Nikmat Termahal

Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu. Yakni nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari)

Manajemen waktu merupakan topik favorit para ibu, tentunya selain manajemen emosi, saat saya menimba ilmu di kelas buncek. Saya sendiri sepakat jika dua ilmu ini saling berkaitan, karena saat bisa memanajemen waktu dengan baik, emosi cenderung bisa mudah diatur. Sebaliknya, saat kita gagal mengelola perasaan, biasanya waktu kita pun habis untuk melakukan hal tak produktif. Saya mengalaminya, ketika terbajak oleh perasaan cemas berlebih, maka jadwal yang telah disusun biasanya akan terbengkalai.

Setelah melahirkan, hadits tentang nikmat waktu barulah sangat terasa. Ketika si bayi tidur, jangan terkecoh dan segera lakukan schedule-schedule prioritas karena bisa jadi beberapa menit kemudian bayi bangun lagi πŸ˜… Pun di awal-awal saat bayi sering begadang, jika perlu istirahat maka manfaatkan sebaik-baiknya. Saya sampai mengaktifkan pembatasan aktivitas screen time supaya tak terkecoh kelamaan scrolling medsos dibanding beristirahat.

Dalam surat Al ‘Ashr, Allah bersumpah demi waktu, bahwa sesungguhnya manusia itu rugi. Maka menjadi PR untuk kita, tentang bagaimana agar waktu kita berisi kemanfaatan. Caranya adalah menjadi bagian pengecualian yang telah disebutkan oleh Allah pada surat Al ‘Ashr, yakni orang-orang yang beriman dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Oleh karenanya kita bisa mengisi waktu dengan ilmu dan iman, amal soleh serta mensupport orang lain untuk berbuat benar dan sabar.

Kebenaran, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Kahfi 39 adalah sesuatu yang berasal dari Rabb. Ayat Al Qur’an dan hadits menjadi pedomannya. Adapun sabar terdiri dari 3 hal yakni sabar dalam taat, sabar menahan diri dari maksiat dan sabar menghadapi musibah.

Lalu bagaimanakah kiat menjaga waktu, terutama saat di masa ini, saat kita lebih banyak di rumah? Yang pertama adalah meminta pertolongan pada Allah. Kita berdoa agar dijauhkan dari rasa malas dan keburukan di hari tua. Kemudian, yakini bahwa setiap detik akan dihisab. Selanjutnya adalah pembagian waktu. Contohnya imam syafii membagi waktu malamnya untuk 3 hal : beribadah, menulis dan tidur. Untuk para ibu, bisa memakai kandang waktu berdasar waktu sholat, atau pemakaian metode pomodoro, disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Anak-anak pun bisa dilatih dengan membagi kegiatan berdasar waktu pagi, siang, sore dan malam. Terakhir adalah jangan ragu untuk mengeluarkan harta demi membeli waktu. Misalkan, jika kita ada uang untuk lewat jalan tol sehingga bisa sampai di kantor/rumah lebih cepat, maka manfaatkan. Atau jika ada dana, bisa delegasi tugas rumah tangga supaya bisa lebih banyak membersamai anak.

Semoga kita bisa memanfaatkan setiap detik waktu kita ya. Aamiin πŸ™‚

References : Kajian Surat Al ‘Ashr, Kiat-Kiat Menjaga Waktu

Seru dengan Buku di Rumah

Kumulai bosan, di rumah saja…

Hoho. Ada yang merasakan hal yang sama? Setelah adaptasi ke era new normal, saya mulai merasakan hal tersebut, tapi lebih tepat disebut bingung dibanding bosan. Bingung, mau relaksasi atau tahan dulu. Melihat kerumunan orang di luaran yang kadang tanpa masker, melihat banyak yang akan mudik, membuat saya merasa aneh pada diri sendiri karena seakan cuma diri sendiri yang menganggap si C masih ada πŸ˜… cuma diri sendiri yang tegang, cuma diri sendiri yang kurang piknik #eh.

Sedangkan anak, mulai suka ngintip teman-temannya di balik jendela, yang main di luar tanpa masker dan mulai bertanya “itu kenapa pada di luar ga pake masker ya?” Haha. Makinlah bingung jawab kan… Akhirnya saya mencoba menceritakan tentang kesabaran Rasulullah sekeluarga saat diboikot kaum Quraisy di Syi’ib Abu Thalib atau kesabaran Kaab bin Malik saat didiamkan penduduk madinah sebagai hukuman tak ikut perang Tabuk tanpa udzur syar’i. Namun saya mengizinkan untuk keluar rumah sekedar untuk menghirup udara segar. Hanya di sekitar halaman rumah, tidak terlalu jauh.

Meski demikian, tak dapat ditampik bahwa bosan kadang menyerang. Kadang kala saya juga mati gaya karena kehabisan ide bermain. Apalagi fokus saya masih banyak pada si bayi. Akhirnya, saya mencoba kembali untuk merancang kegiatan mingguan, tentunya dengan lebih fleksibel karena setelah si bocah menginjak usia 4 tahun, dia lebih banyak berkreasi sendiri. Kali ini kami mencoba berbagi kegiatan berdasarkan buku di rumah, karena buku bisa menjadi obat bagi kebosanan.

Setelah membaca buku kisah Nabi Ibrahim, kami bermain petak umpet kata “api”. Selanjutnya kami membuat tebak-tebakan warna api menggunakan plastik dan kertas. Melalui kegiatan ini, bisa meningkatkan kemampuan literasi, ketauhidan melalui kisah, membaca asyik, juga kreatifitas mewarnai.

Apa warna api?

Hari berikutnya, si kecil memilih buku IMC little scientist karya Elvina Lim tentang bulan. Kami akhirnya membuat gambar pemandangan bulan yang bisa berubah-ubah sesuai fasenya. Lewat kegiatan ini selain belajar sains juga mengasah jiwa seni.

Mengenal Fase Bulan

Nah untuk urusan ide kegiatan ini, biasanya kami belanja ide di instagram dengan hastag montessori activity. Atau favorit kami adalah IG the dad lab, walaupun biasanya kami lebih banyak gagalnya dalam bereksperimen πŸ˜… Pilih saja satu atau dua yang menarik, biasanya anak justru punya ide kreatifnya sendiri berdasar apa yang sudah dilihat. Kita juga bisa mengembangkannya sendiri. Misalnya saat mencoba membuat tangan yang bisa digerakkan dengan benang, kita bisa sisipkan kisah tentang mukjizat nabi Musa, yakni tangannya yang bisa bercahaya.

Membuat tangan yang bisa digerakkan dengan benang

Nah, selamat seseruan bareng anak ya! Selamat hari anak nasional πŸ™‚

Reframing

Pemuda itu, Ali bin Abi Thalib namanya, tampak keberatan saat diminta menjaga kota Madinah, sementara yang lain ikut berjuang menemani sang Nabi melawan Romawi. Sungguh di dalam hatinya ia sangat ingin menemani Rasulullah. Bagaimana mungkin ia harus melewatkan perjuangan kali ini?

Rasulullah SAW menghibur pemuda tersebut. “Sesungguhnya aku dan engkau, bagaikan Musa dan Harun, hanya saja tak ada nabi setelahku.” Ujarnya. Beliau mengingatkan tentang kisah Nabi Musa yang menitipkan bani Israil pada Nabi Harun saat Nabi Musa hendak menerima wahyu taurat dari Allah. Beliau meyakinkan Ali bahwa tugas menjaga kota Madinah bukanlah tugas remeh. Tugas yang sama pentingnya dengan maju ke medan juang. Maka, Ali pun akhirnya ridho.

Ah. Sungguh betapa keren cara Nabi berkomunikasi, cara Nabi memotivasi. Di lain kesempatan, ada seorang wanita Anshar, mewakili kaumnya menghadap Rasulullah. Ia menanyakan tentang kondisi mereka yang harus merawat anak hingga terbatas gerak, tak bisa maju ke medan juang, berjihad seperti halnya para lelaki. Ia bertanya bagaimanakah pahala yang mereka dapatkan. Bagaimanakah jawaban Rasulullah? Beliau mengatakan bahwa perlakuan baik terhadap suami dan ketundukan pada suami dalam ketaatan, bisa mengimbangi amal para suami tersebut. Wanita tersebut pun sangat bahagia dengan jawaban Rasulullah.

Sungguh, rasanya seringkali meleleh setiap menyimak kisah Nabi dalam memotivasi. Sebuah kisah yang bisa membantu kita untuk melihat dari sudut pandang berbeda, membingkai ulang pemahaman. Melihat sesuatu yang tampaknya negatif, melalui kacamata hikmah. Sebuah teknik yang bisa juga dikatakan sebagai helicopter view di mana kita meluaskan pandangan, hingga tak berpikiran sempit. Bagaikan helikopter di atas langit, ia mampu melihat apa yang terjadi di bawah. Kita bisa melihat sesuatu yang lebih positif dalam suatu kejadian. Dengan itu, hati pun menjadi lebih ridho, legowo, seperti Ali yang menerima tugasnya menjaga Madinah. Lalu, tentu saja, bagi para wanita, semestinya turut menjadi gembira mendengar kabar yang disampaikan Rasulullah tersebut pada wanita Anshar. Hanya saja -terutama saya- seringkali lupa, bahwa pada lelahnya mendidik anak dan menjaga rumah, terdapat pahala yang tak kalah megah dari berjuang di luar rumah dengan gagah.

Maka, saat hari terasa penat, saat semua terasa memojokkan diri hingga rasanya tak dapat bangkit lagi, cobalah untuk memandang sisi yang lain. Barangkali, kamu akan menemukan satu hal positif yang bisa menyejukkan hati… πŸ™‚

Masih Adakah yang Selanjutnya?

Apakah manusia memang menginginkan semuanya serba cepat?

Seperti dulu, saat kudapati para mahasiswa mengejar bis kampus. Pada kesempatan lain, diri ini nyaris remuk melawan orang-orang yang berdesakan menerobos masuk KRL sementara aku perlu turun. Pernah pula, kudengar seseorang mengumpat ketika KRL justru berangkat di saat dirinya baru saja sampai di peron. Ada pula berita metromini yang tergilas kereta akibat menerobos pintu palang yang tertutup.

Ah… apakah semua manusia benar-benar menginginkan semuanya serba cepat?

Apa yang mereka takutkan ketika membayangkan kesempatan-kesempatan itu lepas begitu saja? Tidakkah mereka berasumsi bahwa masih ada bis dan kereta selanjutnya?

Nyatanya, aku termasuk yang demikian. Aku, yang jarang sekali bisa bersikap santai.
***

“Kita nggak naik?” Tanyaku heran melihatmu tetap duduk tenang ketika orang-orang terlihat mulai bersiap menyerbu kereta.
“Belum terlambat kan kalau naik kereta selanjutnya? Ini terlalu penuh.”Ujarmu.
“Tapi…. bukankah lebih enak kalau cepat sampai?” Aku masih bersikeras.
Kamu menatap mataku. Mata yang mungkin selama ini hanya dipenuhi target demi target tanpa sempat menatap sekeliling.
“Aku hanya ingin lebih lama duduk di sini bersamamu. Kalau naik yang sekarang, bisa jadi kita malah terpencar.”Demikian jawabmu.

Aku jadi teringat kejadian saat ayah dan ibuku terpencar gara-gara ayah buru-buru naik KRL sehingga ibu ketinggalan. Ah. Lagi-lagi. Kamu selama ini sungguh telaten memberikan jeda untukku. Kadang aku merasa bersalah karena kurang meluangkan waktu dalam kehidupan pernikahan kami akibat target demi target

“Nggak masalah! Lebih cepat lebih baik.” Sergahku.

“Untuk apa? Kalau memang aku tahu bakal terlambat, aku akan bersegera naik kereta ini. Tapi karena aku tahu, bahwa kita nggak akan terlambat jika naik yang selanjutnya… maka aku lebih memilih menunggu.”

“Orang bilang waktu adalah emas tahu.”Ujarku kesal. “Mungkin karena itulah mereka suka sesuatu yang lebih cepat.” Lanjutku, sembari melemparkan tubuh ke kursi untuk menunggu lagi. Percuma berdiri. Kamu pasti benar-benar tidak akan mengantri kereta yang sebentar lagi tiba.

“Sepakat. Tapi, dalam beberapa hal, untuk apa cepat jika kita tidak menikmati perjalanannya? Untuk apa cepat jika membahayakan diri kita?”

Aku termenung, kali ini membiarkan kereta yang datang disambut ribuan manusia yang siap beradu kecepatan tanpa penyesalan. Masih ada yang selanjutnya.

“Maafkan aku yang kurang bisa santai.” Desahku. Ah, berapa kali aku merasakan cemas akibat target-target yang bahkan dipasang oleh orang lain? Umur sekian harusnya sudah menikah, umur sekian seharusnya sudah mapan, umur sekian seharusnya sudah S3, dan lain sebagainya.

“Hiduplah… seakan-akan kita hidup di dunia ini selamanya. Dan beribadahlah.. seakan-akan kita mati besok. Familiar dengan kalimat ini?” Tanyamu sambil tersenyum.

“Ya.. kenapa?”

“Karena seperti selamanya, maka untuk urusan dunia, aku akan santai. Bukan berarti tidak ada ambisi.. hanya, aku takkan terpaku pada target. Sedangkan ibadah, kita tak bisa santai. Kita mesti berlomba-lomba karena saat tiada lagi nyawa, tak ada kesempatan menambah amal untuk hari akhir nanti.” Kamu menatapku dalam-dalam.

Aku kembali terpaku. Sungguh.. apa yang sebenarnya selama ini kukejar?

“Baiklah. Itu KRLnya sudah datang. Ayo kita naik. Ah, tak terasa sudah waktunya LDM lagi ya.” Kamu tertawa. Meski demikian, aku menangkap ada sedikit getir di wajahmu.

***

“Sampai jumpa lagi. In syaa Allah” kamu melepasku memasuki peron keberangkatan. Mendadak mataku berkaca-kaca.

“In syaa Allah, aku akan mempertimbangkan tentang waktunya.” Ujarku, mengingatkanmu akan pembicaraan terakhir kita.

Kamu tersenyum, mengangguk.

“Aku menghargai semua keputusanmu”

***

Kereta membawaku kembali pada rutinitas kerja yang padat, jauh dari belahan jiwa. Namun sayup-sayup ada yang berbisik dalam dada.

“Mereka yang melepaskan sesuatu justru orang-orang yang yakin bahwa apa yang ia lepaskan itu akan kembali padanya.”

Ah. Entah mana yang akan menang. Egoku, atau keyakinan bahwa tak ada salahnya memutuskan jeda sejenak demi sebuah kebersamaan. Aku masih memikirkannya baik-baik. Sebuah kata yang aku yakin, banyak perempuan yang tak mudah untuk mengajukannya. Resign.

Terutama bagiku, perempuan yang belum begitu yakin bahwa sungguh masih ada bis, KRL, maupun kesempatan selanjutnya meski berkali-kali, lelakiku berusaha membuktikannya.

***

This entry was posted on Juni 25, 2020, in Cerpen :).

False Celebration

It’s okay to make a mistake as long as i learn from them -Ibu Profesional

Masuk ke komunitas Ibu Profesional membuat saya sering terpukau pada kejutan-kejutan maupun filosofi yang ada. Salah satunya adalah false celebration. Lho, kegagalan kok dirayakan?mungkin demikian yang pertama kali terlintas di pikiran. Rupanya di balik perayaan kegagalan ini ada pembelajaran dari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. Adanya false celebration juga membuat perasaan kita lebih lega dibandingkan merutuki kegagalan-seperti yang sering dilakukan pada umumnya- Kita juga menjadi lebih berani untuk menjalankan suatu rencana tanpa dibayang-bayangi rasa takut gagal. Jikalau gagal, maka kita bisa belajar dari kesalahan tersebut lantas mengubah strategi agar rencana kita bisa berjalan lebih baik.

Bisa dikatakan masuk komunitas ini seperti dibombong hatinya. Memberi feedback pun ada caranya, yakni memulai dengan kalimat positif. Adapun jika ada yang perlu dikoreksi, cantumkan setelah apresiasi.

Namun, memang benar dunia luar itu berbeda dengan dunia IP. Sejatinya sebelum masuk IP, saya jauh lebih sering bertemu “devil advocate” alias orang-orang yang suka to the point memberikan kritik tajam. Tentu saja itu juga baik, hanya saja karena saya orangnya baperan jadi malah lebih sering bikin mundur teratur πŸ˜… Padahal semestinya bisa lebih kebal ya.. karena para devil advocate sejatinya menyayangi kita, menginginkan kita untuk berubah menjadi lebih baik meski dengan cara yang berbeda. Bahkan kadangkala saya juga seringkali berperan sebagai devil advocate tanpa sadar πŸ˜…

Bagaimanapun, feedback nyelekit maupun positif, semuanya baik bagi kita. Dalam kehidupan kita akan menemui keduanya. Ada orang yang menghibur kita saat gagal, ada pula orang-orang yang langsung memberikan komentar menjatuhkan. Tak apa. Keep it going. Kalau lelah dengan kritik yang tak ada habis atas kegagalan-kegagalan kita, boleh sejenak ajak orang terdekat untuk merayakannya. Melihat dari sudut pandang berbeda untuk kemudian mengambil langkah perbaikan. Karena, seperti kata Einstein, jika mengharapkan hasil yang berbeda tapi dengan langkah yang sama, maka itu hanyalah suatu hal gila.

Desoldering You

Memaafkan kenangan buruk adalah memandangnya dari sudut yang berbeda dengan penuh kedamaian.

Aku terhenti. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang membuat rangkaian kehidupan ini tak berjalan sebagaimana mestinya, meski itu hanyalah opiniku. Sekedar harapan tentang bagaimana seharusnya rangkaian ini berjalan.

Aku memutuskan untuk menelusuri apa yang tak wajar. Satu kegiatan yang lazim disebut “troubleshooting” dalam bidang elektronika. Koreksi diri. Apa ada yang salah?

Kurunut dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian. Tanganku memainkan multimeter, satu demi satu bagian kuperiksa dengan teliti. Hingga akhirnya, kudapati bahwa penyebab rangkaian ini tak berjalan adalah kamu. Sebuah kenangan buruk. Ah ya, setiap orang tentu memilikinya bukan? Meskipun, sebenarnya kejadian yang kita anggap pahit itu bisa jadi ternyata baik untuk kita. Meski demikian, tak menutup kemungkinan bahwa kejadian itu menjelma menjadi kenangan yang barangkali membawa trauma maupun sulit untuk dimaafkan. Seringkali hal itu membuat takut melangkah ke babak yang baru, ataupun justru mengacaukan kehidupan karena munculnya respon yang tak wajar.

Kuambil atraktor, lantas melakukan desoldering, melepaskanmu dari bagian rangkaian. Lelehan timah panas menyengat tangan, membuat air mata jatuh tak tertahan. Namun, kegiatan itu tetap kulanjutkan.

Ctaak! Kamupun terlepas dari papan rangkaian. Aku menatapmu dalam-dalam. Ah. Sudah terlalu lama kubiarkan semua ini. Memberanikan diri membongkarnya ternyata tak seburuk itu. Yang perlu kulakukan adalah menggantinya dengan komponen baru. Tentu saja tetap komponen dengan jenis yang sama. Bagaimanapun kenangan takkan pernah lenyap dari ingatan. Yang menjadikannya baru hanyalah perasaan kita. Kita lebih damai jika suatu saat kembali terkenang. Apalagi jika kita telah menerimanya sebagai bagian takdir, kasih sayangNya dan barangkali justru dari kejadian tersebut, banyak hikmah dan kebaikan. Dengan demikian, kita telah maju, dari bermental korban menjadi bermental pejuang.

Ya! Kita pantas menjadi pejuang, yang berani mengenang, menerima dan menjadikan kejadian buruk sebagai pelajaran.

Aku tersenyum puas setelah menjalani proses desoldering ini. Rangkaian elektronika itu kini berfungsi kembali. Bagaimana dengan milikmu?

Memeluk Amarah

Marah itu wajar kok. Yang nggak boleh itu.. marah-marah.

“Ah, kamu sih nggak mungkin marah ya.” Rata-rata begitulah yang dikatakan teman kepada saya, yang tampangnya berasa lemah lembut. Eh, really? Saya malah baru sadar setelah mengambil topik manajemen emosi di kelas buncek, bahwa saya sering marah, tapi dipendam. Seringkali pendam memendam ini justru menimbulkan banyak masalah karena sejatinya emosi itu perlu dialirkan dan diakui. Yang tidak boleh adalah pelampiasan yang merugikan orang lain dan berlebihan. Hari ini saya diingatkan lagi untuk belajar tentang marah, lewat IG live @temanlahiran bersama mba Beta Arriza. Kebetulan banget pas anak tidur jadi bisa mendengarkan. Saya coba tuliskan ulang, supaya saat lupa bisa me-recall pengetahuan ini.

Marah, seringkali diartikan sebagai sesuatu yang tak baik. Padahal dia hadir untuk memberi tahu apa yang penting bagi kita. Marah merupakan salah satu emosi dasar. Meski ia juga bisa muncul sebagai emosi sekunder. Misalkan kita merasa sedih karena diabaikan pasangan, tetapi yang keluar justru marah. Di sini marah menjadi emosi sekunder.

Kenapa kita marah? Bisa jadi karena saat kecil, kita terbiasa mendapatkan sesuatu karena marah alias tantrum. Memori ini tertanam kuat hingga akhirnya saat dewasa kita pun terbiasa marah agar bisa mendapat sesuatu. Marah juga menimbulkan ilusi bahwa kita seakan berdaya, memiliki power alias berkuasa jika kita melakukannya. Lalu mengapa kita juga sering memendamnya? Karena mindset kita terbiasa disuapi untuk jangan marah, jangan menangis. Mungkin itu sebabnya saya juga merasa aneh, seperti sangat bersalah ketika marah ataupun menangis. Karena kedua emosi tersebut seakan tabu untuk dibicarakan. Padahal menangis merupakan salah satu cara mengalirkan emosi. Marah pun juga hal yang wajar.

Ketika marah dipendam, bukankah kadang ia justru meledak di waktu yang lain? Maka, penting bagi kita untuk sadar saat kita marah, tahu apa penyebabnya. Setelah menikah dan jadi ibu, saya sering mencatat apa trigger saat marah. Salah satu contohnya, saya sering marah saat suami pulang terlambat. Setelah ditelusuri, rupanya ini datang dari pengalaman masa lalu saat sering ditinggal di rumah sendirian. Perasaan sedih, ingin ditemani, dan insecure dari masa lalu yang tak tersalurkan berubah menjadi amarah di masa kini. Ajaibnya, setelah sadar dan mengakui apa yang menjadi trigger, saya jadi lebih bisa berdamai dengan keadaan, tahu respon apa yang sebaiknya diberikan saat suami pulang terlambat. Jadi, kenali trigger mengapa kita marah itu penting banget.

Jadi, apa penyebab kita marah? Inner child? Kebutuhan dasar yang tak terpenuhi? Ekspektasi yang terlalu tinggi? Setelah tahu apa penyebabnya, kita bisa memilih respon yang tepat. Mba Beta memberi contoh, kadang kita marah ketika anak mandi lama. Itu karena kita berekspektasi harusnya kan mandi cuma lima menit.. kita bisa ganti “yang penting anak mandi”

Bagaimana kalau terlanjur marah pada anak? Meminta maaf dan menjelaskan mengapa tadi marah. Jelaskan tentang perbuatan anak yang salah (bukan pribadinya), dan yakinkan kalau kita tetap menerima dan mencintai meski ia salah. Karena anak sejatinya hanya ingin diterima dan dicintai (ini bener bangeet πŸ₯ΊπŸ₯Ί) Menjadi PR bagi saya untuk terus memeluk amarah anak. Menerima emosinya, berempati sambil terus mengingatkan.. “marah itu wajar, yang nggak boleh itu marah-marah, menyakiti, merugikan orang lain” Gampang? Enggak πŸ˜‚ Meski nggak gampang, tapi bisa. Kuncinya sabar dan mindfull. Memang benar cara paling cepet itu bilang “jangan marah.” “Jangan nangis” sambil pasang tampang seram. Cara yang terkesan lambat justru memeluk, mengakui, tapi cara lambat inilah yang sebenarnya jadi lebih efektif buat mengatasi amarahnya.

Selamat memeluk amarah. Ia sejatinya hadir untuk memberi tahu kita apa yang paling penting. Kita marah saat anak tak mau makan, karena kita ingin anak sehat. Kita ingin melindunginya…

Bumi dan Pandemi

Pelajaran lain yang bisa diambil dari kejadian pandemi ini adalah tentang merawat bumi. Semenjak diberlakukannya social distancing dan PSBB, orang mulai jarang keluar rumah. Akibatnya, langit terlihat lebih cerah akibat berkurangnya polusi udara.

Orang-orang mulai lebih banyak memasak sendiri. Bahkan banyak yang memanfaatkan waktu di rumah saja untuk berkebun. Dulu, saya pernah diingatkan bahwa kelak bumi akan mengalami krisis pangan, air dan energi. Nah di antara tiga ini, mau kontribusi di bagian mana? Rupanya, rumah tangga bisa menjadi permulaan dalam mengatasi ketiganya. Di rumah, kita bisa mulai menanam sendiri, membuat sumur resapan untuk menampung air hujan, dan nantinya memproduksi listrik mandiri menggunakan energi matahari. Saya sendiri sedang mencoba untuk regrow daun bawang. Kemarin mencoba menanam pokcoy tetapi habis dimakan kucing. Tanaman-tanaman hasil buang biji pun nggak numbuh, mungkin karena banyak eek kucing di halaman yang berpengaruh ke kualitas tanah πŸ˜…

Para pejuang zero waste pun kian gencar mengampanyekan pemakaian komposter, maupun pembuatan eco enzyme. Akun yang bisa diikuti untuk mulai belajar minim sampah antara lain @sustaination, @plastavfallbank, @waste4change, dan @dkwardhani.

Namun, tak bisa dipungkiri, akibat pandemi, ada juga kesusahan-kesusahan untuk bumi karena jauh lebih banyak barang yang harus dibeli secara online juga adanya pergeseran dari dine in menjadi take away membuat kita tak bisa terhindar dari plastik. Belum lagi kewaspadaan terhadap virus corona membuat plastik-plastik ini seringkali harus langsung dibuang. Beberapa pengolah sampah sempat berhenti dalam menerima sampah-sampah ini. Namun, alhamdulillah penerimaan mulai dibuka kembali dengan syarat sampah sudah harus dicuci bersih terlebih dahulu. Memang agak ribet, namun bisa dilakukan.

Yang mau sedekah sampah terpilah bisa ke sini

Melalui pandemi kita jadi terbiasa masak sendiri, jarang bepergian jika tak perlu, mulai belajar menanam/beternak, mengompos, dan ketrampilan lain dalam upaya menjaga bumi. Mudah-mudahan insight ini tetap bertahan meski tak ada lagi pandemi ya πŸ™‚

Pandemi dan Kontribusinya Terhadap Masa Awal Pasca Persalinan

Ternyata ada banyak hal yang bisa dilakukan meski di rumah saja.

Pada saat saya menulis mind map untuk kelas bunda cekatan, salah satu tujuan saya dalam pengelolaan emosi adalah terhindar dari baby blues dan post power syndrom.

Pada saat saya menjalani masa kehamilan, tak jarang ada pertanyaan “setelah ini mau ngapain?” , yang kadang diperparah dengan kesempatan-kesempatan yang bikin kepengen seperti kuliah di LN, kesempatan menambah ilmu di LN, yang tentunya jelas ditunda setelah nanti anak lahir. Belum lagi, tahun 2020 suami hendak menjalani training di Jepang, dan rencananya saya akan pulang kampung hingga suami kembali ke Indonesia. Saat itu, bayangan saya hanyalah suram, karena ada banyak unfinished business saya di lingkungan kampung yang jelas akan berdampak pada kestabilan emosi. Belum lagi jika pulang kampung, si bocah kehilangan komunitas homeschoolingnya. Berkaca dari kesuraman yang saya bayangkan tersebut, topik manajemen emosi pun saya pilih demi mempersiapkan hati menghadapi kesemuanya.

Tak disangka… corona mengubah segalanya. Bisa dibilang salah satu hikmahnya adalah Allah seakan membuka mata saya bahwa ternyata ada banyak yang bisa dilakukan meski di rumah saja. Saya jadi merasa banyak temannya πŸ˜… Post power syndrom, yakni sindrom masa pensiun, yang juga bisa dialami oleh ibu-ibu yang memutuskan resign not by design, sama sekali tidak menyerang. Lha iya.. semua kan di rumah aja jadinya… Dari sini, kita bisa belajar bahwa berkarya pun bisa dilakukan meski di rumah. PR selanjutnya adalah mengenali diri sendiri sehingga bisa memilih akan berkontribusi di bidang apa. Kunci yang perlu dipegang adalah fleksibilitas karena bayi masih menjadi prioritas.

Baby blues pun ternyata bisa dihindari berkat pandemi. Tidak ada tamu menjenguk yang mungkin tanpa sengaja bisa melontarkan pertanyaan yang membuat kita baper. Walaupun sebelum persalinan saya pun sudah belajar tentang penerimaan dan fokus pada apa yang bisa kita kontrol dibanding baper terhadap ucapan orang (yang tak bisa kita kontrol), bisa dibilang kondisi pandemi berkontribusi cukup banyak untuk menghindari hal ini. Salah satu tips yang saya dapatkan dari workshop persalinan yang diselenggarakan oleh @temanlahiran (narasumber mba Beta arriza ,MPsi) adalah bertanya pada ahlinya jika yang membuat baper berupa pernyataan-pernyataan yang membuat kita ragu seperti ASI sedikit, komentar tentang bayi dkk.

Peran suami dalam melalui masa-masa awal pasca kelahiran pun sangat diperlukan. Kita bisa mendiskusikan tentang pembagian tugas, misalkan ibu fokus di bayi dan ayah fokus ganti popok atau memasak. Menurunkan standar kebersihan rumah juga bisa dilakukan demi menjaga kewarasan. Meski memang agak repot karena tiada bantuan sanak saudara, kami masih berusaha untuk bisa beradaptasi menjalani hal ini. πŸ™‚

Tapi buat saya, entah mengapa jauh lebih nyaman begini dibanding dapat bantuan tapi capek hati menerima komentar πŸ˜…Alhamdulillah, ada hikmah di balik cobaan wabah. Namun demikian, besar sekali harapan agar wabah segera berlalu. Dan saat nanti wabah berakhir, semoga kita bisa lebih bijak dan mengambil banyak ibrah darinya.

Ramadhan Tahun Ini

Detik demi detik berlalu. Malam itu orang-orang kembali sibuk berburu. Semua berharap bisa mendapatkan pahala yang nilainya 1000 bulan. Sementara itu, pada satu bagian sisi Jawa Barat, seseorang menangis sembari memegang surat kematian orang yang dikasihinya. Di sisi Jawa Barat lain, seseorang menitikkan air mata, terharu melihat sesosok makhluk mungil berhasil selamat menatap dunia.

Kadang, kehilangan yang tiba-tiba, membuat kita merasa segalanya berjalan seperti mimpi. Kabar duka tersebut bahkan disusul dengan kabar duka serupa yang tak pernah terduga. Kali ini kematian seorang kakak kelas akibat kecelakaan kerja. Maka, pada Ramadhan ini, aku menyaksikan seorang sahabat berduka, seorang kakak kelas tiada dan seorang bayi lahir ke dunia.

“Kamu menangis? Kenapa?” tanya suami ketika ia melihat butiran bening mulai mengalir dari sudut-sudut mata.

“Karena.. suami Umi meninggal.” Jawab lidahku kelu. Allah tampaknya memilih sahabatku itu untuk naik kelas, menjadi lebih kuat. Suaminya yang dikenal baik, juga berpulang di bulan terbaik. Namun bagaimanapun, kesedihan adalah satu hal yang begitu manusiawi untuk dirasakan. Ya Allah, kuatkanlah Umi..

“Iya, ga apa-apa.” Jawab suami pendek, membiarkanku menangis, satu hal kontras karena biasanya ia lebih suka melarangku untuk cengeng.

“… Dan aku masih hidup, hari ini.” Lanjutku. Bisa saja Allah mengambil nyawaku saat tengah bersalin. Suami menghentikan aktivitasnya bermain HP, lalu menatapku.

“Berhenti bicara seperti ini. Kamu nggak kasihan sama si bayi kalau kamu nggak ada?” Katanya. Ah, bicara tentang perpisahan dunia memang menyesakkan. Padahal itu adalah sebuah kepastian. Betapa kami tak pernah memiliki apapun, semua hanya titipan.

“Bukan. Aku bukan hendak bicara tentang mati dan tidak mati. Hanya saja… ketika mendengar berita kematian dan aku masih hidup, rasanya seperti diberi kesempatan sehari untuk memperbaiki. Kita, yang belum dijemput pulang ini, mungkin karena masih banyak cacat amal, masih diberi kesempatan bertaubat.. lantas apa masih pantas jika berbuat yang sia-sia..” Ujarku.

Ramadhan tahun ini, rasanya masih begitu sedikit yang kuperjuangkan untuk akhirat. Bulan baik ini, akan berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Berapa Ramadhan lagi, berapa berita duka lagi yang harus melintas kembali jika kali ini masih tak mau berubah? 😦