justru menghilang karena sungkan. Alhamdulillah, jawaban tersebut benar-benar menjadi solusi tentang apa yang selama ini saya pertanyakan, sekaligus membuka sisi yang perlu saya perbaiki, yakni seni berkomunikasi.

Jaga Kewarasan, dan Libatkan Allah. Banyaknya peran membuat kita perlu menjaga kewarasan dan yang membuat kita bisa kuat adalah bersandar pada Yang Maha Kokoh. Ada begitu banyak dinamika dalam menjalani peran di mana kenyataan seringkali tak seindah harapan. Saat kita tahu tubuh penat dan minta izin sejenak pada anak untuk beristirahat, seringkali justru penolakan yang kita dapat. Perkuat lagi sandaran kita ke Allah, agar bisa menerima dan merespon dengan baik setiap dinamika tersebut. Ikhtiar kita, dibarengi dengan tawakal dan berserah. Pada akhirnya, kembali lagi dengan merajut syukur.

Dan akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa Ibu, Engkau Tetap Perlu Belajar. Tak perlu terjebak pada stigma ibu sempurna, karena kesempurnaan memang hanyalah milik Allah (ini bener kerasa banget). Namun kita perlu terus belajar dan berlatih. Yang menjadi catatan juga buat saya adalah bahwa kita adalah hamba Allah sepenuh waktu. Jadi, bukan demi anak-anak kita mencurahkan diri kita sepenuh waktu,namun demiNya. Demi menjadi hamba yang baik. Kita menjalani peran di rumah dengan all out, karena kita akan ditanya tentang kepemimpinan kita terhadap rumah dan anak-anak. Jika demi anak-anak, akan rawan jatuh pada rasa berkorban, atau timbul jenuh dan gerutu. Tubuh memiliki hak atas kita sehingga perlu menyadari ambang batas diri, kapan perlu dibantu. Komunikasikan dan jangan pendam. Sebagai seorang istri, kita juga perlu menyediakan waktu untuk berbincang dengan suami. Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan sebuah interaksi positif dengan komunitas, tentu dalam batas yang wajar. Jadikan semua itu sebagai sarana untuk beribadah kepadaNya. Allah time (sholat dan amalan yaumiah), Me time, family time,social time dan couple time perlu diatur sesuai porsinya sehingga semua bukan saling bertentangan, tapi justru menjurus kepada satu hal : menjadi hambaNya.

Refleksi Belajar

Dengan pola seperti ini, in syaa Allah kita akan menjadi ibu berdaya, meski tak sempurna. Bagaimana respon keluarga terhadap aktivitas saya di Hexagon City? Sejatinya semua mengizinkan. Pernah ada lampu kuning yang menyatakan don’t be too much. Jangan terlalu keluar rumah dalam hal kesibukan. Ini membuat saya sempat berpikir panjang. Am I too much? Ketika saya konfirmasi ulang, alhamdulillah jawabannya tidak. Jadi saya pikir itu memang semacam wanti-wanti saja supaya tak larut dalam euforia aktualisasi diri.

Bagaimana perubahan saya sejak di Hexagon City? Hmm.. sebenarnya sulit ya menilai diri sendiri wkwk. Namun, yang jelas saya bersyukur bisa belajar banyak di sini. Langkah saya alhamdulillah lebih mantap dan kokoh. I am happier with my imperfection, sudah agak jarang baper ketika realita tak seindah harapan πŸ˜† Jadi lebih sadar rasa, tapi mencoba tak larut dan fokus pada solusi. Terus belajar dan bertanya, bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah, dan jangan lemah. Alhamdulillah. Jazakumullah khoir untuk semua pihak yang telah mendukung semua aktivitas di Hexagon City. Suami,anak, Ibu Septi, tim formula, dan semua teman-teman seperjuangan. πŸ’–

#HexagonCity #Hexagonia #KuliahBundaProduktif #InstitutIbuProfesional

Apa yang Kudapatkan di Virtual Conference?

Kita bisa menjadi jembatan kecil, ataupun jalan setapak yang mengantarkan orang-orang menuju jalan utama. Pastikan mereka nyaman melaluinya, lalu doakan agar selamat sampai di tujuan.

Jumat, tanggal 12 Februari 2021, dengan bermodal nekat dan bismillah, akhirnya saya memberanikan diri menjadi salah satu speaker di Virtual Conference Ibu Profesional. Tema yang saya angkat, seperti yang sudah saya ceritakan di jurnal sebelumnya, yakni tentang syukur. Alasan mengambil topik ini, karena beberapa pekan sebelumnya belajar tentang syukur melalui kajian wanita yang dibawakan oleh ustadz Nuzul Dzikri. Dari kajian tersebut, saya jadi tahu benang merah mengapa jurnal syukur bisa menjadi salah satu sarana untuk menjaga kewarasan diri. Ya, karena isu syukur ini rupanya sangat penting bagi perempuan. Alhamdulillah, kulgram berjalan lancar. Allah kirimkan teman-teman super baik yang menyemangati, mengawal kulgram, mengingatkan SOP, juga mendoakan, baik dari regional maupun di Gerha Aksara. Sejatinya, menyampaikan pun pada akhirnya adalah menasihati diri sendiri, murajaah apa yang sudah dipelajari, dan pelecut untuk bisa berjuang lebih baik lagi. Semoga Allah ridho.. aamiin.

Untuk teman-teman yang belum berkesempatan datang, boleh disimak slide-slide kemarin. Semoga bermanfaat.

Itulah mengapa kita lebih semangat saat bersyukur. Karena Allah Janjikan tambahan nikmat
Tak bisa libur membaca Al Fatihah, menandakan kita senantiasa perlu bersyukur
Hadits yang menohok. Tapi bukan membuat kita pesimis, melainkan sebentuk kasih sayang Rasulullah SAW agar kita lebih berhati-hati dan menyadari pentingnya isu syukur
Rasulullah SAW memberikan kita tips, untuk sering melihat ke bawah, agar kita tdk meremehkan nikmat Allah. Namun, di samping kita suka tergoda untuk justru melihat ke atas, pada prakteknya seringkali kalimat “alhamdulillah” pun kurang kita resapi shg hanya sampai di lisan saja.
Maka, hal yang bisa kita benahi untuk dapat memperbaiki rasa syukur kita adalah bagaimana cara kita dalam melihat. Data itu penting, tetapi kemampuan melihat data jauh lebih penting untuk bisa membuat data itu berguna. Cara kita melihat apa yang sudah Allah beri kepada kita akan mempengaruhi bagaimana rasa syukur kita terhadap pemberianNya
Kenapa ditulis? Karena kita mudah lupa. Saat hari penat, dengan melihat jurnal syukur yang entah kita buat di hari kapan, bisa merecall bahwa Allah Maha Baik. Maka, kali ini pun Ia juga akan membukakan jalan
Tak ada kebahagiaan yang remeh
Yg terpenting, hadirkan hati
Referensi

Alhamdulillah, yang sudah baik adalah berjalannya kulgram dengan lancar, tepat waktu dan sesuai SOP. Yang ingin ditingkatkan adalah pemanfaatan google form. Sebaiknya ada opsi feedback dari peserta supaya tahu bagaimana pendapat peserta dari sisi pelaksanaan. Opsi email juga bisa disertakan untuk memberikan copy materi, sebagai antisipasi jika ternyata grup harus segera bubar dan peserta memerlukan materi tersebut. Namun, saya berharap dengan tak adanya resume kemarin, teman-teman sudah mencatat sendiri dan bisa lebih mendapatkan manfaatnya. Aamiin

Selain sebagai speaker, saya juga menjadi partisipan, sengaja menghadiri topik-topik yang masih bersesuaian dengan mind map yakni yang terkait manajemen hati ataupun manajemen waktu. Kebetulan rekan satu co house, mba Michele membawakan materi tentang apresiasi diri. Alhamdulillah saya bisa menyimak dengan baik materi tersebut. Saya jadi tahu bedanya cinta diri dengan egois, di mana cinta diri akan berdampak meluas kepada orang lain. Mengisi teko kebahagiaan, untuk kemudian dituangkan kepada keluarga😊 Saya juga mengambil peran sebagai bumblebee ketika pengen lihat teman-teman Depok, namun waktu screen time tak mencukupi, hehe. Kekurangan menjadi bumbleebee adalah tak mendapatkan ilmu secara utuh, tetapi masih ada sepotong lintasan gagasan yang nantinya bisa dimanfaatkan atau dicari lagi saat diperlukan.

Alhamdulillah. Virtual conference yang menyenangkan. Semoga ilmu yang disampaikan dan didapatkan bisa mendatangkan kebaikan dan keridhoanNya. Aamiin.

#HexagonCity #Hexagonia #InstitutIbuProfesional #KuliahBundaProduktif #ZonaOpenSpace #VirtualConference

Open Space : Let’s Go to The Conference

Kita bisa belajar dari siapapun. Dari setiap ciptaanNya, dari setiap tempat di mana kita lewat.

Kuliah Bunda Produktif ini sungguh penuh kejutan! Bulan ini kami ditantang masuk ke dalam zona open space, di mana hexagon city membuka konferensi yang bisa dihadiri oleh siapapun. Kami bebas memilih akan menjadi bumblebee, orang yang terbang ke sana kemari untuk belanja gagasan, atau kupu-kupu yang gemar merefleksi materi yang tengah disimak, atau justru menjadi speaker yang menebar materi.

Bagi saya, jelas ini tantangan keluar zona nyaman jika memilih menjadi speakerπŸ˜† Dan bismillah saya mencoba mengambil peran itu, dengan platform telegram, yakni tetap via texting karena saya lebih nyaman berbagi dengan cara itu dibanding berbicara langsung.

Saya berencana berbagi mengenai writing for healing , bercerita tentang jurnal syukur sebagai upaya untuk menjaga kewarasan diri 😁 Kenapa memilih tema ini? Karena saya merasakan manfaatnya saat dulu mengalami mood swing parah saat hamil, dan saya juga baru sadar tentang pentingnya isu syukur bagi perempuan setelah mendengar kajian wanita yang dibawakan oleh Ust. Nuzul Dzikri. Mudah-mudahan dengan menuliskan tema ini bisa menjadi wasilah kebaikan sekaligus pengingat bagi diri.

Deg-degan? Jelas iya! Bismillah.. semoga lancar.. aamiin. Adapun sebagai partisipan, saya akan memilih peran sebagai kupu-kupu, ambil topik yang perlu, lalu merefleksikan 😁 Topik apakah itu? Nggak jauh-jauh dari upaya menjaga hati juga sepertinya πŸ˜… mudah-mudahan tak terjebak pada euforia, sehingga melalaikan ya.. Aamiin.

Oh ya, konferensi ini terbuka untuk umum. Silakan cek jadwal di sini ya dan segera meluncur ke media hexagon city sesuai tema yang diminati. Selamat belajar! Semoga bermanfaat πŸ™‚

#HexagonCity #Hexagonia #InstitutIbuProfesional #ZonaOpenSpace #KuliahBundaProduktif

Six Thinking Hats

Take time to deliberate, before an action.

Six thinking hats. Mendengar nama metode tersebut langsung membuat saya teringat sebuah buku lama, dengan sampul seorang laki-laki yang tengah duduk bersila, di atasnya terdapat topi berwarna warni. Edward de bono, tertera sebuah nama di sana.

Buku itu milik Bapak -yang membuat saya langsung mellow ingat rumah- Rasanya tak menyangka, bahwa Rabu minggu lalu justru saya mendengarkan metode pada buku itu lewat perantara bu Septi, sementara bertahun-tahun saya tak pernah membaca buku tersebut meskipun ada sedekat itu πŸ˜‚ Qadarullah wa maa sya’a fa’al.

Seorang kawan pernah menasihati agar kita selalu mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak. Saya pikir, Six thinking hats bisa menjadi salah satu jalan untuk itu. Jadi, seperti apa metodenya? Mari kita praktekkan dalam kasus project passion Gerha Aksara yang akan melakukan publishing and marketing karyanya.

Pertama, kita memakai topi biru. Di sini kita melihat tantangan dan tujuan apa yang akan kita capai? Kami menuliskan milestone kami di bulan Februari-Maret, yakni menerbitkan buku dan memasarkannya.

Setelah topi biru diletakkan, kami memakai topi putih, yakni mengumpulkan data dan fakta terkait tujuan. Di sini kami memiliki data calon penerbit, media promosi dan tim sukses.

Topi putih dilepas, beralih ke topi hijau. Kami mengumpulkan ide-ide marketing, yakni : mengumpulkan testimoni untuk buku, membagikan flyer di medsos, mengadakan Live FB dan acara untuk promosi di Hexagon City dan mempersiapkan kelas pendampingan.

Topi kuning dipakai setelah topi hijau, untuk melihat manfaat dari ide yang ada. Semua manfaat dari ide di topi hijau adalah memberikan nilai lebih terhadap buku kami, dan menaikkan peluang buku tersebut bisa tersebar di pasaran.

Semua harus seimbang. Maka, topi hitam diperlukan untuk menimbang resiko. Namun, tak lupa sertakan solusi, supaya tidak menjadikan down. Contoh resiko yang akan dihadapi antara lain, ada potensi orang akan bosan membaca sharing promo dari kami. Solusinya adalah belajar copywriting yang menarik.

Topi merah digunakan terakhir. Inilah topi intuisi, atau feeling. Apa yang kita rasakan dengan ide-ide tadi? Saya sendiri merasakan senang, sekaligus deg-degan. Kalau saya boleh mengibaratkan, rasanya seperti menghadapi suasana lebaran hehe. Karena saya introvert, ini agak sedikit berat, ketika sebelumnya kita sunyi menulis, asyik sendiri seperti saat orang-orang melakukan i’tikaf, kini saatnya keluar membaur dengan orang-orang seperti suasana lebaran. Ya, memang harus seperti itu, jika ingin menyiarkan sesuatu. Take a deep breath… Bismillah. Sudah ada lampu kuning juga dari keluarga, dengan batasan sewajarnya! Jangan sampai terjebak euforia yang akhirnya melalaikan.

Setelah topi merah diletakkan, saatnya memakai topi biru dan memilih satu aksi. Saya memilih berpartisipasi pada live FB untuk promo di Hexagon City. Ini sungguh-sungguh keluar dari zona nyaman πŸ˜‚ Ya, tapi.. memang menulis tujuannya kan supaya dibaca dan bermanfaat ya, supaya tak sekedar tergembok di buku diary. Bismillah, mudah-mudahan bermanfaat dan berkah ya… 😊 Alhamdulillah, sungguh satu hal indah dipertemukan dengan pasukan Gerha Aksara. Dari mereka, saya belajar tentang kegigihan, kesungguhan dan rasa tidak menyerah di antara segudang kesibukan. Lalu setelah nantinya berjuang habis-habisan, akan ada saatnya melepaskan. Berserah, dan menyerahkan semua urusan kepada Allah. Effort kami tak sempurna, maka semoga Allah Menyempurnakan semua ini, agar berkah.

Six thinking hats Gerha Aksara
Aksi yang akan dilaksanakan

Referensi : Materi kuliah Bunda Produktif oleh Ibu Septi Peni Wulandini, Live FB Institut Ibu Profesional pada hari Rabu, 27 Januari 2021

#HexagonCity #KuliahBundaProduktif #InstitutIbuProfesional #Hexagonia #ZonaG

Dandelion Hexagon City

Sharing is Caring..

Sebagai introver yang lebih suka ngumpet, perkara berbagi, seringkali terasa pelik sekali. Padahal, dalam diri ini, tahu sekali bahwa berbagi itu tanda peduli. Setiap kali mendapatkan ilmu nan manfaat, ingin rasanya semua orang pun mendapat. Namun, kadang ada rasa takut jika tak tepat dalam penyampaian.

Blog ini, merupakan salah satu media mencatat yang paling saya sukai, karena berpikir bahwa yang membaca ini, semoga orang yang memang membutuhkan. Mungkin dia menemukannya lewat mesin pencari, melihat judulnya, dan mudah-mudahan mendapat manfaat setelah membaca. Adapun melalui IG dan FB entah mengapa saya kurang merasa nyaman. Dua medsos itu seringkali hanya terpakai jika ada tugas ataupun ada permintaan πŸ˜…

Kini, saya dihadapkan kenyataan bahwa hexagon city, mulai membuka diri. Ini sudah bukan lagi jalan sunyi. Apalagi proyek di hexagon city nyata mewakili banyak hati. In syaa Allah akan banyak manfaat yang bisa digali.

Maka, bismillah, sesuai dengan yang sudah ditulis pada postingan minggu lalu, saya berusaha mendukung hexagon city, mencakup like dan comment proyek dari teman-teman satu cluster, yang mana dalam pekan ini adalah CH1 dan CH2 kepenulisan. Saya pun menantang diri untuk share proyek buatan CH sendiri (Gerha Aksara) dengan disertai narasi, walau awalnya ingin hanya share saja dari teman se-CH tanpa membuat narasi hehe. Alhamdulillah, milestone kami akhirnya sampai pada tahap proofreading. Mohon doanya semoga diberikan kelancaran hingga buku ini terbit, dan bisa memberikan keberkahan. πŸ˜‡

Alhamdulillah… Gerha Aksara melaju
Dukungan untuk Cluster dan Hexagon City

Saya juga berencana mengikuti beberapa pelatihan di Hexalink, yang disesuaikan dengan ilmu yang saya perlukan di ranah keluarga, antara lain pemanfaatan google sheet untuk pencatatan keuangan, self care project dengan harapan saya bisa lebih mindful, dan kids baking club sebagai media membangun bonding dengan si kecil sekaligus upgrade kemampuan memasaknya ibu *uhuk🀣

Sejatinya di Hexagon city banyak godaan ilmu yang super menarik,jadi memang perlu ketegasan memilih prioritas, sebab kata ulama, ilmu itu yang bermanfaat, bukan sekedar yang dihafal. Jadi perlu bersungguh-sungguh meluangkan waktu, supaya ilmunya bukan untuk sekedar koleksi. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bisa mengikutinya dengan baik dan bisa bermanfaat. Aamiin. Nah, untuk yang penasaran tentang apa saja passion project terutama di cluster solutif, bisa intip Katalog Cluster ini.

Jika nantinya diperkenankan, saya berencana sharing insight dari pelatihan. Harapannya, semoga manfaat lebih meluas. Ini ibarat meniup bunga dandelion. Tak tahu di mana ia akan sampai, namun semoga itu menumbuhkan sebuah harap baru, agar para ibu berbahagia atas peran yang dilakoninya. Aamiin

#HexagonCity #KuliahBundaProduktif #Hexagonia #ZonaG #InstitutIbuProfesional

Growth Mindset Versus Fixed Mindset

Akhir sebuah ibadah itu adalah kematian, bukan kegagalan. -Ust. Nuzul Dzikri, dalam kajian Kitab Riyadush Shalihin

Materi dari bu Septi di zona Growth terasa sangat menyentil diri karena membahas growth mindset dan fixed mindset. Kenapa demikian? Karena selama ini saya lebih banyak hidup dengan fixed mindset wkwkw 🀣 Ketika ada kelas mengompos, pertanyaan yang saya ajukan adalah “bagaimana jika kompos saya gagal?” , padahal mencoba saja belum πŸ™ˆ Jawaban yang saya terima sungguh sangat bijaksana. “Jangan terlalu keras pada diri sendiri, mbak. Sudah mau mengompos saja, itu sudah bagus.”

Ah ya. Benar juga ya… Orang-orang dengan growth mindset tidak mudah menyerah saat menemui kegagalan. Sementara orang dengan fixed mindset selalu takut gagal sehingga malas mencoba dan senang berada pada zona nyaman.

Untuk memperbaiki mindset ini tentu perlu waktu dan latihan. Alhamdulilllah dulu, saat takut tidak bisa lulus kuliah karena merasa salah jurusan (fixed mindset banget kan), saya punya banyak teman yang memotivasi, juga bapak. Teringat nasihat Bapak tentang empat kuadran, supaya saat itu saya bergeser ke kuadran “MAMPU dan MAU”. Namun, seberapapun kuatnya motivasi dari luar, tetap saja motivasi terbaik itu perlu lahir dari dalam diri kita sendiri. Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk memperbaiki mindset adalah dengan belajar dari yang terbaik, yakni Rasulullah SAW.

Nabi kita yang mulia ini, adalah sosok dengan teladan growth mindset yang luar biasa. Bayangkan, seorang pribadi yang menjunjung tinggi kejujuran, harus mendengar kalimat “Dusta, engkau Muhammad!” pada kali pertama beliau menyampaikan risalah. Itupun datang dari pamannya sendiri. Belum lagi, saat berdakwah di Thaif , beliau mengalami penolakan yang menyakitkan hati. Apakah beliau menyerah?

Kita semua tentu tahu bahwa jawabannya adalah tidak. Beliau mengadukan kelemahan diri, tetapi bukan mengadukan kegagalan. Saat malaikat gunung menawarkan untuk meruntuhkan gunung hingga hancurlah Thaif, beliau justru menjawab tidak. Bahkan, beliau mendoakan agar kelak keturunan mereka mau memeluk islam. MasyaAllah, shalawat dan salam untuk beliau. Betapa luar biasa rasa cinta beliau pada umatnya.. :’) Tak ada fixed mindset yang membuat beliau berkata “Ya, hancurkan saja! Toh mereka takkan beriman.” Yang ada adalah doa dan harapan. Jika prinsip Growth Mindset adalah semua bisa tercapai dengan latihan dan kerja keras, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menambahkan doa di atas segalanya. Bukan tergantung mutlak pada ikhtiar kita, sebab tanpa seizinNya, kita sungguh takkan bisa.

Berangkat dari teladan terbaik itu, bismillah, kita berupaya untuk memperbaiki diri. Saat dirasa gagal, bukankah kita bisa istighfar? Kembali bangkit dan segera mencari solusi. Rehat tak mengapa, asal bukan berhenti dan menyerah selamanya.

Untuk personal growth, saya ingin memperbaiki sisi optimisme. Saat ada kendala, saya tak ingin menyerah, tapi berpikir apa yang bisa saya lakukan dengan kendala ini? Harapannya adalah tulisan terselesaikan sesuai deadline, dengan bahagia. Meskipun begitu abstrak, tapi memang itulah kebutuhan yang saya perlukan. Saya tidak ingin menulis hanya sekedar kejar setoran. Sesuai dengan project passion kami, happy writing, menulis dengan bahagia.

Sedangkan untuk Co Housing hingga Ibu Profesional, saya akan mencoba menyebarkan, karena keluar dari zona aman sebagai introver πŸ˜‚ Harapannya agar manfaat Ibu Profesional bisa lebih luas dirasakan para ibu di Indonesia. Bukankah menyenangkan jika setiap ibu berbahagia atas perannya? Bukankah menyenangkan jika setiap ibu tidak mengeluh atas tugas-tugasnya? Bukankah menyenangkan jika dengan demikian, lahirlah dari rahimnya, anak-anak yang tulus menghamba padaNya, karena sang ibu telah mengajarkan indahnya menjalani peran dengan sebaik-baiknya? Karena duhai ibu, betapa Rasulullah telah memuliakanmu dengan menyebutkanmu tiga kali sebelum ayah, bagi sebuah bakti. Maka, bismillah, pantaskan dirimu untuk itu… Mintalah pertolongan Allah, berbahagialah dan jangan lemah… karena surga ada di telapak kakimu.. :’)

Adapun perjalanan kami di Gerha Aksara, terangkum apik pada katalog ini. Bismillah semoga Allah mudahkan semua prosesnya πŸ™‚

#HexagonCity #Hexagonia #InstitutIbuProfesional #BundaProduktif #ZonaGrowth

Belajar “Unconditional Love” dari Sahabat Nabi

Siapa yang cintanya murni, maka gugurlah semua syarat

Beberapa hari ini dibuat melted melalui kisah para sahabat Nabi yang dipaparkan oleh Ustadz Nuzul Dzikri pada kajian Riyadush Shalihin bab Bersegera dalam Kebaikan. Terlihat betapa murni cinta para sahabat kepada Allah, hingga apapun keputusanNya, selalu disambut dengan bahagia dan keridhoan.

“Akan kuberikan bendera komando ini, kepada seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya. Dan Allah akan memberikan kemenangan melaluinya” Demikian tutur Rasulullah SAW pada perang Khaibar. Umar, sang khalifah kedua, menceritakan tentang bagaimana perasaannya kala itu. Beliau mengatakan bahwa ia tidak pernah menginginkan kepemimpinan, kecuali pada hari itu. Maka Umar pun berusaha menampakkan diri, agar beliaulah yang ditunjuk oleh Nabi. Namun rupanya, peran tersebut akhirnya diberikan kepada Ali.

Bagaimanakah perasaan Umar? Baper kah? Tidak. Beliau justru menunjukkan cintanya kepada Allah dan Rasulullah SAW dari sisi lain, yakni ridho terhadap keputusan tersebut, meskipun bukan beliau yang dipilih.

Siapa yang cintanya murni, maka gugurlah semua syarat, demikian tutur para ulama. Rupanya konsep unconditional love sudah tergambar apik pada pribadi para sahabat. Betapa murni cinta mereka kepada Allah, hingga tak ada lagi tuntutan. Tak ada paksaaan “Harus aku ya Allah!” “Harus begini ya Allah!”

Dalam riwayat lain pun Umar pernah menuturkan bahwa andaikan sabar dan syukur diibaratkan dua tunggangan, beliau tak peduli akan menaiki yang mana. Ah, dan kitapun paham, karena kedua tunggangan tersebut sama-sama bermuara pada ridho Allah. MasyaAllah… πŸ₯Ί

Seberapa dalam dan murnikah cinta kita padaNya?

Jika direfleksikan pada kehidupan, maka sejatinya ada banyak ujian bagi kita sebagai pecinta. Ada asa yang mungkin tak tergapai, ada rencana yang mungkin belum mewujud, ada hari yang berjalan tak mulus. Maka, bagaimana cara kita memandang itu semua? Adakah kita meyakini bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita?

Barangkali pernah kita rasakan jatuh bangun belajar keras, tetapi justru teman kita yang lebih cerdas? Adakah kita meyakini bahwa Allah-lah yang memberikan karunia, maka kita pun ridha meski bukan kita yang dipilihNya?

Ah, sungguh betapa aku masih perlu banyak belajar ketika diri masih sering kecewa saat hari tak berjalan sesuai to do list yang tertera.

Referensi : Kajian Riyadush Shalihin Ustadz Nuzul Dzikri Episode 267 (Kuberikan ‘Tuk Seorang Pecinta)

Pribadi Agile : Sebuah Output dari Adaptive Control

Permasalahan yang lebih banyak, biasanya akan membuat seseorang lebih matang dalam kehidupan.

Jika belajar kontrol adaptif dalam dunia elektronika, salah satu metodenya adalah gain scheduling, di mana kita memasukkan banyak parameter sehingga alat akan menghasilkan output kontrol tergantung parameter yang terbaca. Adapun parameter yang dimasukkan itu contohnya berupa konstanta-konstanta kontrol yang disesuaikan dengan kondisi pembebanan. Makin banyak parameter, makin handal alat tersebut. Dikaitkan dengan kehidupan, belakangan ini saya baru tahu mengenai sebuah pribadi yang agile, yaitu pribadi yang mampu beradaptasi, membuat respon terbaik terhadap berbagai situasi perubahan. Contohnya, pada kuliah bunda produktif, ketika di awal kami mengira perkuliahan ini dikerjakan secara individu, rupanya justru dirancang untuk tim. Kemudian, di zona agile ini kami ditantang untuk berkontribusi lebih luas lagi, tidak hanya di co housing tapi juga di cluster. Menghadapi perubahan seperti ini, sangat wajar jika di awal kita akan sedikit “berantakan”, namun selanjutnya, diharapkan kita bisa menyesuaikan ritme dan akhirnya menjadi pribadi yang agile.

Merangkum perjalanan selama di Bunda Produktif, kami membuat mastermind untuk mengetahui apa yang sudah berhasil kami lakukan dan apa yang ingin ditingkatkan. Alhamdulillah hingga fase ini, saya sudah menyelesaikan naskah bagian saya. Kunci suksesnya, setelah taufik dari Allah adalah konsisten sesuai jadwal. Adapun kegagalan yang sempat ada adalah ketidakfokusan saya karena ada banyak distraksi, dan dari sana saya belajar bagaimana cara memanajemen distraksi. Sampai saat ini, “tetap fokus” masih menjadi PR saya.

Bismillah semoga Allah mudahkan. Aamiin

Personal Agility
Peran ke cluster. Masih ambilnya jadi tim hore dulu 🀭
Co house agility

“All Out” pada Segenap Peran

Sudahkah kita menunaikan hak pada setiap hal dalam kehidupan kita?

Pada perang Uhud, Nabi kita yang mulia, memegang sebuah pedang, lantas menawarkan kepada para sahabat, siapa di antara mereka yang mau mengambil pedang tersebut. Segera saja semua sahabat menjawab “Saya.. Saya!”

Maka, selanjutnya Rasulullah SAW bertanya, siapa yang mau mengambil dengan haknya. Seketika semua terdiam. Hingga akhirnya, berkatalah Abu Dujanah bahwa beliau akan mengambil dengan haknya. Maka dengan pedang tersebut beliau membelah kepala orang-orang musyrik.

Hadits yang dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin ini memberikan banyak pelajaran, seperti yang diterangkan oleh Ust. Nuzul Dzikri. Antara lain, bagaimana Rasulullah SAW memberikan kesempatan secara adil dan merata. Kemudian, bersegeranya para sahabat dalam beramal. Kemudian, yang paling mengena dan menohok bagi saya adalah tentang bagaimana mengambil sebuah amanah atau peran. Para sahabat terdiam setelah Rasulullah SAW menanyakan siapa yang akan mengambil pedang tersebut dengan haknya, karena paham bahwa tugas itu tak mudah. Hak pedang bukanlah untuk disarungkan, melainkan untuk digunakan sebaik-baiknya. Sementara kadangkala kita sering tak berpikir panjang saat mengambil sebuah peran ataupun membeli barang, padahal setiap peran dan barang memiliki hak untuk ditunaikan.

Note to myself

Dalam upaya berminim sampah, seringkali kita diingatkan untuk membeli barang yang benar-benar kita perlukan, bukan yang diinginkan. Dalam konsep islam, hal ini perlu dipikirkan karena tiap barang ada hisabnya. Inipun bukan tentang daya beli, melainkan berapa banyak sumber daya alam yang dipakai untuk membuat barang tersebut. Jadi,pastikan barang tersebut bermanfaat. Dengan memikirkan “hak” tiap barang, kita pun bisa lebih bijak dalam membeli.

Adapun dalam peran dan amanah, kita perlu menimbang kemampuan dalam melaksanakan. Bila sudah mengambil, maka perlu all out, sungguh-sungguh dalam menjalankan. Ingin menikah, maka pastikan sungguh-sungguh memberikan hak suami. Ingin punya anak? Sudahkah yakin dan mau bersungguh-sungguh menunaikan hak anak? Ketika di posisi anak, sudahkah kita tunaikan hak orang tua? Maka, mintalah pertolongan pada Allah, saat kita mengambil peran maupun diberi peran. Setelah itu, berjuang dengan sungguh-sungguh. Bismillah, semoga Allah menolong kita agar mampu menunaikan setiap amanah dengan baik. Aamiin

Perempuan dan Pentingnya Sikap Syukur

Di antara nikmat yang hilang, hanya sedikit yang bisa kembali lagi. Maka syukurilah.

Suatu ketika, Rasulullah SAW bercerita bahwa beliau melihat sebagian besar penghuni neraka adalah wanita. Saat beliau ditanya mengapa demikian, jawabannya ternyata bukan karena kufur kepada Allah, melainkan karena kufur nikmat. Saat suaminya senantiasa berbuat baik, tetapi pada suatu waktu ada yang membuat sang wanita tak berkenan, ia akan berkata bahwa suami tersebut tidak pernah berbuat kebaikan sedikitpun.

Makjleb ya. Kita seringkali tak sadar akan hal itu. Pernikahan, adalah nikmat, di mana kehormatan istri terjaga. Kebaikan suami, sekecil apapun, itulah pemberian Allah yang patut disyukuri. Tak perlu membandingkan, karena seperti kata pepatah, comparison is the thief of joy. Mensyukuri sekecil apapun, karena dengan bersyukur justru akan Allah tambah, seperti firmanNya pada QS Ibrahim ayat 7. Adapun bila meremehkan, bukankah itu berpotensi akan dicabutnya nikmat tersebut? Cobalah untuk selalu mencari kebaikan-kebaikan yang ada. Fokus kepada cahaya, bukan kepada kegelapan.

Dalam hadits lain, Rasulullah pun menyampaikan agar wanita tidak meremehkan tetangganya meski pemberiannya hanya berupa kaki domba. Ya, tidak boleh meremehkan, karena semua pemberian hakikatnya berasal dari Allah. Bahkan bisa jadi pemberian yang kesannya remeh adalah hal terbaik yang dimiliki oleh si pemberi. Misalnya, kita menerima sebuah hadiah berupa baju, yang kita anggap remeh karena tak sesuai selera. Padahal, bisa jadi si pemberi perlu menabung selama 3 bulan demi bisa membelikan baju tersebut bagi kita. Sebaliknya, kita melihat sebuah pemberian terasa “wow”, karena mewahnya, tapi bisa jadi yang memberikan merasa biasa saja, atau bahkan yang diberikan merupakan standarnya yang terendah.

Hiks, apakah perempuan begitu lekat dengan sikap meremehkan pemberian? ;( kadang sering terpikir, sebelum corona datang, mungkin banyak nikmat yang kita rasa biasa. Ternyata semua sungguh luar biasa, yang jika kita hitung maka kita takkan dapat menghinggakannya. Semoga dengan mengetahui hadits ini, kita bisa terhindar dari sifat tersebut. Semoga Allah bimbing agar kita bisa senantiasa mensyukuri nikmatNya. Aamiin

Referensi : Kajian Wanita oleh Ust. Muhammad Nuzul Dzikri