Tentang Kesempatan : Sebuah Aliran Rasa

Membiarkan pergi adalah sama seperti kita berdiri di halte, lantas setelah ditunggu lama, sebuah bus mendekat, penumpang naik, bus beranjak jalan, menjauh, dan kita tetap berdiri di halte tersebut. Menatapnya dengan segenap perasaan. Membiarkan pergi adalah salah satu cabang perasaan sejati. Seberapa lama pun kita telah menunggu bus itu, seberapa penting urusan kita, namun kita, membiarkan pergi dengan ikhlas, karena boleh jadi itu keputusan terbaik

–Tere Liye-

Sudah sebulan sejak keputusan untuk membiarkan pergi sebuah kesempatan yang lama dicitakan : menjadi dosen sttn. Kadang aku merasa lemah, karena tidak mencoba memperjuangkannya seperti yang seharusnya jika kita menginginkan sesuatu. Tetapi, entahlah, saat melepaskannya, aku hanya merasa : ini yang terbaik untuk saat ini. Mungkin akan banyak yang tidak paham. Mungkin salahku yang tidak menjabarkan panjang lebar apa alasan di balik semua ini, hanya berdalih persyaratan administrasi yang tidak cukup : belum ada toefl dan legalisir ijazah S2 – yang sejatinya mungkin memang masih bisa ditolerir- tapi, sudahlah. Biarlah blog ini yang menjadi aliran rasa, setelah istikharah dan musyawarah kemarin itu.

Saat menatap si bocah kecil, saat mengingat suami belum bisa LDM, saat merasa mental belum siap, terkadang memaksakan untuk “menggenggam” kesempatan hanya akan menyakiti diri sendiri. Bahkan sekedar mencoba peruntungan mengirim berkas pun tidak kulakukan, agar benar-benar tidak ada sesal dan keraguan lagi.

“Rezeki itu pasti, kemuliaan-lah yang harus dicari”. Itu adalah motto komunitas Ibu Professional, di mana saat ini aku tengah menjalani matrikulasi-nya. Materi malam ini terasa “sangat Nina”, sehingga malam-malam mengetik tulisan ini untuk mengalirkan rasa yang ada.

Aku sangat kaguum pada mereka yang mendedikasikan diri sebagai ibu rumah tangga (professional), melepas ego untuk keluar rumah, karena menurutku kadang rasanya beraat sekali. Komunitas Ibu Professional sudah kukenal sebelum menikah, tapi, baru sebatas baca-baca artikel, kagum sangat dengan Bu Septi Peni, foundernya, yang rela membersamai anak-anaknya. Malam ini, kedatangan tamu bu septi di grup matrikulasi whatsapp semakin buat ‘mbrebes mili’, terharu mendengar cerita perjalanannya.

Ada yang bertanya begini : “Kapan Ibu memutuskan bahwa anak-anak sudah siap untuk ibunya berbagi peran dengan masyarakat?”

Jawaban Bu Septi “ Ketika kebutuhan secara kasih sayang secara psikisnya terpenuhi. Contoh ketika si sulung, saya tinggal sebentar masih menangis, artinya dia belum siap, maka saya harus full menemani si sulung dulu, sampai mentalnya siap. Saat kami berpergian bertiga terus, sampai si bungsu selalu ikut ke mana-mana kami pergi, ternyata kesiapan mentalnya jauh lebih matang dibandingkan kakaknya. Maka masing-masing anak berbeda. Yang pasti, selama anak-anak usia 0-12 tahun, anak-anak harus di samping saya, ke manapun saya pergi. Itu perjanjian antara saya dan pak dodik”

Huaa, terharu >,< gegara materi malam ini, semakin yakin bahwa melepaskan kesempatan dosen tersebut adalah keputusan terbaik. Bukankah “pengen bisa bekerja di rumah, tapi bukan jualan” adalah cita-citaku yang baru semenjak menjadi ibu? Lalu, kenapa ketika cita-cita lama datang, sempat merasa huee sekali? Ah ya, namanya juga pernah ingin…

Gegara malam ini, akhirnya menguatkan lagi motivasi, niat, catatan untuk diri, bahwa produktif bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan amanah darinya.

Allah sudah memberikan jalannya. Memang belum menjadi dosen, tapi tetap bermanfaat, bisa dikerjakan di rumah, malam-malam setelah si bocah tidur, untuk ketemu laporan progress bisa dilakukan seminggu sekali, bahkan boleh bawa si bocah kalau memang lagi nggak ada yang njagain 😆 dan yang pasti… bukan jualan! Soal jualan ini, karena dulu pernah nyoba, dan ngerasa bukan passion, jadinya belum ingin (entah besok-besok) menjadikannya sebagai jalan untuk produktif. Menulis, adalah salah satu yang ingin ditekuni, tapi masih pending dulu, sekarang amanahnya masih di masalah coding-pengcodingan. Semoga yang sedikit ini berkah, dan jika ditekuni bisa menjadi ahli.

Semoga benar, bahwa berkarya, membesarkan anak, bisa dilakukan dengan harmoni, tanpa ada yang perlu dikorbankan. Syarat menjadi produktif adalah : kuatkan dulu di dalam, beres dulu urusan rumah tangga, baru keluar! Kalau kasusku, karena sudah terlanjur kuliah ketika hamil, yaaa terpaksa jalan bareng keduanya hahaha. Cuma, sudah sepakat dengan suami, keluarga nomor satu, yang lain nomor sekian. Makanya, ngerjain apa-apa selalu bisanya malam.  Tapi, sibuk itu nikmat, karena bonus waktu jadi terasa. Seperti bisa nulis ini 😅akhirnya setelah sekian lama blog tak terisi.

Dan, tambahan, ternyata, kakak kelasku berhasil lolos menjadi dosen sttn. Guess what? Mbak-nya pas banget sedang di Indonesia ketika seleksi tersebut, jadi sekalian ikut. Then, I realize, bahwa “bus sttn” yang datang saat ini adalah untukmu, Mbak…Selamat menaiki, selamat berkarya 😁

Kukusan, 7 Maret 2017

My little electrical engineer 😀

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s