Tertukar

“Selama ini ternyata kita seringkali tertukar.” Begitu katamu, pada suatu hari sepulang dari kajian pagi di masjid sebelah rumah.

“Maksudmu?”

“Nasihat untuk kita, diacuhkan jauh-jauh. Nasihat untuk orang lain, disimak baik-baik, disampaikan dengan menggebu. Maafkan aku ya.” Katamu. “Aku akan berusaha menjadi Siti Syarah.” Lanjutnya tersenyum.

Kali ini aku yang tertegun, mendadak justru diliputi rasa bersalah, mengenang pertengkaran-pertengkaran kecil yang kadang terjadi.

“Aku juga akan menutup jendela medsos rapat-rapat, untuk membersihkan hati. Mungkin selama ini aku bisa untuk tidak pamer, tapi bisa saja benar ada iri yang diam-diam sembunyi dalam hati.” Desahmu.

Seketika, aku membayangkan tentang bayi-bayi lucu yang biasa diunggah teman-temanmu. Atau cerita-cerita romantis tentang perlakuan suami yang begitu baik. Atau yang lain. Yang sering kukomentari sebagai hal-hal yang sebenarnya tidak patut di posting. Biasanya, kamu akan membela.

“Mungkin itu cara mereka memberi kabar kepada keluarga.”

“Mungkin itu cara mereka berbagi kebahagiaan. Jika kita punya cara yang berbeda, tetap hargai cara orang lain..”

Sejak saat itu, aku berhenti mengomentari tentang postingan teman-temanmu.

“Mungkin memang sudah kebiasaan manusia yah, mencari hal-hal yang serupa untuk membela apa yang selama ini kita mau. Makanya, begitu dapat nasihat untuk orang lain yang pas untuk kepentingan kita, kita semangat sekali melemparnya. Seperti yang kulakukan selama ini. Misalnya, kalau ada cerita tentang Rasulullah yang membantu pekerjaan istrinya, pasti aku menuntutmu seperti itu. Kan jadi nggak pas. Harusnya, aku lebih merefleksikan diri meniru Fatimah, yang saat lelah bekerja, memilih bertasbih, sesuai nasihat Rasulullah saat putrinya itu meminta pembantu… Lalu, tentang poligami….”

Kalimatmu mendadak terhenti. Aku tahu, ada yang berat di hatimu. Aku tahu, ada pedih di hatimu. Tentang anak. Tentang buah hati yang belum jua ia karuniakan. Tentang kesalahanku saat bercerita tentang Siti Syarah dan Hajar.

“Kamu benar. Kita seringkali tertukar. Maafkan mas juga ya, Mas yang akan meneladani Nabi Zakaria. Bersabar, setia, hingga Allah karuniakan Yahya… Kamu benar, nasihat untuk diri, seringkali tak terlihat. Nasihat untuk orang lain, kita lempar penuh semangat. Terima kasih sudah diingatkan ya Dik!”
Kamu tersenyum. Manis sekali. Ah, untuk apa berpikir mendua?

 

 

Kukusan, 31 Maret 2017

Efek setelah nonton SYTD  dan terngiang-ngiang soundtracknya melulu -_-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s